"Manusia kadang sering lupa, bahwa mereka bertanggungjawab selamanya atas apa yang telah mereka jinakkan."
—Antoine de Saint Exupéry
๑۩๑๑۩๑๑۩๑
Suara bel apartemennya membuat Hinata terbangun dari tidur siang. Beberapa jam yang lalu Nero pulang dari tempatnya, setelah pria itu mengantar sebuah roti isi yang amat lezat.
Dia yakin yang ada di depannya bukan Nero, sementara pria itu membawa kunci duplikat rumahnya. Karena hubungan mereka jauh lebih dekat selama sebulan berteman, Hinata sendiri tak masalah bahwa pria itu keluar-masuk apartemennya dengan bebas.
Seusai mengintip dari lubang pintu, Hinata melihat Neji Hyuuga yang memandang ke sekeliling penuh waswas. Dan saat pria itu menyadari telah diintip oleh adik angkatnya, dia segera mengangkat ibu jarinya sambil berkata, "Aman!"
Gadis itu mendorong pintunya secara perlahan, lalu mempersilakan Neji untuk masuk ke dalam dengan menenteng tas hitam kerjanya, tetapi ketika Neji berhasil masuk, tiba-tiba adiknya ingin merampas tas kerja tersebut, sementara Neji dengan sigap memeluk sangat erat.
"Mengapa kau memeluknya seperti itu?"
"Aku harus tahu alasannya," Hinata memutar bola matanya bosan. Kakaknya sudah bertanya hal itu hampir ke sepuluh kalinya. "Jika yang aku tanyakan tidak membuatmu nyaman, sama halnya denganku dengan jawaban yang kau berikan, tidak membuatku nyaman, Hina!"
"Masalah pribadi... maksudnya, apa dengan alasan aku hanya ingin tahu tidak membuat dirimu puas, Neji?" Neji mendengkus sembari menggeleng kesal, dan ia tetap kukuh memeluk tas hitam kerjanya. "Ayolah, berikan itu padaku. Aku sudah menunggumu sejak 2 bulan yang lalu. Kau mau buat adik kesayanganmu ini mati penasaran?"
"Tapi aku yakin, kau tidak akan mendapatkan apa-apa dari ini!" Neji memperingatkan, walau dia tidak serius untuk tidak menyerahkan apa yang sudah dia dapatkan sejak sebulan yang lalu—yah, karena masalah dengan pergulatan batinnya, ia tak kunjung menyerahkan apa yang diminta sang adik, dan terus menyimpannya sampai hatinya menyerah.
Masih dengan melotot ke arahnya, Neji kembali membicarakan perbuatan adiknya dengan sangat tenang agar adiknya paham satu hal, bahwa dia benar-benar sangat khawatir. "Semua yang ada di dalam sini, sesuai dengan apa yang dikatakan oleh keluarga kita, bahkan penjelasan dariku beberapa tahun yang lalu. Apakah kau tidak ingat, kita berjanji untuk mengakhiri sebuah misi gila yang menyangkut nyawa kita. Daripada mengkhawatirkan betapa mengerikan keluarga mereka, perlu kau tahu, bahwa Ayah jauh lebih mengerikan ketika dia tahu hal ini."
"Kau tenang saja, aku sudah tahu risikonya, maka dari itu aku memilih kabur dari mereka—pergi, dan hanya kau yang aku percaya untuk bisa datang ke sini. Jadi, berikan apa yang kau bawa itu padaku, se-ka-rang!"
Neji menjerit frustrasi, tetapi masih tidak segera menyerahkan apa yang dia peluk pada adiknya. "Ayolah adik manisku," serunya. "Aku tahu kau pasti tidak akan mengaku jika aku membantumu dalam masalah ini pada Ayah. Tetapi mereka tetap mencurigai aku, karena selalu tunduk padamu dan tidak bisa menolak permintaanmu. Sebulan lagi, ada pertandingan golf melawan Ayah—"
"Lalu urusannya denganku? Bukankah kau yang sedang bermain golf dengannya?"
Hinata masih tidak paham, jika ayahnya tidak segan-segan memukul kakaknya dengan tongkat golf, jika sampai tahu kejadian ini. "Dengar Neji, jika kau memang tidak berniat menyerahkan itu sejak awal, mengapa kau sekarang ada di sini? Baiklah, kau takut pada Ayah, tapi ketika kau ada di sini sekarang, tidakkah kau takut padaku?"
"Beberapa hari ini aku mimpi buruk karena masalah ini!" Hinata mengangguk sembari tersenyum—itu sama sekali tidak terlihat tulus, sedangkan Neji kukuh merengek sambil mengingat terakhir kali mimpi buruk, di mana adiknya mendatangi dirinya dan menghunuskan sebuah kapak ke arah lehernya. "Oh gila, bagaimana bisa seorang kakak dibunuh oleh adiknya sendiri."

YOU ARE READING
E N O R M O U S ✔
De TodoKeluarga kaya raya kehilangan putra mereka dalam perjalanan keliling Eropa. Sementara ada dua pria Jepang yang mengadopsi anak laki-laki dan menjadikannya sebagai pembunuh bayaran andal. Tepat dua puluh tahun kemudian, anak laki-laki itu mulai menge...