"Hidup itu seperti sekotak granat tangan, kau tidak pernah tahu apa yang akan meledakan dirimu di dunia."
—Mario Puzo
๑۩๑๑۩๑๑۩๑
Kalian pikir apa yang akan dilakukan dua anak muda berada di apartemen kosong tidak ada siapa pun kecuali mereka? Semua anak muda, remaja, atau pasangan kekasih akan melalui malam yang tak terlupakan.
Namun untuk malam ini, mereka melewatkan malam dengan menghabiskan ramen instan berkali-kali, ditambah Nata memikirkan ketakutan bahwa segerombolan orang di rumahnya membanjiri tempat tinggalnya, belum lagi gadis itu betul-betul ingat terakhir kali meninggalkan Neji dengan marah-marah.
Dalam beberapa meter telah jauh dari tempat tinggalnya, sang kakak masih terdengar berteriak lantang, menyumpahi dia, dan membeberkan apa yang sedang terjadi pada ayahnya.
Sebenarnya Nata tidak sedang merasa menyesal telah lari ke sini tanpa pikir panjang, karena pada waktu itu, Nata berusaha menebak apa yang akan terjadi pada Nero jika dia tidak menemukan lelaki itu siang itu juga, bukan menebak tentang kemarahan ayahnya jika Neji membeberkan kehidupan sang adik kepada Ayah mereka.
Sesampainya di apartemen Nero, Nata terbilang cukup beruntung ketika ia mengetahui tanggal, bulan, dan tahun lahir lelaki itu, sebab karena hal itu, ia bisa tahu kode apartemen Nero.
"Tempat tinggalmu cukup bersih, rapi, dan wangi," ia tidak pernah percaya bahwa anak laki-laki bisa serapi ini dalam menata apartemen mereka, Nata tidak bisa berhenti kagum. "Kau pernah bilang jika apartemenmu agak sedikit jorok, itu tidak benar."
"Tetapi kali ini benar-benar terlihat jorok," tisu-tisu bekas noda darah, dengan beberapa air yang terlalu becek di atas lantai kayunya, atau jaket serta mantel kotor berserakan. Nero menghela napas lelah menemukan beberapa sudut apartemennya kacau tidak seperti biasanya. "Aku tidak memiliki tenaga untuk membersihkan kekacauan ini." Katanya.
"Kau jangan khawatir," ujar Nata, "Aku bisa membantu untuk membersihkan semua ini," lelaki itu menoleh. "Pergilah mandi, agar kau tenang. Kau tidak mungkin sepanjang hari berpenampilan seperti ini. Mandi pagi buta kurasa itu bagus-bagus saja."
"Apa kau tidak pulang ke apartemenmu?"
Nata menggeleng, sebelum berkata, "Mungkin kakakku ada di sana, ayahku, atau beberapa orang yang mencoba menyeretku pulang. Boleh aku tinggal di sini sampai beberapa hari? Sampai mereka lengah, bosan, lalu aku bisa mencari apartemen baru, apato, atau yang lainnya."
"Kau bisa tinggal di sini bersamaku, jika kau mau," Nata meneliti sekitarnya. Tidak terlalu banyak perabotan hingga apartemen Nero sangat besar bahkan bersih. Perasaannya saja atau dia mencium aroma sterilisasi di sini. "Kau tidak nyaman? Apa kau takut berada di dekatku?"
Nata tersentak. "Kau bicara apa sih, mana mungkin aku takut padamu. Kalau aku takut, aku sudah tidak ada di sini bersamamu," gadis itu benar. "Omong-omong, mengapa aku mencium disinfektan di sekitar tempat ini? Kau tidak sedang menyembunyikan mayat, 'kan?"
Nero mendekat, lalu berjongkok di depan Nata. "Bagaimana kalau aku menyembunyikan dirimu saja di sini?" Nata mengedipkan matanya lalu mendorong Nero yang tertawa. Sebenarnya, dia senang jika lelaki itu kembali bisa tersenyum, apalagi menggodanya. "Aku hanya bercanda, tapi yang bisa aku katakan padamu, seseorang telah mengajari aku untuk tetap bersih dari kuman-kuman."
"Seseorang?"
"Ya. Dia adalah Ibuku," ucap Nero lirih. "Seorang profesor, dan dia jatuh pada tahun-tahun penelitiannya yang sangat rahasia, mungkin kau tidak akan percaya jika dia yang telah menemukan beberapa obat-obatan paling dibutuhkan di dunia ini, karena dia tidak tercatat dalam sejarah. Ia kadang pergi ke Afrika sebagai relawan penderita Ebola."

YOU ARE READING
E N O R M O U S ✔
RandomKeluarga kaya raya kehilangan putra mereka dalam perjalanan keliling Eropa. Sementara ada dua pria Jepang yang mengadopsi anak laki-laki dan menjadikannya sebagai pembunuh bayaran andal. Tepat dua puluh tahun kemudian, anak laki-laki itu mulai menge...