Karina merasa diabaikan oleh pacarnya, Hesa, yang lebih memilih latihan band daripada mengantarnya pulang. Saat memesan Grab, ia bertemu dengan Jeno, seorang driver santai yang berhasil menghiburnya.
Namun, segalanya berubah saat Karina mengetahui...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Pagi itu, Karina terbangun dengan perasaan yang masih campur aduk. Semalam, momen singkat bersama Jeno yang menghiburnya malah terus menghantui pikirannya. Dia merasa aneh. Seharusnya yang dia pikirkan adalah Hesa, pacarnya yang sudah cukup lama bersamanya. Tapi justru wajah santai dan senyum lebar Jeno yang terus muncul di benaknya.
Saat dia siap-siap ke kampus, chat dari Hesa masuk. "Morning, Rin. Maaf ya, kemarin aku nggak bisa jemput."
Karina melihat pesan itu sambil menarik napas panjang. Mau marah, tapi entah kenapa dia merasa lelah untuk protes. Dia hanya membalas singkat, "Ya, nggak apa-apa. Good luck latihan band-nya."
Chat itu langsung centang dua biru, tapi nggak dibalas lagi oleh Hesa. Karina mendesah kecil. Rasanya setiap kali dia membutuhkan Hesa, cowok itu selalu punya alasan. Dalam hati, dia mulai mempertanyakan, seberapa besar sebenarnya Hesa peduli padanya?
Sesampainya di kampus, Karina bertemu sahabatnya, Winona. Mereka berjalan beriringan ke kelas, sementara Karina tetap tenggelam dalam pikirannya sendiri.
"Ada apa sih? Mukamu dari tadi murung aja, Tumben. Biasanya kamu kaya kelebihan mecin," tegur Winona sambil menyenggol bahunya.
Karina menghela napas, merasa ragu untuk cerita, tapi akhirnya dia mengungkapkan sebagian dari yang dia rasakan. "Kemarin aku capek banget, pengennya Hesa yang jemput. Eh, ternyata dia lebih pilih latihan band."
Winona melongo sedikit, lalu mengangguk paham. "Terus? Kamu pulang sendiri?"
"Iya, awalnya mau pulang sendiri. Tapi akhirnya aku pesen Grab. Dan yang datang... ternyata driver-nya kocak banget. Namanya Jeno," jawab Karina, berusaha menyembunyikan senyum kecil yang tiba-tiba muncul saat mengingat momen itu.
"Wih, cowok random tapi bisa bikin kamu senyum? Jago juga dia," goda Winona sambil mengangkat alisnya.
"Eh, nggak gitu juga kali," kata Karina sambil tertawa. "Tapi... ya, dia berhasil bikin aku lupa sama bete-nya."
Winona tersenyum, tapi tatapannya menunjukkan rasa prihatin. "Rin, kamu tau, kan, dalam hubungan, kita butuh orang yang selalu ada, terutama di saat-saat kita butuh. Kalau Hesa terus-terusan kayak gini, kamu harus mikir ulang deh."
Karina terdiam, memikirkan kata-kata Winona. Memang ada benarnya. Sebuah hubungan seharusnya memberi kenyamanan, bukan rasa kecewa yang terus berulang. Dan entah kenapa, dalam hati kecilnya, dia mulai membandingkan sikap Hesa dengan sikap sederhana Jeno yang penuh perhatian, meskipun baru bertemu.
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Hari itu terasa berjalan lambat. Selama kelas berlangsung, Karina terus memikirkan pertemuannya dengan Jeno. Di sela-sela istirahat, dia membuka aplikasi Grab dan mencari riwayat perjalanan kemarin, berharap menemukan informasi lebih tentang Jeno.
Dalam pikirannya, Karina tahu, apa yang dia lakukan ini sedikit konyol. Tapi, rasa ingin tahunya begitu kuat. Meski begitu, ia tak menemukan informasi apa pun yang bisa menghubungkan mereka kembali.
Sore itu, sebelum pulang, Karina masih sibuk dengan pikirannya. Sampai tiba-tiba, sebuah motor berhenti tepat di depannya. Dengan terkejut, Karina melihat Jeno sebagai pengemudi, melambaikan tangan sambil tersenyum.
"Loh, kebetulan banget bisa ketemu lo lagi!" kata Jeno dengan nada riang.
Karina tertawa kecil, merasa sedikit tak percaya dengan keberuntungan ini. "Iya, ini beneran kebetulan, atau lo emang sengaja nungguin di sini?"
Jeno tertawa, menggeleng pelan. "Nggak kok, kebetulan aja. Tapi kalau lo mau ikut, gue bisa anterin pulang, gratis."
Karina merasa ragu sejenak, tapi akhirnya mengangguk setuju. Lagi pula, momen bersama Jeno kemarin masih meninggalkan kesan yang baik. Mereka pun mulai perjalanan pulang, dan sepanjang jalan, Jeno lagi-lagi berhasil menghidupkan suasana dengan lelucon dan cerita-cerita random-nya.
Malam itu, ketika Karina sampai di rumah, dia sadar betul kalau kebersamaan singkat dengan Jeno memberinya kebahagiaan yang Hesa semakin jarang berikan.
Apakah kehadiran Jeno cuma kebetulan yang menyenangkan? Atau ada sesuatu yang lebih dalam yang mulai tumbuh tanpa disadarinya?
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.