19.Bumerang

16.3K 592 2
                                    

Hai, ready pdf ya.
1. Menjadi Wanita Kedua -------40k
2. Menjemput Cinta -----------40k
3. Merajut Cinta Halal ---------40k
4. Unwanted Married ----------45k

Minat wa 089668046446

Happy reading

***

Sampai di Jakarta Siska dan anak-anaknya disambut hangat oleh orang tuanya.

"Oma ... Opaa ...!" teriak Rion dan Kana.

"Cucu opa sudah datang rupanya, kangen sama opa dan oma nggak?" sapa Pak Hendi, Papa Siska.

"Iya Opa, Rion kangen sama Opa."

"Kana juga."

"Pah," sapa Siska pada papanya.

"Ayo masuk." Sahut Hendi mengajak anak dan cucunya masuk ke dalam rumah.

Sampai di dalam ada Wina yang sedang sibuk menyiapkan hidangan sambutan untuk anak dan cucunya.

"Cucu Oma sudah datang," sapa Wina.

"Uuhh oma kangen sama Rion sama Kana." Kata Wina sambil memeluk cucu-cucunya.

"Mah." Sapa Siska sambil mencium pipi mamanya.

"Ayo ke meja makan, kalian pasti lapar kan."

Rion dan Kana mengangguk, mereka pergi ke ruang makan dan mulai menyantap satu persatu hidangan yang sudah disiapkan.

***

Ponsel Dion berdering saat ia dan wanitanya sedang asik bercumbu di depan tv.

"Mas, angkat dulu, siapa tahu penting." Kata Anjani saat sudah berhasil melepaskan bibirnya dari tautan bibir Dion.

"Biarkan saja." Sahut Dion tak acuh dan malah memilih fokus pada leher jenjang Anjani.

"Mass, bunyi terus itu, angkat dulu ah!" seru Anjani.

"Ck," Dion mencebikkan bibirnya.  "Siapa sih malam-malam telpon!" Seru Dion marah saat ada orang yang sedang moncoba mengganggu kesenangannya.

Dion mengerutkan alisnya, "Papa ...." Kata Dion saat sudah melihat siapa yang menelponnya.

"Halo, Pap."

"Kamu datang ke sini sekarang, ada yang mau Papa bicarakan."

"Apa nggak bisa besok saja, Pap?"

"Dion, jadi kamu lebih mementingkan wanita itu ketimbang papa kamu sendiri?!" seru Ridwan.

Dion hanya diam, ia heran dari mana Papanya bisa tahu kalau dia sedang bersama wanitanya.

"Baik, Dion ke sana sekarang."

Sambungan telpon pun terputus.

"Ada apa, Mas?" tanya Anjani.

"Kamu mas tinggal dulu di sini nggak pa-pa kan? Cuma sebentar kok," sahut Dion.

"Mas, mau ke mana?"

"Papa nyuruh mas pulang ke rumah, ada sesuatu yang ingin Papa bicarakan."

"Ya sudah."

"Mas pergi dulu ya." Pamit Dion dengan mengecup bibir Anjani yang sudah membengkak akibat ulahnya.

Anjani mengangguk, "iya, hati-hati."

Tanpa mengganti pakaiannya terlebih dahulu, Dion langsung pergi menemui papanya.

***

Sudah ada Ridwan yang menunggu kedatangan Dion di ruang kerja Ridwan.

Dion duduk tepat di depan papanya.
"Ada apa, Pap?"

"Sepertinya kamu sedang menikmati hidupmu."

"Ck, apa maksud Papa?" sahut Dion.

"Papa ini papa kamu, orang yang merawatmu sedari  kecil. Kamu nggak bisa bohong sama Papa. Papa tahu semua tentang kamu termasuk dia."

"Dari mana Papa tahu?"

"Itu tidak penting, yang penting sekarang adalah masalah perusahaan."

Dion terdiam.

"Bukankah waktu itu sudah papa katakan padamu. Papa ingin istirahat, Papa ingin menikmati hari tua papa di rumah bersama cucu-cucu papa," sambung Ridwan.

"Lalu?"

"Perusahaan di Semarang kamu yang ambil alih."

"Baiklah."

***

Siska duduk di teras belakang rumah mewah orang tuanya.
Wina mendekati putrinya.

"Siska."

"Ya, Mah?"

Wina menghela nafasnya, "apa kamu masih belum berubah?"

"Apa maksud Mama?"

"Gaya hidupmu yang seperti ini apa tidak akan menjadi bumerang untukmu?"

"Bumerang?" tanya Siska tak mengerti.

"Siska ... Rion dan Kana membutuhkan perhatian kamu sebagai ibu kandung mereka. Kamu seolah tak acuh terhadap mereka, mereka masih kecil. Kamu jangan terus lepas tangan merawat mereka. Mereka seperti kehilangan sosok ibu karena ulahmu."

"Mah, ini caraku menikmati hidup. Aku sudah mengambil dua pengasuh untuk merawat mereka. Selama ini toh mereka baik-baik saja, tak mengeluh apa pun. Bahkan Dion juga tak melarangku."

"Justru itu!! Apa lagi Dion, kamu harusnya bersyukur bisa memiliki suami seperti Dion. Dion punya segalanya  materi, jabatan, dan wajah yang tampan. Hal itu yang menjadi incaran para wanita di luaran sana."

Siska diam, ia tampak berfikir.

"Apa kamu mau kehilangan semua yang kamu miliki saat ini? Apa kamu siap!?"

"Mama kenapa bisa bicara seperti itu? Jangan bikin aku jadi takut ah," sahut Siska lirih.

"Mama telah salah mendidikmu, mama dulu terlalu memanjakanmu, memberikan semua yang kamu inginkan sehingga menjadikanmu pribadi egois  seperti sekarang ini," kata Wina pelan.

"Ubahlah cara hidupmu, mulailah menjadi istri yang baik untuk Dion dan ibu yang baik untuk Rion dan Kana."

"Siska nggak bisa Mah, Siska nggak tahu caranya."

Wina menghela nafasnya, ia merasa pusing dengan kelakuan putri manjanya.

***

    ..........bersambung.....

Semarang, 23 Oktober 2018

Salam

-Silvia-

Repost 22-01-2021

Menjadi Wanita Kedua (TAMAT)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang