#20: Existence

1.3K 200 35
                                    

"Terkadang hati melihat apa yang tak terlihat oleh mata."

—Alfred Lord Tennyson

๑۩๑๑۩๑๑۩๑

Nero terbangun dengan perasaan terkejut bahwa Hinata tidak ada di sampingnya—di mana pun di suite ibunya. Kemudian dia segera turun dari ranjang, menghampiri sang ibu, sedang berdandan di depan sebuah cermin besar kamar mandi. "Ibu, di mana Hinata?" pertanyaan itulah yang Nero tanyakan pada ibunya yang segera membalikkan badannya. "Apakah dia ada di kamar mandi? Apakah dia sedang berada di luar untuk membeli sesuatu?"

"Dia pulang ke rumah," Nero mendelik terkejut. "Ibu yang menyuruhnya. Kau tahu apa yang dia katakan pada Ibu?" Nero memilih diam, sembari dia menenangkan dirinya sendiri. Ini ibunya, seorang wanita yang lebih dulu peduli padanya dan menganggap dirinya sebagai anak kandung. Mengajari apa pun yang tidak didapatkan dari bangku sekolah yang tidak pernah ditempuh olehnya. "Nero, kau mendengarkan aku?"

"Aku masih berusaha tenang, aku berjuang untuk itu," Yuen tersenyum. "Ibu, aku yakin dia tidak akan kembali. Apakah Ibu tidak menyukainya? Aku benar-benar menyukai Hinata, bahkan aku berani mengatakan jika telah jatuh cinta kepadanya, tapi apa ini, Bu?!" wanita itu segera mendekat dan menepuk pundak putranya, supaya lelaki itu berhenti untuk khawatir berlebihan. "Dia pasti pergi ke suatu tempat dengan pria lain."

"Apa kau cemburu sekarang?" Nero membuang pandangannya. Ini bukan waktunya untuk melihat ibunya sedang menertawakan dirinya. "Omong-omong, kau sudah mengatakannya tadi malam, kau mengatakan jika sangaaatt mencintai dia. Ibu tahu... dan benar-benar sangat tahu. Dari sorot matamu, dari sorot matanya, kalian benar-benar saling mencintai."

"Tidak. Hinata tidak mencintai aku, tetapi dia mencintai tunangannya."

"Itu bagus—"

"Ibu!" Nero berteriak, ia terkejut dengan jawaban itu.

"Kau akan segera tahu siapa tunangannya. Kau tidak akan menyesal setelah itu." Yuen sekali lagi menepuk pundak putranya, lalu menggiring pemuda itu masuk ke dalam kamar mandi. "Ibu akan siapkan pakaian yang perlu kau kenakan. Karena aku tidak suka dengan pakaian kaus, jaket, sepatu kets yang kau bawa dari rumah. Itu tidak sopan, karena kita bertemu tamu penting."

Di dalam kamar mandi, Nero justru berjongkok gusar. Ia mengacak-acak rambut pirangnya.

"Apa-apaan ini," seandainya dia tidak merusak ponsel Hinata, setelah itu membuangnya di tengah perjalanan, sekarang dia pasti berhasil menghubungi gadis itu, dan memerintahkannya untuk kembali ke The Ritz-Carlton. Namun sayang, ponsel itu sudah hancur dan pastinya tidak tertolong, kecuali membeli baru.

๑۩๑๑۩๑๑۩๑

Sejak pagi, Kushina mencoba memilih gaun-gaun terbaik yang dia bawa dari Eropa. Tapi tak ada satu pun dari gaun-gaun itu membuatnya tampak yakin untuk mengenakannya di pertemuan sangat spesial ini, bahkan sekelas rancangan John Galliano sekalipun, wanita berambut merah itu masih tidak terlalu percaya diri.

Minato kemudian keluar dari kamar mandi setelah mengenakan kemeja putih dan bawahan polos hitam. Ia baru saja selesai melipat lengan kemeja putihnya, dan menjumpai istrinya terus berkaca sembari membuang gaunnya ke atas tempat tidur mereka.

"Ini masih pagi, pakai saja pakaian santai yang kau beli kemarin black jumpsuit dari Limi Feu. Kau bilang menyukainya dan ingin mengenakan itu. Lalu dipadukan dengan double breasted pea coat kau pasti sangat cantik dan terlihat jauh lebih muda," istrinya mendengkus dengan cepat. "Apa? Kau tidak akan mengenakan itu? Anggap ini pesta anak muda, berkumpul santai dengan keluarga juga boleh. Jangan anggap ini pertemuan formal. Naru tidak akan menyukainya, aku berani jamin. Dia bukan tipikal pemuda yang suka berada pada ketegangan—jika kau seperti ini, dia menganggap kau Ibu yang kaku."

E N O R M O U S ✔Where stories live. Discover now