"Kekasih yang kita cintai adalah rumah, meski kaki kita melangkah, hati kita tetap tertinggal."
—Oliver Wendell Holmes
๑۩๑๑۩๑๑۩๑
Kondominium 16 lantai tersebut berada di daerah Rokubancho, dekat dengan stasiun Yotsuya serta stasiun Ichigaya, untuk sampai di sana hanya butuh sekitar lima menit dengan berjalan kaki. Jadi mereka tidak perlu khawatir jika bepergian menggunakan kereta.
Satu unit apartemen berisi empat kamar tidur, dengan kamar utamanya yang paling besar dari kamar mana pun yang tempat itu miliki.
Nero amat terkejut ketika ayahnya tanpa berbasa-basi menyetujui dengan harganya yang terbilang spektakuler. Empat ratus enam puluh juta yen. Ia hampir kehilangan napas pada saat menemani ayahnya mendapatkan kepemilikan salah satu unit yang selesai dibangun pada tahun lalu, tepat di bulan Agustus. Bahkan jauh lebih terkejut lagi jika properti baru itu diatasnamakan dirinya.
Seminggu kemudian mereka pindah ke sana—dengan sudah ditata rapi seluruhnya sesuai kebutuhan. Ia tidak perlu bekerja ekstra, dan kasarnya membuang tenaga hanya demi menata bagian-bagian tempat itu. Balkon sudah diisi dengan taman buatan di mana beberapa pepohonan plastik berdiri. Daun-daun yang menipu itu benar-benar membuatnya kecewa. Rumput-rumput yang dia injak dengan telapak kakinya yang telanjang, membuat Nero mendengkus, walau rasanya hampir seperti rumput asli. "Semuanya palsu!" dan terdengar agak marah.
"Ayah tahu, berapa harga apartemenku? Mengapa kita tidak tinggal di tempatku saja?" ia melirik ayahnya yang bersantai di atas sofa panjang berwarna abu-abu—hanya ada satu sofa tersebut terlihat membentang panjang, dan ayahnya sedang ada di atasnya, tiduran santai sambil melihat acara televisi, sebuah tayangan bola. "Ayah mendengarkan aku?" Nero masuk kembali ke dalam. Ia tidak lagi merasa canggung. Sebulan ini dia makin terbiasa hidup bersama keluarga Uzumaki.
"Ayolah, ayolah, tubuh besar yang kau miliki sedang menutupi layar itu, lagi seru-serunya," Nero tetap berdiri menghalangi pandangan ayahnya ke depan televisi. "Apa lagi?"
"Kita tinggal ke apartemen yang sudah aku sewa."
"Kau menyewa, tidak membeli," balas ayahnya, Nero bergerak minggir kemudian. "Jangan terlalu kecewa atau menganggap ini mahal. Ini hanya tempat sederhana. Anggap apato."
"Apato?" Nero berjalan mendekati ayahnya, lalu duduk di samping pria itu. "Tidak ada apato dengan harga empat ratus juta yen!"
"Oh benarkah tidak ada?" putranya mendengkus, "jadi, berapa kau menyewa apartemen itu?"
"Tujuh puluh ribu yen,"
"Astaga," ayahnya menoleh dengan terkejut. "Uang segitu tidak bisa untuk menyewa suite yang kemarin."
"Ayah, aku hanya kerja serabutan," balas Nero kesal.
"Lalu kau akan mengajak Hinata tinggal di sana setelah menikah? Kau mengatakan bahwa ingin menikah dengan Hinata. Ayolah Naru, dia perempuan dari keluarga kaya raya. Teman Ayah tidak akan mengizinkan putrinya tinggal bersama suaminya di tempat kecil itu. Ayah membeli ini untuk kalian tinggali nanti. Setidaknya kalian harus punya dua anak, atau sesuai dengan kamar yang ada di sini, berarti tiga anak. Jangan membuat Ayah malu. Mereka pikir Ayah tidak bisa membelikan kalian rumah," terang ayahnya, seolah ada kobaran api di kedua mata birunya. "Kenapa diam? Apakah Ayah salah berbicara?"
"Aku pikir tidak," Minato mengangguk, setelah itu melihat kembali layar televisi. Dan dia baru menyadari, klub favoritnya sudah mencetak satu angka.
Nero tetap diam di tempatnya melihat tayangan bola itu. Namun tiba-tiba dia terusik. "Apakah Ayah tidak pergi bekerja?" untuk sebentar ayahnya menoleh. "Kenapa Ayah malas-malasan?"

YOU ARE READING
E N O R M O U S ✔
AcakKeluarga kaya raya kehilangan putra mereka dalam perjalanan keliling Eropa. Sementara ada dua pria Jepang yang mengadopsi anak laki-laki dan menjadikannya sebagai pembunuh bayaran andal. Tepat dua puluh tahun kemudian, anak laki-laki itu mulai menge...