9. Bagian sembilan

491 10 1
                                    

"tapi bisa saja kakang, jika nantinya kakang Gupita mau menjadi prajurit kerajaan, kemudian naik pangkat jadi senopati, atau misal saja jadi menantu seorang bangsawan, khan berarti kakang Gupita telah menjadi seorang bangsawan juga" jawab Arya Wirayuda.

"Wah, makin ngaco saja kamu ini, mana ada putri bangsawan yang mau sama orang dusun kayak aku ini, ha ha ha" ujar Gupita sambil tertawa

Begitulah, Arya Wirayuda dan Gupita menikmati perjalanan menuju wilayah Lamajang dengan santai dan bersenda gurau. Mereka yang baru pertama kali ini melakukan perjalanan jauh tanpa dibatasi waktu dan beban tugas menjadikan suasana perjalanan yang mereka lakukan serasa begitu menyenangkan dan menggembirakan. Desa demi desa mereka lalui, padang rumput, hutan-hutan kecil mereka lewati seakan-akan sedang melakukan tamasya saja.

Jika perut mereka lapar saat sedang di tepi sungai maka mereka dengan sigap segera mencari ikan yang banyak hidup di sungai-sungai, ikan lele, ikan tawas, ikan gabus sangat mudah mereka dapatkan di pinggir-pinggir sungai.

Lain waktu mereka berburu ayam hutan yang banyak berkeliaran di hutan-hutan kemudian mereka bakar dengan perapian.

Sementara jika kebetulan mereka berada di sebuah desa, maka warung atau pasar desa adalah tempat pertama yang mereka tuju untuk mengisi perut serta membeli tambahan bekal makanan serta minuman untuk mereka bawa di perjalanan.

Begitulah, sejauh ini perjalanan mereka sejak meninggalkan padepokan sampai hampir sepekan perjalanan tidaklah menemui hal-hal yang tidak mengenakkan walaupun di desa-desa yang mereka singgahi, mereka sering mendengarkan obrolan dari pedagang keliling yang menggambarkan bahwa keamanan di berbagai wilayah kedaton kulon maupun wetan menjadi menurun seiring ketegangan diantara dua kedaton itu. Pencurian serta pembegalan sering terjadi di desa-desa yang jauh dari pengamatan prajurit-prajurit serta di jalur-jalur perdagangan antar wilayah.

"sepekan yang lalu misalnya, di desa kecil yang masuk wilayah Kurawan, rumah kepala desanya disatroni sekawanan perampok, padi yang ada dilumbung semua diangkut para perampok, tak ada yang berani melawan, karena perampok-perampok berjumlah cukup banyak dengan senjata ditangan sementara di desa itu tidak ada yang menguasai ilmu beladiri sama sekali, kepala desanya juga sudah tua, sementara anaknya sejak beberapa tahun mengabdi sebagai prajurit di kraton Daha" ujar seorang pedagang

"Iya, aku juga mendengar berita perampokan itu dari seorang pedagang kain kemarin saat mampir di pasar desa Besalen, untung saja perampok-perampok itu tidak berlaku kejam, karena tidak ada perlawanan mereka hanya mengangkut padi dari lumbung dan tidak melukai satu pun warga desa" ujar pedagang yang lain

"Betul, jarang memang ada sekawanan perampok yang seperti itu, biasanya ada saja yang menjadi korban, kalau tidak terbunuh tentu beberapa mengalami luka-luka karena sabetan pedang atau klewang"

------------------------------------------------

Arya Wirayuda dan Gupita selalu menyimak pembicaraan para pedagang keliling yang mereka temui di pasar-pasar desa atau warung-warung saat mereka berhenti untuk membeli makan saat perut mereka lapar. Dari berbagai perbincangan yang mereka dengar di beberapa kesempatan, mereka dapat menarik satu kesamaan cerita, situasi kerajaan sedang tegang, keamanan menjadi terganggu, pencurian, perampokan atau pembegalan sering terjadi di sana sini.

"Jika ketegangan antara kedaton kulon dan kedaton wetan terus berlangsung, apalagi jika sampai pecah perang saudara antara Bhre Wirabhumi dengan Kusumawardhani, dapat dipastikan keamanan negara akan semakin tidak karu-karuan, para prajurit pasti disibukkan dengan peperangan dan melupakan tugasnya menjaga keamanan masyarakat, apalagi masyarakat di desa-desa yang jauh dari kota" panjang lebar Arya Wiguna bicara mengenai keprihatinannya menyangkut masa depan kedaton kulon dan kedaton wetan.

"Betul sekali Adhi Wirayuda, dan yang paling menderita adalah rakyat yang tidak tau apa-apa perihal pertikaian para pembesar negara itu" Gupita menanggapi apa yang disampaikan oleh Arya Wiguna.

"Jika menyimak apa yang disampaikan oleh para pedagang itu, maka para perampok itu biasa melakukan aksinya di malam hari saat warga desa telah terlelap, maka ada baiknya kita mencoba saja menginap di salah satu desa yang terpencil kakang, siapa tau kita beruntung bisa bertemu dengan para perampok itu dan memberi pelajaran pada mereka" usul Arya Wirayuda

"Wah, usulmu sangat menarik Adhi Wirayuda, aku setuju sekali" ujar Gupita bersemangat.

Maka setelah bersepakat tentang usulan menginap di satu dusun yang jauh dari pengawasan prajurit kraton, maka mereka kemudian mengarahkan kuda-kudanya meninggalkan desa yang ramai itu menuju ke arah kaki gunung yang cukup jauh dari kota dan desa lain.

Setelah satu demi satu desa mereka lewati, kini mereka telah sampai di padang ilalang yang cukup luas, sementara di kejauhan nampak satu dusun yang tidak terlalu besar di seberang padang ilalang yang memisahkan dusun di depan dengan dusun terakhir yang telah mereka lewati tadi.

Setelah beberapa lama mereka melewati jalan di pinggir padang ilalang itu, sampailah mereka di tepi sungai kecil yang jernih airnya, sementara di seberang tampak hamparan sawah serta dusun yang tampak di belakanf hamparan sawah itu.

"Kita istirahat dulu di tepi sungai ini Kakang, sambil mandi-mandi dan mencari ikan, nanti jika matahari sudah agak condong di langit barat baru kita menyeberang dan memasuki desa kecil di depan sana" usul Arya Wirayuda

"Baiklah Adi, rasanya memang kalau melihat sungai yang jernih seperti ini kalau tidak berenang kok rasanya rugi sekali, he he" kata Gupita

Paregreg, Senjakala WilwatiktaTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang