Part 2

46 3 0
                                    


"Janji jangan pernah tinggalkan aku?",
"Aku janji",
"Kalau kau pergi, aku tidak akan pernah jadi orang yang sama lagi",
"Maksudmu?",
"Pokoknya jangan pergi", aku ingat kau terdiam. Lalu menjawab dengan sangat lembut, seakan hampir menangis.
"Aku juga tak mau kau pergi, kau yang terbaik, kau membuatku merasa sangat istimewa, seakan tidak akan pernah ada seseorang yang mencintaiku lebih darimu",
"Itu benar, tidak ada orang yang mencintaimu lebih dari aku", aku ingat semua itu. Tepatnya aku tidak pernah ingin melupakannya. Aku tahu kau masih mencintaiku, entah dimanapun kau berada. Aku mencintaimu meski hanya suaramu yang dapat aku kenali. Meski belum sekalipun kita bertemu.

Semua kepercayaan itu yang akhirnya menghancurkanku berkeping-keping. Aku tahu manusia memang suka membuat janji, tapi semua dalam hidup ini adalah milik Tuhan, tidak ada kuasa bagi manusia untuk selalu mencapai semua yang diharapkan.

Setahun sudah berlalu sejak dia menghilang, secuil berita tentangnya pun aku tak punya. Bahkan mendadak Rossa, sahabat baikku yang merupakan sepupunya turut menghilang bersamanya.
Aku terisak, rasanya begitu pilu. Seakan sesuatu yang besar menghantam dadaku, sakit akibat rindu dan kehilangan menjadi satu. Atas rasa sakit yang dia tinggalkan entah kenapa sedikitpun tidak membuatku benci, malah semakin mencintai dan merindui. Danish ... kembalilah ...
Aku terbangun mendengar pintu didorong, tidak lain itu Viny.
"Hey, bangun, kau ini anak perempuan tapi sungguh pemalas, kau selalu bangun siang, hey ...", omelan Viny tiba-tiba berhenti, lalu duduk ditepi ranjangku. Dia pasti melihat air mataku.
"Kau memimpikannya lagi?", aku mengangguk pelan. Dulu beberapa bulan setelah Danish pergi aku selalu bermimpi tentangnya, menangis dalam tidur karena kehilangannya. Viny sudah terbiasa melihat air mataku saat membangunkan tidurku. Hanya saja sudah tiga bulan belakangan aku berhenti memimpikannya.
"Sepertinya kau harus menemui psikiater Dyan, aku mulai khawatir padamu", Viny menatapku prihatin. Aku tertawa pelan.
"Apa aku separah itu?",
"Ini tidak biasa, menurutku ini diluar batas kewajaran",
"Atau perasaanku pada Danish yang terlalu berlebihan, dengar Viny aku baik-baik saja, jangan cemas berlebihan, aku mandi dulu, kau berangkat duluan saja", aku bergegas bangun dan menyambar handuk. Aku mendengar suara pintu ditutup, Viny sudah keluar. Aku menangis dibawah siraman air. Kupikir aku nyaris berhasil tidak meratapinya lagi, tapi apa ini? Aku merasakan lagi sesak bahkan saat tertidur, merindukannya setengah mati. Cinta macam apa yang pernah kujalani dengannya sampai kehilangannya begitu menyiksa.

Aku berkenalan dengan Danish hanya via telefon, Rossa yang mengenalkannya padaku. Rossa teman sekelasku saat SMA, dia melanjutkan kuliah di Australia, dan disanalah Danish tinggal. Konyol memang, setahun kami saling mengenal lalu tanpa sadar saling merasa nyaman, mulai merasa rindu jika sehari saja tidak saling contact. Pernah sekali kami video call dengan malu-malu dan bicara terbata-bata, kami memutuskan untuk tidak melakukannya lagi, berniat mengumpulkan rindu untuk pertemuan yang sebenarnya. Dulu video call belum semudah sekarang, kualitasnya juga tidak sebaik saat ini, koneksi sering terputus, dan pembicaraan kami terputus berkali-kali. Sulit melihat wajahnya dengan jelas, tapi kami juga saling bertukar foto, dia cukup tampan, kurus, dan berhidung mancung. Dia benar-benar semacam candu bagiku, segala perhatian dan rasa nyaman yang dia berikan meskipun hanya lewat telefon membuatku jatuh cinta. Cinta memang seringkali tak masuk diakal, jadi jangan bertanya kenapa, sampai saat dia menghilang, atau bahkan saat ini, aku tidak pernah punya jawabannya.

Pagi ini aku masih sempat sarapan disekitaran kosku, Viny membangunkanku lebih awal, karena dia harus berangkat lebih awal ke kantor. Aku duduk di sebuah bangku panjang di sebuah warung tenda, menyantap bubur ayam. Aku sengaja menyempatkan diri sarapan agar siang nanti aku tidak perlu makan siang dan tidak ada kehebohan seperti kemarin.

"Hmmm jadi, kau biasa sarapan disini?", Seorang pria berdiri didekat mejaku, aku mendongak.

"Tempat yang lebih baik untuk kebetulan kedua, ya kan? duduklah", aku tersenyum dan memintanya duduk. Damar tersenyum ramah lalu duduk disampingku.

Rindu Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang