"Yuriiii... yuriii.... main yuk!" Teriak yujin di depan gerbang rumah yuri.
Yuri yang mendengar, buru buru lari ke depan untuk membuka gerbang.
"Lo pikir kita anak smp yang masih main main apa!" Kata yuri nggas.
"Mujaer lo bisa ngga sih ngga pake nggas!" Kata yujin juga nggas.
"Lo sendiri nggas monyet!"
"Aduh kita ngga lagi di hutan! Ngga usah teriak teriak!" Kata yujin yang sendirinya juga teriak.
"Ngpain lo?" Tanya yuri sedikit tenang.
"Mau main" jawab yujin santai.
"Pulang lo!" Usir yuri dan ingin menutup gerbang.
"Eh ehh," yujin menahan agar gerbang tak tertutup.
"Rumah gue ngga ada orang. Ngga ada temen dirumah" sambung yujin.
Yuri berfikir sejenak. Apa salahnya membiarkan yujin masuk, toh waktu smp juga mereka sering main di rumah yuri.
Akhirnya yuri membuka pagar dan membiarkan yujin masuk ke dalam rumah.
"Lah sepi amat. Ngga ada orang?" Tanya yujin yang udah masuk ke rumah. Biasanya orang tua yuri akan menyambut kedatangan yujin. Tapi disini malah sepi tanpa suara.
"Orang tua gue keluar ada acara"
"Adek lo?"
"Di kamar. Lagi tidur"
Yujin ber-oh ria.
"Piano lo mana?" Tanya yujin yang mengedarkan pandangan tapi ngga menemukan piano yuri.
"Dikamar, udah di pindahin" jawab yuri.
"Ke kamar lo boleh? Gue mau coba"
"Yaudah sana"
Yujin naik ke lantai 2 dan masuk ke kamar yuri dengan dinding pink pastel. Masih sama seperti dulu, hanya tata ruangnya yang berubah di tambah ada piano besar disudut kamarnya. Sedangkan yuri menyiapkan minuman dan cemilan buat tamu dadakannya itu.
Saat yujin berjalan menuju piano milik yuri. Ia melihat foto candid yena yang di cetak yuri berada di meja riasnya. Yujin tersenyum mengingat sebegitu sukanya yuri ke yena. Tapi terbesit kekesalan dengan ketidak pekaan yena pada yuri, sahabatnya dari kecil.
Ngga lama yuri masuk membawa nampan berisi makanan dan minuman.
"Repot repot amat" kata yujin
"Iya lo emang ngrepotin!"
"Dasar mujaer!" Kesal yujin.
"Dasar monyet!"
Yujin pelan pelan menekan tuts piano kesayangan yuri itu.
"Lo masih main piano?" Tanya yuri yang udah berdiri didekat pianonya.
"Udah ngga. Ini pertama kali setelah sekian lama"
"Ngga usah dipaksain" jawab yuri.
Ada cerita di balik piano dan yujin. Ada kepedihan jika dia menekan tuts piano. Tapi ada ketenangan mendengar alunan musik dari piano juga.
Yujin berhenti menekan tuts. Ia menghembus nafas kasar.
"Huh, lapaarr" yujin berdiri menuju nampan yang dibawa yuri tadi.
Yujin duduk bersandar di kaki kasur yuri. Diikuti yuri yang duduk disebelahnya.
"Lo gimana sama bebek?" Tanya yujin sambil memakan cemilannya.

KAMU SEDANG MEMBACA
PRÈCIOUS [S2] || Jinjoo Yenyul Chaekkura
Fiksi PenggemarBagaimana Kelanjutan Percintaan Jinjoo, Yenyul dan Chaekkura?