Seongwoo membawa Dahyun masuk ke lorong pendek yang langsung memasuki sebuah ruangan yang dinding, lantai dan atap ruangannya terlukis gambar galaxy yang cantik.
Mereka berjalan dan duduk di sofa yang tersimpan dihadapan kaca lebar yang tertutupi gorden.
Seongwoo menyibakkan gorden dan langsung menampakan langit gelap yang ditaburi banyak bintang sehabis hujan.
Dahyun menatap takjub. "Apa Ong setiap hari selalu melihat ini?"
Seongwoo menggeleng. "Tidak, aku datang kesini apabila sedang merindukan seseorang, karena tempat ini dipenuhi kenangan saat bersamanya."
Dahyun mengangguk, ia dapat melihat tatapan sendu di mata Seongwoo.
Seongwoo yang masih menggenggam gorden, memilih duduk di samping Dahyun.
Mereka hanya saling diam dengan mata yang menatap lurus ke pemandangan langit. Padahal dibalik tenangnya malam ini, jantung keduanya bereaksi berlebihan dan tidak bisa mau tenang.
"Dahyun?"
Dahyun menoleh dan melihat tatapan Seongwoo yang tegas namun terlihat putus asa.
"Apa kau benar-benar mencintai Kang Daniel?"
Dahyun hanya diam, sepertinya rasa suka dirinya untuk Daniel dapat dilihat oleh banyak mata. "Aku tidak tahu. Namun yang kutahu, dulu Daniel mencintai Chaeyoung. Bukan diriku."
Seongwoo masih diam menatap lurus kearah bintang yang paling mencolok.
"Ong, menurutmu bagaimana... Misalnya, ada tiga orang sahabat, satu laki-laki dan dua perempuan. Namun mereka saling menyimpan rasa cinta, bukan cinta kepada sahabat, melainkan cinta untuk keinginan memilikinya sebagai kekasih. Di sini terjadi kisah cinta yang rumit." Dahyun bercerita tentang kisahnya tanpa menyebutkan namanya.
"Perempuan itu tahu jika sahabat perempuannya dan sahabat lelakinya saling cinta satu sama lain. Tapi ia berusaha menghalanginya karena ia ingin memiliki lelaki itu. Apa perempuan itu jahat? Perempuan itu begitu egois, kekanakan dan menjinjikan." mata Dahyun mulai memerah.
"Sekarang perempuan itu kehilangan orang yang dicintainya sekaligus kehilangan sahabatnya. Sepertinya itu adalah hukuman yang sangat pantas untuknya."
Seongwoo tahu maksud Dahyun. Dahyun sedang menceritakan kisah dirinya, Chaeyoung dan Daniel. Seongwoo membawa kepala Dahyun untuk bersandar ke bahunya.
"Itu berarti, perempuan itu begitu mencintai lelaki itu. Sepertinya perempuan itu sangat polos dalam masalah cinta. Lalu bagaimana keadaan perempuan itu sekarang?" Seongwoo mengikuti cara Dahyun bercerita.
"Hubungan dengan sahabatnya memburuk. Dia memintaku... Maksudku, meminta perempuan itu untuk melupakan lelaki yang dicintainya dan mencari lelaki lain yang mencintai perempuan itu. Perempuan itu kebingungan, ia tidak bisa dengan mudah jatuh cinta pada lelaki lain. Ia masih mencintai lelaki yang sekarang tidak tahu ada dimana. Padahal ia ingin melupakan lelaki itu, agar ia bisa kembali bersahabat dengan sahabat perempuan terbaiknya."
Seongwoo menatap mata sendu milik Dahyun. "Jangan pernah melupakannya, cukup mengikhlaskannya. Karena sekuat apapun kita berusaha untuk melupakannya, itu akan sangat sulit, kecuali jika syaraf ingatannya terganggu."
Dahyun tersenyum. "Akan aku sampaikan saranmu pada perempuan itu."
Seongwoo membaringkan tubuhnya di sofa dan menjadikan paha empuk Dahyun sebagai bantalannya dengan posisi tubuh yang tetap menyamping ke arah jendela.
"Dahyun..."
Dahyun membiarkan Seongwoo tiduran di pahanya, bahkan tangan mungilnya malah memainkan rambut Seongwoo.
"Tentang ucapan Bunda tadi, jangan terlalu dimasukan kedalam hati. Aku memang sudah jatuh cinta padamu, tapi kau bebas memberikan cintamu pada siapa pun, tidak harus selalu untukku."
Dahyun membualatkan matanya. Tangannya berhenti memainkan rambut Seongwoo. Jantung disana seakan siap meledak saat ini juga.
Sedangkan Seongwoo memejamkan matanya, ia sudah yakin dengan apa yang ia ucapkan.
"Bagaimana bisa kau jatuh cinta padaku secepat ini? Bukankah kita baru bertemu beberapa hari kebelakang?"
Seongwoo tersenyum. "Kau yang baru mengenalku, tapi aku sudah sejak lama mengenalmu."
Dahyun terbungkam. Otaknya tiba-tiba mengingatkannya tentang Seongwoo yang bertanya perihal panda yang merupakan kesukaannya, padanya.
Apa jangan-jangan Seongwoo adalah pengirim surat beramplop panda itu?
"Ong..."
Seongwoo membuka matanya dan tubuhnya yang menyamping menjadi terentang dan menatap mata Dahyun yang kini sedang menunduk.
"Boleh kah aku meminta tolong padamu?"
Seongwoo bangkit dan kembali mendudukan dirinya. "Tentu."
"Bantu aku merelakan Daniel. Aku rasa, aku yakin kau bisa membuatku jatuh cinta."
Seongwoo terdiam, sedikit tidak percaya dengan apa yang ia dengar. "Kurasa, aku tidak bisa membuatmu jatuh cinta. Kau tahu? Jatuh itu sakit. Lebih baik kita bangun cinta."
Pipi Dahyun memerah. Ia memukul lengan Seongwoo. "Apa, sih!"
Seongwoo terkekeh. Ia menepuk pahanya. "Tidurlah, giliranmu. Ini akan sangat nyaman, tahu!"
Dahyun sedikit ragu karena malu, namun pada akhirnya ia tidur menyamping ke arah jendela dengan paha Seongwoo sebagai bantalan.
Seongwoo mengusap rambut Dahyun lembut. Kelembutan itu membuat Dahyun tertidur dengan tenang.
"I love you, Kim Dahyun."
Sesungguhnya, ada rahasia yang sampai sekarang belum berani Seongwoo katakan. Ia takut Dahyun kembali bersedih karena suatu kenyataan yang benar adanya.
Sebenarnya Seongwoo tahu keberadaan Daniel, namun ia tak mampu mengatakannya kepada Dahyun.
Seongwoo mencintai Dahyun, namun pada nyatanya Dahyun masih mencintai Daniel. Dan terakhir kali, Daniel malah sangat mencintai Chaeyoung, dan sekarang Chaeyoung entah mencintai siapa. Cinta rumit ini begitu memusingkan.
"Maaf, Dahyun."
➿➿➿

KAMU SEDANG MEMBACA
═❖•My Gift•❖═
Fanfiction•°•{S E L E S A I}•°• Aku percaya dan yakin jika Kang Daniel akan kembali. Dia tidak pernah melanggar kata-katanya, maka dari itu aku masih percaya. Dia menjanjikanku hadiah ulang tahun, dan aku ingin hadiah itu. Aku menunggu hadiah itu darinya. Tid...