Dahyun meminta Seongwoo mengantarnya ke kafe Sonik yang dulu adalah tempat Dahyun dan Chaeyoung menghabiskan uang diakhir pekan.
Kafe itu penuh kenangan canda tawa Kim Dahyun dan Son Chaeyoung. Kenangan, ya, untuk saat ini itu hanya menjadi kenangan yang dirindukan.
Dahyun mengusir Seongwoo untuk pulang. "Biarkan aku menghabiskan hari Minggu-ku dengan Chaeyoung, ya? Jadi... Ong pulang saja."
"Baiklah, kalau mau pulang, hubungi aku. Akan kujemput."
Dahyun mengangguk dan masuk ke kafe setelah memastikan Seongwoo melajukan mobil merahnya.
Dahyun menduduki meja yang dulu menjadi tempat favorit dirinya dengan Chaeyoung. Ternyata ia tidak telat, karena nyatanya Chaeyoung belum datang.
"Dahyun? Kemana saja, kau sekarang jarang datang ke sini?" ucap pelayan cantik yang memang sudah mengenal Dahyun dan Chaeyoung sebagai pelanggan setianya.
Dahyun hanya tersenyum. "Maafkan aku... Aku juga rindu tempat ini, makanya sekarang aku datang. Aku curiga kak Momo rindu padaku."
Ya, pelayan itu bernama Momo. "Percaya diri sekali. Sudahlah, pesan apa?"
"Seperti biasa."
Momo mengangguk dan pergi ke dapur.
Tak lama dari itu, seseorang di pintu kafe sedang mengamati seisi kafe. "Meja nomor 7, ya?" gumamnya.
Setelah ia menemukan meja yang dicarinya, ia menghampirinya. "Dahyun? Kau sedang apa di sini? Bukannya kau akan menghabiskan hari Minggu dengan Seongwoo? Seongwoo-nya mana?"
Dahyun sedikit terkejut. "Ji-hoon? Tidak, hari ini aku ada janji dengan Chaeyoung."
Jihoon mengernyit lalu kemudian tersenyum. "Kebetulan sekali, aku juga ada janji dengannya. Apa kau melihat Chaeyoung? Ia janjian juga denganku di kafe ini. Di meja nomor tujuh, kita semeja? Katanya dia sudah sampai. Tapi mengapa tidak ada."
Jihoon masih celingukan mencari sosok Chaeyoung.
Dahyun tertegun. Sepertinya ia baru menyadari sesuatu. Apa mungkin Chaeyoung merencanakan ini?
Tiba-tiba Dahyun mendapatkan pesan.
Chaeng
Selamat bersenang-senang
Tolong jangan kecewakan Jihoon!
[10.18]Dahyun terdiam sesat. Matanya terpejam dan tangannya mengusap wajahnya kecewa.
"Jihoon, Chaeyoung tidak akan datang." ujar Dahyun sedikit tercekat.
Jihoon merasa bingung. "Mengapa begitu?"
"Duduklah, ada yang ingin aku bicarakan."
Jihoon hanya melakukan apa yang Dahyun pinta.
"Chaeyoung memintaku datang ke sini, padahal hubunganku dengannya tidak sedang baik-baik saja karena ulahku."
Jihoon menatap Dahyun dengan serius, menyimak apa pun yang Dahyun katakan saat ini.
"Aku mengerti." gumam Jihoon. Ini pasti tentang hubungan Dahyun dan Seongwoo. Pasti cinta Chaeyoung bertepuk sebelah tangan. Ia sendiri dapat merasakan sakitnya cinta bertepuk sebelah tangan, saat ini ia tengah merasakannya. Apa lagi Chaeyoung yang nyatanya lelaki yang ia suka malah mencintai Dahyun, sahabatnya sendiri. Begitu pula dengan dirinya, gadis yang ia cintai malah mencintai saudaranya sendiri.
"Sekarang... Bolehkah kita saling terbuka? Katakan apa pun yang kau sembunyikan, dan akan aku katakan apa pun yang aku sembunyikan."
"Eh? Mengapa?" hari ini Jihoon menangkap keanehan dari cara Dahyun berbicara. Ia dengan Dahyun akhir-akhir ini menjadi canggung, Jihoon dapat merasakan itu.
"Katakan yang sejujurnya padaku, karena aku tahu apa yang kau sembunyikan."
"Baiklah, baiklah... Tapi kau janji tidak akan melaporkanku pada Seongwoo, kan?"
Dahyun mengangguk was-was. Ia mulai curiga dan takut akan fakta yang akan Jihoon ungkapkan.
Jihoon membusungkan tubuhnya ke meja dan sedikit mendekat kepada Dahyun yang duduk di hadapannya. "Tadi pagi aku yang menyembunyikan celana dalam Seongwoo.." Jihoon mulai khawatir akan masalah itu. Ia takut Seongwoo marah, kalau saja Seongwoo tidak menyebalkan, Jihoon tidak mungkin memikirkan ide jahil itu.
Dahyun melotot, tidak seharusnya ia tahu akan urusan itu. "Bu-bukan, bukan itu maksudku... Katakan kepadaku dengan sejujurnya. Apa benar... Apa benar kau yang selalu memperhatikanku? Katakan, apa benar kau yang selalu menuliskan surat panda itu dan menyelipkannya di lokerku? Katakan yang sejujurnya."
Jihoon membisu, tubuhnya kini menjadi tegak dan menatap Dahyun dengan tatapan yang tidak bisa Dahyun pahami. Ia tidak tahu harus mengatakan apa, dan ia lebih memilih untuk tidak menjawab apa pun.
Diamnya Jihoon membuat Dahyun yakin jika Jihoon-lah yang mengirim surat itu. "Jika memang benar... Maafkan aku... Ini memang jahat, tapi aku sudah mencintai Seongwoo. Tapi harus kau tahu... Chaeyoung menyukaimu, tidak... Mungkin ia sangat mencintaimu tanpa kau sadari. Kau tahu, demi kau... Dia malah menyakiti hatinya sendiri, karena ia tidak mau kau yang sakit hati. Chaeyoung memberi tahuku bahwa kaulah orang yang memberi surat panda itu. Chaeyoung tahu jika selama ini kau selalu bersembunyi di samping loker, makanya dia marah padaku karena aku tidak menganggapmu. Dia tidak mau kau sakit hati, karena dia mencintaimu."
Jihoon membulatkan matanya, saat itu tiba-tiba ada pot yang jatuh.
Orang-orang langsung meliriknya termasuk Jihoon dan Dahyun. Itu Chaeyoung, ia langsung kabur keluar kafe saat Jihoon dan Dahyun memergokinya.
"Dahyun... Maaf, ada sesuatu yang harus aku katakan padanya." Jihoon bangkit dan meninggalkan Dahyun. Ia mengejar Chaeyoung yang katanya mencintai dirinya. Jihoon tidak percaya itu. Bukan kah Chaeyoung menyukai Seongwoo? Mengapa tiba-tiba Dahyun mengatakan jika Chaeyoung mencintai dirinya?
Dahyun memejamkan matanya, ia menangkup wajahnya karena merasa pusing atas apa yang sedang ia hadapi. Dahyun berharap, Jihoon akan membalas cintanya Chaeyoung.
Sedangkan di lain sisi. Mobil Seongwoo terparkir di seberang jalan. Ia mengepalkan tangannya karena melihat Jihoon meninggalkan Dahyun.
"Jihoon berengsek. Apa dia berani menyakiti perasaan Dahyun?! Mengapa dia meninggalkan Dahyun?!"
➿➿➿

KAMU SEDANG MEMBACA
═❖•My Gift•❖═
Fanfiction•°•{S E L E S A I}•°• Aku percaya dan yakin jika Kang Daniel akan kembali. Dia tidak pernah melanggar kata-katanya, maka dari itu aku masih percaya. Dia menjanjikanku hadiah ulang tahun, dan aku ingin hadiah itu. Aku menunggu hadiah itu darinya. Tid...