25

31 3 0
                                    

Ini sudah seminggu Rana tidak mau keluar rumah kecuali pergi sekolah. Bahkan Rana suddah seperti mayat hidup. Bibir nya pucat,pipinya semakin tirus. Tina,Ghani,dan Revan sampai bingung harus membujuk Rana agar mau keluar dari kamarnya dan kembali seperti semula.

Rana turun dari kamarnya dengan lunglai. Rana sudah siap dengan seragam dan tas yg sudah bertengger di bahunya. Rana berjalan malas ke arah pintu,tangan nya menyambar sepatu dan menentengnya kemudian memasuki mobil.

"Jalan Pak"perintahnya. Pak ujang mengangguk.

10 menit kemudian,

Mereka sampai. Rana turun dengan malas berjalan menuju kelasnya. Kaki lemasnya menaiki tangga. Rana terduduk di samping nya,menoleh sebentar ke samping menatap lama bangku yg sudah lama kosong. Matanya perih,Rana kembali menoleh ke depan menenggelamkan wajahnya di dalam lipatan tangannya. Bahunya naik turus,dadanya sesak.

Revan yg ada di luar kelasnya menatap Rana sedih,pacarnya itu belum bisa menerima kepergian Dinda. Tangannya mengambil ponsel yg berada di kantongnya. Mengotak-atik ponselnya kemudian menempelkannya ke telinganya.

"Halo"sapa seseorang dari seberang

"Gue harus gimana? Dia masih sedih, dia gak mau makan sama keluar kamar kalau gak ke sekolah. Semua cara udah gue lakuin,tapi Dia tetap kek gini"jelas Revan to the point

"Seminggu lagi gue balik"

Lagi,dia memutuskan sambungan sepihak. Membuat Revan hanya bisa menghela nafasnya lagi.

Revan memasuki kelas Rana

"Ran"panggilnya menyentuh bahu Rana "lo oke"

Rana mendongak menatap Revan yg tersenyum kepadanya. Revan berjongkok menyamakam tinggi mereka. Menangkup wajah Rana.

Rana tersenyum kecut dan memeluk Revan. Revan membalas pelukannya dan mengelus kepala Rana. Rana melonggarkan pelukannya, menghapus air matanya yg masih turun sampai saat ini. Revan merogoh sakunya, mengeluarkan sebuah surat.

"Gue sebenarnya gak mau buat lo sedih lagi,tapi gue harus ngasih ini sama lo. Jangan sedih lagi" Revan mencium kening Rana sekilas dan menghapus air mata Rana. Setelahnya berdiri dan berjalan keluar.

Semua orang iri melihatnya, sejak kepergian Dinda,Rana dan Revan semakin dekat. Revan tidak segan lagi untuk memeluk Rana atau mencium keningnya juga sebaliknya. Tapi biarpun seperti itu,Rana tetap sedih dan tidak terima kepergian Dinda.

------

Rana berjalan  memasuki kamarnya, membaringkan tubuhnya sejenak. teringat pada surat yg di berikan Revan tadi, merogoh kantongnya dan membuka surat itu

Ran,gue tau lo bakal marah dan gak terima sama keputusan konyol gue. Tapi lo tau,gue lebih marah sama diri gue sendiri saat gue biarin lo kesakitan tapi gue gak bisa lakuin apa². Gue bisa aja nyari orang lain yg relain jantungnya buat lo. Tapi buat apa gue hidup kalau dunia sendiri udah nyuruh gue pergi sejauh mungkin.Gue bakal bertahan kalau dunia nyuruh gue bertahan sebaliknya gue bakal pergi kalau dunia gue nyuruh buat gue pergi. Lo tau,lo itu dunia gue,semangat hidup gue, gue sakit saat lihat lo nangis,gue seneng saat liat lo senyum atau bahkan sampe ketawa. Gue tau mungkin gue nyusahin lo,gue sadar! tapi gue pikir lo bakal ngerti gue. Ngerti jalan hidup gue. Lo dunia gue,lo nyuruh gue pergi, maka gue pergi. Jaga diri lo baik². Gue sayang lo,banget.

Rana melipat kertasnya,dada semakin sakit saat tau Dinda pergi karnanya. Rana sudah tidak bisa menahan air matanya, pipinya sudah basah. Rana memeluk bonekanya lagi, menangis dalam diam. Menyesali perkataannya yg menyuruh Dinda pergi.

Friend? Don't Leave Me(Completed)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang