9. Siapa pelangi itu?

58 5 0
                                    

Banyak hal yang aku lakukan dengan ska setiap harinya, itu cukup buatku merasa aku adalah miliknya dan ska adalah milikku, entahlah perasaan apa yang muncul yang jelas aku tak ingin merusak apapun, biarlah seperti ini.

Namun tak berjalan mulus, Ujian Nasional pun aku dan ska sudah tempuh. Dan waktunya mencari universitas, aku ingin bersamamu ska.

"hebat kali ya qil kalo gue bisa kuliah di New York" itu jauh ska, kenapa tidak bersama denganku dan adin saja, di Bandung atau di Jakarta
"ehh iyaa lah hebat banget"
"gue kesana boleh?" kenapa harus bertanya kalau kamu tau jawabannya aku tak bisa jauh darimu ska, eh kamu tidak mengetahuinya ya?
"setuju gak ya..?"
"oiya ska, pelangi lo yang waktu itu lo cerita, itu siapa?" tanyaku ragu
"ko jadi nanya itu?"
"jawab dulu dong"
"pelangi gue udah nutup hati buat siapapun, jadi gatau deh gue bisa apa gak" ska dengan tertawa pelan. Kalau kamu sudah menyerah, aku bisa dong menggantikan pelangi itu? Iya ska? Ah, tidak mungkin aku ucapkan seperti itu
"kenapa qil? ko diem?"
"oh gapapa, nih dimakan kue nastar buatan gue loh kemaren gue sama mami iseng bikin kue" lebih baik tak perlu aku bahas, aku takut ska.

🌯

Pagi hari seperti kataku, aku ada jam kuliah jadi aku bergegas segera ke kampus.

Sumpah ska, hari ini aku tak fokus dengan mata pelajaran ini, bagaimana tidak? Suratmu, aku masih memikirkan bagaimana kamu dan dimana kamu mengirimkan surat ini tanpa kamu beri tahu aku kamu dimana. Ah

Jam 10 kelas berakhir, aku mengunjungi kantor pos terdekat dan mungkin tempat dimana kamu mengirimkannya.
"mas saya mau nanya surat ini, kalau saya boleh tau ini dikirim darimana ya?"
"mba tunggu 10 menit ya, akan kami cek dulu mba"

Iya, aku menunggu cukup lama. Mungkin lebih dari 10 menit, namun tak apa ska apapun itu tentangmu, akan aku tunggu.

"mba Skyva Aqila"
"iya, saya mas"
"surat ini dikirim kemarin pagi mba, dari California, Amerika Serikat"
"makasih banyak ya mas"

Aku berpikir, berpikir dan melamun. Bagaimana tidak? California? Kamu di California sekarang ska? Dimana? Aku menyesal waktu ke New York dan aku hanya berdiam dan berjalan di kota itu saja kenapa tidak semua kota di Amerika aku jelajahi? Ah

"hallo dey, gue udah nemu ska. dia di California " aku langsung menelfon deya
"iya nanti aku akan coba cari ke California qil, kalau aku sudah nememukan alamat benua, aku akan kasih tau kamu secepatnya"

Untung, beruntungnya aku mempunyai teman sekaligus temanmu saat itu, jadi aku disini menunggu alamat dimana kamu tinggal sekarang saja ska. Aku teramat senang mendengar ini.

"surat gue" tiba tiba terbang begitu saja aku langsung mengejarnya. Namun seorang pria sudah memberhentikan surat itu dan terdiam menungguku menjemputnya
"makasih ya"
"aqila kan?" kok dia kenal?
"siapa?"
"rico, anak baru yang gajelas" aku langsung tertawa, penampilanya sudah beda
"gausah ngawur lo"
"gue harus apa biar lo percaya gue riko?"
"hmm"
"lo mirip mantan gue" benar, benar ini rico
"udah kan udah percaya?" rico tertawa pelan
"iya iya"
"btw makasih suratnya, gue duluan"
"tunggu aqila, gue anterin lo ya?"

Rico baik, ya walaupun dulu sangat menjengkelkan, semenjak ia tahu kalau aku dan ska pacaran ia mulai menjauh dariku ataupun mengikutiku dari belakang. Walau kadang aku menemukan matanya sedang memandang diriku, maaf rico.

"sekarang apa qil?"
"gue kuliah disini"
"lo?" tanyaku
"gue jalanin bisnis bokap, kuliah juga sih tapi mager euy" katanya dengan tertawa
"hmm.. masih qil sama sih aqsa?" aku langsung menoleh dan tak menjawab
"eh sorry gue salah ngomong ya?"
"santai aja"
"gue boleh ajak lo makan ga?" dan aku mengangguk

Berbeda dengan ska, dengan ska aku tak pernah masuk ke tempat resto atau makanan yang tempatnya mewah, aku dan ska kalau tidak ke toko kebab yaa angkringan dekat rumah atau di Kemayoran, itu hal yang aku suka ska.

Aku pesan apapun ya dipesan rico. Rasanya tak nyaman makan disini, aku ingin denganmu saja ska.

"gue bantu lo buat cari aqsa ya?"

Iya, aku sudah menceritakan semua pada rico semudah itu, yaa mungkin aku yang dulu terlalu jahat menyiakannya. Namun mungkin sekarang dia berniat baik padaku, kenapa tidak? Jangan cuek bangetlah, kayak aqila yang dulu jadinya, kata ska meledekku.

"Amerika kan luas qil, untunya kita tau titiknya ada di California. Tapi dimananya?" rico ikut memikirkan
"duh gue gak tau caranya gimana co, yang gue tau dia di California aja"
"dia pernah kasih tau lo gak? Kayak dia pengen ke kota ini atau ke suatu tempat?" aku mencoba mengingat
"cuma satu kota, New York. Dalam 3 tahun gue udah bolak balik New York co, udah coba buat jelajahi kota itu. And the least gue gak ketemu dia sama sekali"
"yaudah lo harus pulang, harus istirahat"

Sudah hampir sebulan aku menunggu telfon dari deya, bahkan saat aku menghubunginya nomornya tak bisa aku hubungi. Aku coba kirim beberapa pesan namun tak kunjung deya membalas. Dey, mana kabarmu tentang ska?

"gue harus ke California"
"yakin qil? sendiri?"
"iya seperti biasa"
"gue ikut ya?"
"nanti lo ada kerjaan lagi, gausa co gue sendiri aja"
"it's ok qil"

Tanpa berpikir panjang, aku izin mami untuk mencari ska lagi. Jam kuliahku lagi lagi harus aku tinggal dan aku pastinya menghubungi thalia, teman satu kuliahku untuk memberi tahuku pelajaran yang aku tinggalkan.

Kini aku menuju Amerika lagi ska, yang aku ingin di dalam pesawat hanya bersamamu ska, seandainya rico itu kamu aku akan pergi liburan di New York, bukan sibuk mencari masa depanku yang terombang ambing dan penyesalan masih bersamaku.

🌯

Benua Aqsa: pagi qil, gue jemput lo ya? siap siap

Pesan itu aku temui, semenjak ska menanyakan ingin melanjutkan kuliahnya di New York, aku jarang melihat ska. Bahkan ska jarang sekali berkunjung kerumahku.

"mami, qila keluar sebentar ya sama ska"
"mami bawain bakso ya? lagi mau nih"

Sepanjang jalan, ska tidak mengeluarkan satu patah kata pun, itu yang buat aku ragu untuk memulainya. Yasudah lebih baik aku diam saja juga.

Saat itu malam, banyak lampu menyala dipinggir jalan Kemayoran. Iya, bukan sekali dua kali aku dan ska berkunjung. Tapi sebelumnya ska pasti akan bertanya mau ke Kemayoran atau komplek toko kebab.

"mau ngapain ska?"
"makan"
"yaampun gue kira gue mau diculik"

Ska langsung meraih tanganku, mengajakku ke salah satu angkringan yang terlihat lebih sepi dari tukang dagang sebelumnya.

"gue gatau mau mulai dari mana qil"
"hah? kenapa ska?"
"oiya lo mau makan apa?"
"sama aja sama lo"
"gulai nya 2 ya, yang satu gausah pake nasi ya, pak"

Ska menatapku tajam, dengan membenarkan kacamatanya yang buat aku selalu bertanya, kamu kenapa ska? Mengapa tidak ngomong saja? Mau bicara apa? Ayolah jangan buat aku mati penasaran seperti ini.

"gimana ya qil, cara sampein rasa gue sama pelangi gue itu" siapa sih dia, mulai dari Sekolah Menengah Pertama sampai sudah lulus Sekolah Menengah Atas masih saja dia, aku tak bisa apa gantiin dia? Gumamku kesal
"takutnya gue gabakal nyampein"
"ya lo ngomong lah"
"ajak ketemu lah"
"udah" hah? kapan ska kamu ketemu dengan insan yang lain diam diam?
"katanya?"
"katanya dia gabisa buka hatinya"

Ingin aku remuk pelangimu itu, enak saja memberi mu kekecewaan. Kalau saja aku mengetahui siapa dia, sudah habis sebelum dia menyakitimu.

"habisin qil, yuk pulang"
"ko cepet banget?"
"jangan lama lama bikin kenangan sama gue, nanti lo galau"
"dasar lo ya, gamungkin lah gue galau gara gara lo"

Mungkin dengan beberapa kalimat itu yang buat ska terdiam sedari tadi. Aku bingung ska, makin lama sikapmu tak bisa aku terka.

"jangan tinggalin gue ya, aqsa"
"loh dari bayi baru kali ini gue denger lo manggil nama gue bener?" ska tertawa meledek
"gak lagi bercanda tau"
"iya aqila, aqsa gak pergi kemana mana ko"
"kalo ampe kuliah di New York?"
"hukum aqsa aja karena aqsa udah melanggar janji sama aqila"
"bener ya?" aku menatap ska tajam.

sekiranya, hampir.  [completed]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang