Karina merasa diabaikan oleh pacarnya, Hesa, yang lebih memilih latihan band daripada mengantarnya pulang. Saat memesan Grab, ia bertemu dengan Jeno, seorang driver santai yang berhasil menghiburnya.
Namun, segalanya berubah saat Karina mengetahui...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Langit mulai gelap saat Karina melangkah keluar dari gedung kampusnya. Hari ini cukup melelahkan, dan Karina sudah membayangkan bagaimana rasanya pulang dengan nyaman sambil berbincang-bincang ringan dengan Hesa, pacarnya. Setelah seharian belajar, satu-satunya yang ingin dia lakukan hanyalah bersandar dan mendengar suara Hesa, membiarkan semua tekanan dan stress kampus mencair di hadapannya. Tapi harapan itu buyar dalam hitungan detik.
Begitu dia membuka chat dengan Hesa dan bertanya, "Yang, hari ini bisa jemput, nggak?"
Hesa langsung membalas dengan cepat, "Sorry, Rin. Aku harus latihan band hari ini. Penting banget."
Kalimat itu menohok Karina. Dia menatap layar ponselnya beberapa detik, berusaha untuk nggak merasakan kekecewaan yang datang menghampiri. Ini bukan pertama kalinya Hesa lebih memilih Band daripada dirinya. Musik memang penting buat Hesa, dan dia sering bilang itu adalah passion yang nggak bisa diganggu gugat. Tapi semakin lama, Karina merasa passion itu jadi batasan dalam hubungan mereka. Rasanya seperti Hesa ada untuknya cuma ketika dia kebetulan sedang nggak ada latihan.
"Yaudah, nggak apa-apa," balas Karina, padahal dalam hatinya dia merutuki diri sendiri karena nggak bisa langsung jujur tentang perasaannya.
Dia menghela napas panjang, berusaha menekan rasa kesalnya. Tentu, ini bukan hal besar—setidaknya, begitulah yang dia coba yakinkan pada dirinya sendiri. Lagipula, kan dia masih bisa pulang sendiri.
Merasa nggak punya pilihan, Karina membuka aplikasi Grab dan memesan GrabBike. Sambil menunggu motor jemputannya datang, Karina duduk di bangku taman kampus yang mulai lengang. Dia mencoba mengabaikan pesan singkat dari teman-temannya yang masih ingin nongkrong. Hari ini bukan harinya untuk bersosialisasi. Dia hanya ingin pulang dan menenangkan diri.
Notifikasi muncul di layar, memberitahukan bahwa Grab-nya sudah sampai. Karina menoleh ke arah motor yang baru saja berhenti di depan gerbang kampus. Tapi saat melihat motornya, Karina tertegun. .
Motor Kawasaki Ninja ZX 25RR hitam itu mengilap di bawah lampu kampus. Pengendaranya, seorang cowok berhelm full-face hitam, mengenakan hoodie hitam dengan celana jeans robek. Gaya santainya yang unik justru membuat cowok ini terlihat menarik, Cowo itu sedang menunggu santai sambil menyeimbangkan motornya dengan satu kaki. Begitu melihat Karina, dia melepas helmnya, memperlihatkan wajah yang... ya, lumayan banget.
Karina masih bengong. GrabBike kok motornya Ninja? pikirnya heran. Tapi setelah memastikan nama driver di aplikasi—Jeno—cocok dengan cowok di depannya, dia akhirnya naik.
Jeno menyerahkan helm. "Pegangan, ya. Gue bawanya suka agak ngebut, hehe."
Jeno tertawa. "Tenang aja, gue udah kayak Valentino Rossi kalau soal motor. Aman di tangan gue."
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Motor mulai melaju, dan Jeno—nama cowok itu, seperti yang tertulis di aplikasi—mulai mengobrol. "Hari ini macet banget, ya. Kayaknya semua orang pada mau pulang cepet," katanya, memecah keheningan.
Karina cuma mengangguk singkat, memberikan jawaban seadanya. Biasanya, dia tipe yang ramah dan suka ngobrol, tapi mood-nya lagi nggak mendukung. Melihat tanggapannya yang singkat, Jeno bukannya menyerah, malah makin semangat buat ngajak ngobrol.
"Dosen killer, ya, yang ngajar tadi? Soalnya lo kelihatan kayak habis perang," canda Jeno sambil melihat Karina dari kaca spion.
Karina yang tadinya ingin cuek, akhirnya nggak tahan untuk nggak senyum kecil. Mungkin ada benarnya juga, pikirnya. "Iya, emang dosennya bikin capek," jawab Karina singkat.
"Capek? Kalau gitu, duduk santai aja. Gue kasih ride paling smooth se-Jakarta Selatan," Balas Jeno dengan tersenyum lebar. Cara bicaranya santai banget, nggak terkesan formal atau dibuat-buat.
Karina menghela napas, akhirnya sedikit rileks. Sepanjang perjalanan, Jeno terus berceloteh soal hal-hal random: tempat makan terenak, motor-motor impiannya, salah masuk kelas, sampai cerita konyol dia jatuh di parkiran kampus gara-gara salah injak standar.
Karina akhirnya tertawa juga mendengar cerita-cerita konyol Jeno. Padahal dia tahu, dia seharusnya masih kesal karena Hesa nggak bisa ada di sampingnya. Tapi Jeno entah bagaimana caranya membuat Karina lupa sejenak akan kekesalannya.
"Gimana, lumayan bikin hari lo nggak seburuk tadi, kan?" kata Jeno, sambil mengurangi kecepatan saat hampir sampai di depan rumah Karina.
Karina tersenyum kecil. "Iya. Gue kira tadi bakal bete sepanjang hari, tapi... ternyata lo lumayan juga bikin gue lupa masalah."
"Kalau gitu, kapan-kapan panggil Grab lagi, ya. Siapa tau yang datang gue lagi," ucap Jeno dengan nada bercanda.
Karina turun dari motor, lalu menyerahkan helm dengan hati-hati. "Thanks, Jeno. Ride-nya keren banget."
"Anytime," balas Jeno dengan santai. Sebelum pergi, dia sempat melambaikan tangan. "See you around, Karina."
Karina pun berjalan masuk ke rumah dengan perasaan aneh. Entah kenapa, pengalaman singkat dengan Jeno tadi memberi kesan berbeda. Bukan soal jatuh hati atau apa, tapi ada kenyamanan yang jarang dia rasakan, bahkan dengan Hesa.
Malam itu, sebelum tidur, Karina kepikiran kembali pada perbincangan mereka. Cowok dengan gaya santai dan spontan kayak Jeno—siapa sangka malah bisa membawa tawa dan kelegaan setelah hari yang penuh tekanan? Mungkin, pikir Karina, hari ini nggak buruk-buruk amat.
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.