Angin bertiup di sebuah senja yang sederhana
mencuit daun-daun di pohon rendang itu.
Pohon rendang dengan beraninya berdiri
dan menari bersama tetamu yang tidak dijemputnya.
Maka keberanian itu menggugurkan segala daun-daun mati
yang melingkari keindahan pohon rendang itu.
Dan kokohlah pohon rendang itu menari sendiri
bersama hijaunya.
Satu atau seribu angin sekali pun
pohon rendang pasti menari lagi.

YOU ARE READING
Sejarah Dari Mata Pengalah
PoetryKumpulan puisi dan prosa tulisan M. Firdaus Kamaluddin.