Chapter 4

236 11 0
                                    

PATAH HATI .

Bulan baru saja merebahkan tubuhnya ditempat tidur dan mencoba untuk memejamkan matanya sebelum akhirnya mendengar suara teriakan dari arah luar rumah . Dengan setengah mengantuk dan juga kesal Bulan beranjak dari tempat tidur dan melangkah keluar kamar .

" siapa sich malam - malam gini teriak dan nyanyi lagu sakit hati kayak gitu , " gerutu Bulan sambil mengacak rambutnya dengan kesal .

" siapa sich itu Dek , malam - malam ngamen didepan rumah . Ganggu orang mau tidur saja , " Langit tak kalah kesal seperti Bulan .

" mana aku tau , " kesal Bulan dengan ucapan abangnya barusan , " eh .. tapi tunggu , suara itu .. " Bulan menggantung ucapannya sambil menunjuk kearah luar , begitu juga dengan Langit .

" Aang .. "

" ya .. itu suara Kak Aang , Bang , "

Langit dan Bulan langsung berlari ke arah luar , disusul sang Ayah sambil membawa ember berisi air .

" Kak Aang !! " seru Bulan sambil berlari menghampiri Bintang yang saat ini duduk di atas mobil sambil teriak - teriak dan nyanyi tak karuan . Tetangga kanann kiri rumah Bulan banyak yang keluar rumah dan mengintip dari halaman rumah mereka .

" ini orang kenapa pakai acara mabok - mabokan segala sich , " sungut Bulan sambil menarik kaki Bintang .

" sakit hati ... aku sakit hati ...

Byurrrrrrrr ... satu ember air menghentikan suara sumbang Bintang yang bernyanyi .

" Ayah !!! " kaget Bulan dan Langit bersamaan .

" bawa dia kedalam , Bulan siapkan kopi pahit dan kamu Angit , gantikan baju Aang yang basah dengan baju kamu , " perintah sang Ayah . Tanda menjawab ataupun membantah , Bulan dan Langit melakukan apa yang diperintahkan oleh Ayahnya . Para tetangga yang tadi mengintip pun sudah kembali masuk ke dalam rumah mereka masing - masing .

***

" masuk , pintu gak abang kunci , " seru Langit yang baru saja selesai menggantikan baju Bintang yang basah karena disiram air oleh Ayahnya tadi .

" Kak Aang tidur Bang ? " tanya Bulan sambil meletakkan cangkir berisi kopi pahit yang barusan dia buat .

" iya , sejak Abang bawa masuk kesini dan Abang gantiin bajunya dia tidur , " Bulan berOH ria , " sudah kamu kembali ke kamar saja , biar Aang Abang yang jagain , "

" lah terus kopi pahitnya ? "

" nanti kalau dia terjaga Abang kasih dia minum , "

" ya udah kalau gitu , aku ke kamar dulu , " Angit menganggukkan kepalanya sedangkan Bulan melangkahkan kakinya keluar kamar dan kemudian balik masuk lagi .

" kenapa lagi ? "

" aku kasih tau soal ini ke Bunda sama Om Ayah atau tidak ya Bang ? "

" jangan , " jawab Angit dengan cepat dan membuat Bulan bingung , " sudah biar nanti Abang yang telfon Om Ayah sama Bunda bilang ke mereka kalau Aang nginep sini , " jelas Angit .

" gitu , ya udah kalau gitu , " setelah berkata seperti itu Bulan langsung keluar kamar dan tak lupa menutup pintu kamar Abangnya .

Tidak lama setelah Bulan keluar , Bintang yang tadi entah tidur entah pingsan atau tak sadarkan diri kini terlihat membuka matanya dan berusaha untuk duduk .

" sudah bangun kamu Ang ? "

" Hah ... "

" ini minum dulu , pasti kepala kamu pusing kan ? "

" kok kamu tau ? "

" ya taulah , kamu kan mabok , "

" mabok ? "

" yup , dah minum dulu kopi pahitnya , " dengan enggan Bintang meraih gelas yang diberikan Langit , tapi belum lagi gelas itu dia raih , dia merasakan perutnya tak karuan dan ... muntahlah Bintang yang membuat Langit terkesiap kaget .

" Sorry Git , "

" udah gak apa , buruan kamu minum dan habis ini tidur saja , "

" aku mau pulang saja , "

" yakin mau pulang ? "

" ya lah , " Bintang meminum kopi pahit satu gelas langsung habis , " eh ... kenapa aku ganti baju ya ? "

" kamu itu mabok apa amnesia sich , masak kejadian belum ada satu jam sudah lupa ? " Bintang menoleh ke arah Langit yang tengah membersihkan muntahan Bintang tadi , " Ayah nyiram kamu pakau air satu ember , habisnya berisik banget sich kamu tadi , " Langit menoleh ke arah Bintang yang terlihat termangu , " memangnya kenapa sich kamu sampai mabok kayak gitu ? "

" PATAH HATI , "

" ma ... maksud kamu ? "

" ya ... aku putus sama Tata , atau lebih tepatnya aku mutusin Tata , "

" lho kenapa ? "

" tau ah ... pusing , " setelah berkata seperti itu Bintang langsung merebahkan tubuhnya kembali tak tak menghiraukan pertanyaan atau pun cicitan Langit lagi .

*******

Keesokan harinya Bintang dan Langit tengah duduk manis di ruang makan bersama Pak Surya yang tak lain adalah Ayah Langit dan Bulan . Tadi sebelumnya Bintang sudah menerima beberapa nasehat dari Pak Surya yang dia anggap sudah seperti Ayahnya sendiri , dia memanggil Pak Surya dengan panggilan Bapak .

" tuch dengerin nasehat dari Ustadz Surya , seberapa besar masalah dan cobaan yang tengah kita hadapi jangan sampai kita lari ke barang - barang haram seperti minuman keras , " cicit Bulan yang keluar dari dapur sambil membawa mangkuk besar berisi nasi uduk yang barusan dia masak .

" iya bawel , " kata Bintang menanggapi cicitan Bulan .

" Eh Kak , tapi kalau boleh aku tau .. emangnya kenapa kak Aang sampai mabok kayak semalam ? " tanya Bulan sambil menyendokkan nasi ke piring kosong untuk Ayah serta Langit dan Bintang .

" em ... anu itu , em ...

" putus cinta alias patah hati , " sergah Langit dengan santainya .

" HAH ... Kak Aang putus sama Tratata ? " tanya Bulan dengan wajah shoknya .

" Tata tunangan sama lelaki lain , " jawab Bintang dengan lesu .

" uch ... so poor Kak Aang , tapi percayalah .. Allah pasti akan mengirimkan jodoh yang terbaik buat kakak nanti , " Bulan menepuk - nepuk bahu Bintang dengan pelan .

" bagaimana kalau jodoh aku itu kamu ? " dengan santai Bintang berkata , tapi reaksinya sungguh sangat amat membuat Bulan ternganga tak percaya .

******

Singa , 5 september 2014

BULAN dan BINTANGTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang