loh mantan? -episode 3-

1.2K 252 28
                                    


Villa yang terletak di perbukitan dataran tinggi memang memiliki nuansa hening yang cukup untuk menjernihkan pikiran. Ditambah suara halus deburan ombak menghantam pinggir pantai berkali-kali seperti ritme yang mengalun dengan indah.


Jungkook lagi stress, bruh. Jangan diganggu. Senggol dikit? Auto bacok nih. Amarah Jungkook juga masih belum stabil sejak kemarin lusa.

Jiminnya. Sudah berani bohong sama dia demi Yoongi. Pria pucat mantan ternajiz nya Jimin yang berusaha ia jauhkan dari Jimin. Sebenarnya Yoongi bisa saja segan pada hubungan mereka, kalau saja Jimin tidak membiarkan diri nya seperti mengakrabkan diri dengan Yoongi.

Mama nya serta Eomma Park, sudah ia beritahu kalau ia ke Busan. Namun, Jungkook ngomong nya karena pemantauan lapangan. Asli nya padahal nggak.

Pemantauan lapangan udah dilakuin Appa nya seminggu lalu. Dan villa ini, punya dia sendiri. Keluarga dia aja bahkan gatau kalau Jungkook tinggal disini. Mereka pikir Jungkook di hotel. Jungkook sengaja membangun villa ini dibantu dengan seseorang yang mengenal Busan dengan baik. Untuk diri nya dan Jimin dimasa tua nanti. Tapi, akan kah itu terwujud?


Mengingat kejadian yang menyakitkan itu, sudah 4 hari ini Jungkook berada di Busan. Tidak menyalakan ponsel serta gps nya. Ia tidak mengaktifkan benda-benda elektronik yang ia bawa. Ia pun saat datang ke villa ini, langsung jatuh terduduk. Menangis. Menahan sakit dan kekecewaan yang Jimin perbuat. Memang, harusnya Jungkook mendengarkan penjelasan Jimin terlebih dahulu. Tapi bagaimana ya? Sudah jelas dilarang, kok melanggar. Jungkook ini punya banyak kerjaan jadi nya yaa dia kalau sudah buat kesepakatan kalo udah dilanggar , dongkolnya nggak ketulungan. Susah menjelaskannya memang, hanya Jungkook yang mengerti dan hanya Jimin yang paham.


Jungkook itu juga bisa lemah. Dan kelemahan nya itu ya Jimin. Nggak bisa dia bayangkan aja kalo Jimin lebih milih balik lagi sama Yoongi. Seketika Jungkook bakal bundir sepertinya.

Ngebayanginnya aja serem, apalagi kalo beneran kejadian. Tambah serem kyaknya. Lelaki manis seperti Jimin itu terlalu sayang untuk di jadikan mantan. Dan sejujurnya Jungkook cukup berterimakasih sedikit saja pada masa lalu Yoongi karena sudah melepas Jimin. Hingga Jimin kini bisa menjadi tunangannya.

Baru tunangan. Nggatau bisa jadi istri sah atau nggak.



Telfon rumah yang ia pasang di villa ini berbunyi.

Ia menghela nafas lalu langsung mengangkatnya,

“CEO Jeon Corp. ada yang bisa saya bantu?”


‘Heh, mau jadi anak kurangajar kamu ya..’ Jungkook tersenyum tipis. Ia hanya bercanda, karena ia ingat hanya memberikan nomor telfon rumah ini kepada satu orang saja. Mama nya.

‘kapan kamu pulang eoh? Betah sekali disana sendirian’ Jungkook pun mendudukkan dirinya di sofa terdekat, ia menyandarkan punggungnya pelan sambil terkekeh pelan,

“Mama merindukanku?”

‘DASAR ANAK KURANGAJAR KAMU YA, KALO AJA MAMA BISA KUTUK KAMU VIA ONLINE!’ Jungkook tertawa pelan. Sungguh, sebenarnya tidak ada yang lucu. Hanya saja entah kenapa ia ingin saja tertawa dengan Mama nya.

Setelah itupun hening sejenak,

‘Mama sudah dengar cerita dari Hoseok dan Taehyung’ Jungkook berdehem pelan seakan ngerti arah pembicaraan Mama nya.

“Lalu?”

‘Tidak berniat mau pulang sebentar hm?’ Jungkook pun terdiam sebentar. Berusaha mendengar suara-suara kecil digagang telfon tersebut.

“Ma, sudah dulu. Nanti Jungkook telfon lagi. Annyeong, saranghae Ma” setelah itu Jungkook menaruh gagang tersebut secara kasar.


Ia mendengarnya banyak suara tadi saat diam. Salah satu nya suara lirih Jimin. Ia tau Jimin ada disana. Ia masih butuh waktu atas luka nya.

Berikan dia waktu beberapa hari lagi. Oke? Oke!

.



.



.


“Maafkan Mama, sayang.” Mama Jeon menggeleng pelan sambil menatap sendu kearah Jimin yang kini makin menangis dengan terisak pelan. Disebelahnya Eomma Park hanya mengusap pelan sambil memijat punggung si mungil.

Dihadapannya, ada Taehyung dan juga Hoseok. Tadi, Mama Jeon sempat menloudspeaker percakapan ia dengan Jungkook. Semua mendengarnya.

“Jungkook tidak gentle sekali” gerutu Taehyung yang cukup nyaring

“Bukan Jungkook tidak gentle, sakit hati orang setia itu beda” Jihyun menimpali. Sambil membawa baki yang terdapat gelas berisi limus dingin. Ia mendudukan diri disebelah Taehyung, yang kemudian Taehyung menjewer Jihyun.

“Aw aw aw aw, astaga Taetae. Ini sakit” Jihyun meringis sambil berusaha melepaskan jari lihai Taehyung yang menjewernya.

Mama Jeon duduk disebelah kiri Jimin sambil memegang tangan kiri Jimin,

“Bertahan demi Jungkook ya, sayang?” Jimin mendongakkan pelan kepala. Wajahnya kian hari kian pucat, pipi nya yang selalu terdapat jejak airmata, mata nya yang membengkak, bibirnya yang membengkak juga karena ia selalu menahan isakan dengan mengigiti bibirnya, surai abuabu nya yang tampak kusam. Seperti tidak terawat. Déjà vu. Keadaan ini seperti sudah pernah Jihyun rasakan sebelumnya, meskipun kejadian yang dulu ia tidaktau karena apa.

Jihyun menghela nafas pelan, mau tidakmau ia turun tangan pada akhirnya.


Meski dia tau kalau Jungkook itu sebenarnya bukan tipe orang yang sanggup berjauhan seperti ini dari Jiminnya, namun sepertinya masalah calon kakak iparnya itu cukup serius hingga bisa berjauhan lama dengan Jimin.


“Begini saja,” Jihyun berdiri,

“Besok aku ke Busan. Aku coba membujuk Jungkook-hyung. Kalo dalam 2 hari aku tidak pulang, berarti aku gagal” dengan segera, Jimin pun berdiri dan langsung memeluk Jihyun.

Sementara Jihyun hanya diam mendengar kakak nya yang menggumam ‘terimakasih’ dibalik isakan lirihnya. Ia membalas pelukan kakaknya.

“Jangan begini lagi ya, kalau Jungkook-hyung sudah balik”
Sang kakak menganggukkan kepalanya berkali-kali sambil mengeratkan pelukannya pada Jihyun.

“Berangkat sendiri atau Hosiki-Hyung antar, Jih?”

Jihyun menoleh kepada Hoseok lalu mengeluarkan cengiran tampan nya,

“Pinjam mobil keren Hosiki-hyung aja ya, Jih nyetir sendiri.”



‘Semoga kamu bisa membujuknya, Jih...’ semua orang yang berada diruangan itu membatin sama dalam hati mereka.


Jungkook bukan tipe orang yang keras kepala. Tetapi ia tipe orang yang seperti Jihyun. Memikirkan segala masalah dengan pikiran jernih. Bukan lari dari masalah, namun mencari jalan keluar dari masalah tersebut dengan jeda sesaat.












“Pelukannya udah dong, Minie-Hyung. Jih haus mau minum limus nya”

“Dasar perusak suasana haru.”












****
Edisi 'loh mantan?' Ini apakah drama sekali?
Maaf jika membosankan!

Kkeut.

Talk About KookminTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang