Namaku Eni Bagian 2 (End)

16.2K 74 0
                                    


Hari sudah sore, biasanya aku pulang bareng mobil Dewi, karena dia sakit maka Cika sudah pulang duluan diantar siska teman kami juga, dan aku masih dikampus jalan keluar menuju pangkalan taxi, kalau naik angkot aku masih belum siap mentalnya, karena secara fisik aku sudah wanita betul tapi suaraku masih kelihatan prianya. Dan saat berjalan itulah aku ditegor oleh pria disampingku..” hai cewek mau aku antar pulang..? saat aku menengok ..Johan?? aku sedikit kaget tapi juga bahagia seperti ketiban rejeki. “ Eh makasih..aku naik taxi aja..takut ngerepotin kamu..thanks yah..” ucapku jaga image.” Aku sih kasian ama gaun kamu yang merah maron itu kalau keringat kamu kasihan ..ntar lutur, apalagi sepatu hak tinggimu itu, kasihan kalau patah, ..mau yah aku antarain pulang…paling paling ongkosnya cium pipi kanan kiri” aku kaget dengar Johan bicara seperti itu, apa benar dia mau cium aku lagi..kan aku ini waria, tapi menarik juga sih..” yah udah tapi antar aku pulang loh yah..jangan kamu culik aku loh…” godaku memberanikan diri. “emangnya kalau aku niat culik kamu terus kamu mau ngapain “ timpah Johan sambil senyum nakal…”yah jangan culik dong..mending sekalian kawini aja ….” Ucapku lirih tersipu malu…jujur aku malu sampai mukaku merah saat bicara seperti itu.” He ..he..bisa canda juga kamu yah..yuk naik “ ajaknya, segera aku naik, aku duduk samping karena aku pakai rok panjang, kupegang erat pinggang Johan takut kalau ngebut, saat dijalan Johan sengaja ngebut biar aku nempel terus karena takut jatuh, tapi saat jalan sepi  eh tanganku yang lagi memegang perutnya diturunkan ke resletingnya…” pegangan ini biar nggak jatuh..” ucapnya, aku segera menarik tanganku..”enggak ah..jorok” tepisku malu, masak semudah itu dia mengajakku. “ di gasnya motornya kencang kencang,..aku sampai teriak takut..” nah mau pegang nggak biar aku nggak ngebut?” tanyanya lagi sambil gas diturunkan. “Iyah deh daripada aku mati..” ucapku takut,..kuturunkan tanganku ke resleting dia pegangan benjolan dicelananya, emang sih aku dibelakang jadi nggak liat apa yang aku pegang, namun celana  katun itu sudah menjelaskan apa yang aku pegang yaitu burungnya Johan…aduh gemetar aku saat memegangnnya, ada rasa takut ketagihan.juga ada rasa ingin lebih dari itu. Hujan pun turun keras sekali, sehingga memaksa motor kami menepi, kami menepi di tepi jalan dibawah pohon, baju kami sama sama basah. “ aduh basah yah…”ucap Johan sambil menepis air dibajunya,  “ eh yang kamu basah juga yah..aduh kasian pacarku ini..cantik cantik kehujannan…” godanya sambil coba memegang bahuku,..aku pura pura menepisnya.” Huhh dasar rayuan buaya, nggak mempan…” belaku pura pura melolot sambil aku betulin rambut panjangku yang basah kena air hujan. “eh yang kan lagi sepi ini….pacaran yuk..dingin lagi..jadi pas gitu loh..” rayu johan sambil senyum nakal. “eh kamukan banyak teman wanita, wanita tulen lagi…ngapain ngerayu aku yang bukan wanita tulen..apa nggak malu kalau ada yang tahu kamu lagi jalan atau ngerayu aku….? Hardikku mengingatkannya….” Emang aku pikirin, ..lagian kamu memang bukan wanita tulen tapi wanita cantik…aku suka kamu, jujur saat pertama ketemu motorku habis bensin aku naksir kamu…dan saat aku tahu kamu sebenarnya beny aku nggak peduli…karena kamu lembut, cantik dan benar benar menjaga wanita dihatimu, nggak seperti yang lain seakan akan ingin merebut hatiku dengan segala cara, sedang kamu cuek aja..didekatin tambah melotot terus kayak sekarang ini…hayo..” cetusnya sambil menggodaku..aku mulai kemakan rayuannya. Saat tangannya memelukku aku diam saja nggak berontak, “ sini dingin biar aku peluk dan kamu diam saja kan demi kesehatan kamu biar nggak masuk angin” Waktu itu adalah waktu terindah, kami duduk diatas motor dibawah pohon sambil diiringi musik hujan, aku sandar dipelukan pria yang bernama Johan, pria pertama yang tempat aku bersandar juga yang memeluk aku. Dibimbingnya tanganku memegang burungnya “ eh apaan ini Johan?’ aku kaget. “sudah sayang enggak apa apa, kan aku sudah ngomong mulai hari ini kamu jadi pacarku dan aku janji pasti akan memperlakukanmu dan mencintaimu seutuhnya, yah…” rengeknya pelan sambil menatapku seakan meminta. Aku pasrah..aku pegang burungnya, dibukakannya resletingya, burung nya panjang juga Johan ini apalagi ini masih tidur..batinku, aku pegang burungnya, kukuku yang panjang dan lentik memainkan kulit burungnya dengan halus dan lembut, rupanya Johan sudah terangsang..” say..tolong emut say..plase..aku bisa stroke kalau kamu biarain seperti ini..” ucapnya gemetar…mungkin sudah naik libidonya. Kuberanikan masukan burungnya ke mulutku…aku isap pelan pelan..ehm enak juga yah, biar baunya amis tapi ada kenikmatan yang nggak bisa dijelaskan,..aku teruskan mengisapnya pelan pelan dan aku coba jilati pakai lidah juga sentuhan gigiku, dibagian bawah ditelornya, diujung penisnya hingga tepian burungnya aku rasakan dengan sentuhan hati dan naluri kewanitaanku, dan benar..crut  aku kaget karena muncratan itu memenuhi mulutku, karena tangan Johan menahan kepalaku maka aku telan sperma itu, dan rasa asin serta lengket kurasakan. Aneh aku nggak jijik namun sangat menikmati air mani itu,…Johan tersenyum, setelah dibetulkan celananya dipeluknya aku..”makasih yah sayangku..aku puas, lain kali kita lakukan dengan benar yah..ngga di atas motor gini..” godanya, aku mengangguk. Saat jam 8 aku masuk rumah diantar Johan, kakak  kakak perempuanku yang lagi duduk duduk di teras depan kaget melihat Johan, mungkin karena Johan ganteng dan gagah sehingga membuat kakakku nggak percaya kalau pacarku lebih hebat dari pacarnya. “ mari mbak aku pulang dulu, maaf nggak bisa mampir karena bajuku basah kena hujan..” pamit Johan sopan. Kedua kakakku menggangguk..” oh iya makasih telah ngantar Eny pulang yah..”  jawab kakakku. Saat Johan sudah pergi, kakakku segera menghampiri aku yang sudah pakai daster dan lagi mengeringkan rambutku.” He non siapa tadi ngganteng amat..” tanyanya penasaran. “ Johan…” jawabku pendek. “ Masak kalian pacaran..apa dia homo..” Tanya kakakku penasaran. “hus..kamu ini “ tegur kakak pertamaku ke kakak keduaku, mungkin karena aku waria maka takut aku tersinggung. “ iyah kami pacaran, baru jadian dan dia bukan homo tapi nggak tahu sih,…dulu playboy kampus tapi kok mau ama aku.” Jawabku sambil ngeringin rambut, kakak pertamamu membantu aku mengeringkan rambutku sambil bilang “ iya kakak senang kamu udah punya pacar ngganteng gitu..kamu memang adik kakak yang paling cantik…udah makan dulu biar nggak masuk angin”  kakaku memang semua sayang sama aku, bahkan aku dibilang oleh semua dirumah aku paling cantik dibandingkan kakak kakak perempuanku lainnya.  Hari itu mama ku serta kakaku pada ngrumpiin aku katanya pacaraku ngganteng sekali, sedang pacar mereka kalah semua nggantengnya…jujur aku bangga sih mendengarnya..

Sudah berjalan 2 minggu kami pacaran, Dewi dan Cika pun sangat kaget dan mereka menciumku memberi ucapan selamat karena bisa membuat Johan memilih aku jadi pacarnya. Aku pun sebenarnya juga risih, bagaimanapun aku waria, jadi aku takut reputasi Johan hancur karena pacaran dengan waria. Segera aku tambah semangat menyempurnakan  penampilanku, mulai payudaraku yang aku besarin lagi dengan suntikan hormone, perawatan kulit dan makeup.

Hari sabtu Johan mengapeli ku, sesampai dirumah mamaku menyuruhnya menunggu diruang tamu karena aku lagi dandan. Kakak kakakku langsung keluar semua kenalan dan berbincang bincang  dengan Johan, ada rasa kagum dari mereka sama ketampanannya serta ketenangan Johan dalam menghadapi wanita. Aku pakai gaun malam panjang, Bahu yang lebar dan dada rendah, sehingga belahan payudaraku tampak menggoda serta bahu beranda tanpa tangan sehingga lengan kecilku tampak indah terlihat disekeliling renda. Warna bajuku Biru muda, jadi anggun, rambutku kuurai panjang, dan aku hias bando biru, mamaku Bantu aku dandan, saat selesai dandan dipeluknnya aku sambil diciumnya…”Eny  kamu anak mama yang paling cantik..jaga diri baik baik yah…”ucapnya, aku mengangguk pelan. “ tuh cepat keluar..Johan sudah nungguh kamu..jangan malam malam pulangnya yah…” 

“yah..ma aku pamit dulu” saat aku keluar kamar, kakak kakakku pada melongo melihat penampilanku.” Wah cantik amat, emang mau ke pesta yah…” tanyanya…” enggak kak, Cuma Johan ngajak ke rumahnya jadi yah sekalian kenalan sama keluarganya” jawabku. Kakaku kaget, “ yah udah hati hati yah….”

Aku masuk ke mobil Johan, dia kali ini membawa mobil bokapnya, sepanjang jalan dia melirikku sambil senyum nakal.”kamu cantik..” itu kalimat yang dia ulang ulang, aku Cuma senyum sambil tanganku megang tangan kirinya yang memegang perseleng mobil.  Mobil Johan masuk ke Villa besar, ada saptamnya terus langsung menuju ke kamar belakang, garasinyanya persisi didepan kamar, aku jadi bingung, katanya mau dikenalin keluarganya kok kesini?..batinku.” Johan kok kamu ajak aku kesini? Tanyaku bingung..” iya aku mau ngajak kamu berduaan, aku mau menikmati kasih sayangmu…kita nonton TV bareng, makan bareng terus cerita cerita..yah..” ucapnya, “oh yah udah…” aku ikutin dia masuk kamar, memang mewah sih, garasi langsung bisa ditutup sehingga mobil tidak nampak, belum lagi kamarnya mewah serta besar. Tapi aku sama sekali tidak menyadari apa yang akan terjadi malam itu. Makanan yang dipesan datang, kami makan bersama, saling menyuapi dan bercanda, saat makan selesai, kamipun nonton film di TV besar kamat itu, chanel yang dipilih pas film prancis yang ada adegan sex nya, aku dan johan terdiam melihatnya, jujur aku kepancing juga ama film itu apalagi difilm itu leher wanitanya diciumi oleh sang prianya dengan lembut, ditambah tangannya meremas remas payudara wanitanya semakin membuat aku pingin diperlakukan yang sama, Johan memandangiku, dia bangkit masuk kamar mandi dan sebentar kemudian dia keluar sambil telanjang, aduh..batinku..apa aku akan diperkosa yah…jika iya sebenarnya enak juga yah..tapi aku takut sakit kalau dia masukin burungnya ke lobang pantatku. Johan menghampiriku.” Sayang, kamu sangat cantik ..kakak kakakmu saja kalah semua sama kecantikanmu..benar benar sempurna…” ucapnya sambil merasakan permainan sesungguhnya, saat mulutnya turun ke leherku aku semakin pasrah..lidahnya sangat kasar dan benar benar menjilati leherku hingga hamper rata dia jajah semua. Gaunku mulai dilepaskannya juga BH ku, tinggal aku memakai CD. Tangannya mulai memainkan payudaraku dan sebelah lagi dia kecup dan jilati..aku semakin merasa melayang. Sayang kita ambil posisi 69 yah…pintanya, aku mengangguk, diturunkannya celanaku dan kami ambil posisi 69. Rupanya Johan pintar juga memainkan burung kecilku, diemutnya burungku dan ditarik tarik dengan mulutnya, aduh…memang burungku sudah impotent alias nggak bisa berdiri lagi karena kebanyakan hormone namunmasih terasa saat mulutya mengisap burungku, aku segera membalasnya untuk menganbil Kendali permainan. Aku mainkan burungnya dengan lembut, mulutnya mengisap burungnya dan tanganku meraba raba kakinya yang lebat dengan bulu. Johan terangsang, pantatku dilahapnya, digigit gigit pelan pantat putihku, tangannya mulai nakal masuk ke lubang anusku, meskinpun dibasahi dengan ludahn,ya tapi masih ada sakit sedikit. Pelan sekali dia memasukan jarinya kelubangku hingga akhirnya saat dia sudah tidak tahan lagi mau muncrat dia segera bangkit, aku diposisi jungkit, “sayang tahan yah..sakit dikit tapi enak kok..” bujuknya, aku diam saja sambil menutup mataku takut sakit.  Kepala burungnya mulai masuk..aduh aku kesakitan, aku menggigit bantal untuk menahannya, dan pelan pelan Johan menggoyang goyangkannya kemudian dicoba masukan semuanya…saat itu seperti dineraka, suakit sekali aku sampai menangis..namun setelah masuk dogoyang goyangkannya pelan aku mulai kenikmatan…benar benar enak, kami lakukan sekitar 10 menit dan Johan memuntahkan air maninya kelobang anusku…aku menangis bahagia karena akhirnya aku diperawani oleh pangeran dambaanku.  Kami bepelukan setelah kecapain, aku menangis terus dan Johan memelukku. Aku diantar pulang jam 11 malam dan malam itu rasanya aku resmi jadi istri Johan, karena aku yakin selanjutnya aku akan sering diajak untuk melayani kejantanan dia. Entah sampai kapan kebahagiaan ini aku pertahankan mengingat bagaimanapun  juga aku bukan wanita seutuhnya, meskipun aku melakukan operasi ganti kelamin namun asal usulku tetap seoarng pria. Apa cinta bisa membela seorang waria?

Kumpulan Cerita WariaTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang