[33] Cry Baby Cry

1.6K 173 3
                                    

Iqbaal masih terus menatap frustasi mobil polisi yang membawa gadis itu pergi, terpisah darinya. Ia ingin menangis. Entah mengapa. Mobil itu seakan akan membawa gadisnya pergi dan tak dapat lagi menemuinya. Ia bergegas masuk ke mobilnya. Tancap gas menuju satu tempat yang membuat ulah seperti ini.

Sepanjang jalan ia menangis, benar-benar menangis seperti layaknya perempuan yang ditinggal kekasihnya. Ia tak peduli bahwa ia adalah lelaki. Ia hanya ingin menangis.

Macet.

"Aarrghhh! Hiks.. Hiks.. Kenapa sih?! Kenapa?! Hiks.." Iqbaal meraung-raung sambil memukuli stir nya keras.

💫

Jebum!

Dentuman keras berasal dari pintu mobil yang dibanting oleh Iqbaal. Dengan penuh amarah dan tidak sabar ia memasuki gedung agensi nya.

"Iqbaal! Kamu udah balik?"

Suara teriakan seorang gadis yang berusaha mendekatinya tidak dihiraukan oleh Iqbaal, ia hanya terus berjalan dengan tatapan tajam lurus kedepan tanpa melirik kemanapun. Steffi yang tadi memanggilnya langsung melunturkan senyumnya ketika Iqbaal tepat lewat dihadapannya tanpa melirik sedikitpun. Padahal ia sangat merindukan sosok itu setelah beberapa hari tidak bertemu di gedung ini akibat kepergian diam-diamnya bersama gadis biasa itu.

Namun perasaan Steffi tak enak. Melihat kilatan mata Iqbaal yang tadi di hadapannya, ia tahu itu karna siapa. Pasti ulah pamannya lagi. Dan ia tahu pasti Iqbaal menuju kemana dan akan berbuat apa setelah sampai di ruangan pamannya nanti.

Sedangkan Iqbaal yang sudah sampai di lantai teratas gedung ini—tepatnya hanya ada satu ruangan di lantai ini—tetap berjalan dengan sepenuh amarahnya menuju pintu besar yang tinggal beberapa langkah lagi dari jangkauannya.

"Tuan Iqbaal, anda telah kembali? Apa anda ingin menemui—"

Ucapan sekretaris itu terhenti melihat raut wajah Iqbaal yang nampak jelas. Ia sendiri ketakutan melihat Iqbaal yang seperti ini. Mungkin semua orang yang ada di gedung ini mengetahui bahwa sebenarnya hubungan Iqbaal dengan kepala agesinnya itu tak lah baik, bahkan mereka sering terlihat terang-terangan bertengkar di daerah gedung ini.

"Pak Wijaya!" Bentak Iqbaal ketika sudah berhasil masuk ke dalam ruangan terluas di gedung ini.

"Wah.. wah.. Iqbaal, kau sudah kembali?" Kursi yang tadinya membelakangi Iqbaal kini berbalik, Menatap Iqbaal dengan tawa meledeknya.

"Kauuu!!!!" Dengan langkah lebar Iqbaal mendekati lelaki yang duduk dengan santai di belakang meja panjang itu.

Dengan sepenuh amarahnya yang sejak tadi tertahan, Iqbaal mencengkram kerah baju Pak Wijaya dengan kuat hingga si empunya terbatuk-batuk.

"H—hei, hei, ayolah jangan seperti ini.. Kita bisa membicarakannya baik-baik Iqbaal, uhuk!" Ucapnya.

"Baik-baik bagaimana maksudmu hah?!" Bentak Iqbaal lagi sambil mengencangkan cengkramannya.

"Uhuk! Uhuk! Hei.."

Suara pintu tiba-tiba terbuka dengan tak santai, memperlihatkan Steffi, sekretaris Pak Wijaya dengan beberapa keamanan gedung ini di belakang Iqbaal.

"Baal! Lepasin Om Wijaya!"

"Hei kalian! Jangan diam saja dan jauhkan aku dari laki-laki gila ini!" Perintah Pak Wijaya pada keamanan gedungnya.

Dengan cepat dua orang keamanan mendekat kearah Iqbaal dan Pak Wijaya. Kemudian menarik Iqbaal dengan susah payah untuk menjauhi Pak Wijaya itu.

"Aaakhh! Brengsek kau Wijaya!!" Seru Iqbaal yang masih ditahan oleh dua orang keamanan.

"Silahkan hina aku sepuasmu, Iqbaal" Ucapnya meremehkan, sambil merapihkan kerah bajunya yang dicengkram Iqbaal tadi. "Bawa dia ke apartementnya! Jangan biarkan dia keluar dari situ, kunci pintunya, dan kerahkan keamanan yang ketat di sekitar situ, KURUNG DIA!"

💫

"Buka pintunya brengsek!!"

Bugh! Bugh! Bugh!

Iqbaal terus menggedor-gedor pintu apartemennya yang terkunci dari luar. Sedangkan di luar sudah penuh dengan banyak orang berotot menjaga agar Iqbaal tak bisa kemana-mana. Dengan wajah yang sangat kacau Iqbaal melihat sekelilingnya, menemukan jendela yang akan langsung membawanya terjun dari lantai 22 ini kebawah sana. Tapi ia tak peduli, pikirannya sudah mulai gila. Yang terpenting sekarang ia dapat keluar dari sini dan menjemput (NamaKamu).

Jedugh! Jedugh!

"Aaakkh kenapa gabisaa?!!" Teriak Iqbaal frustasi.

Ia terus mencoba untuk memecahkan jendela yang dikunci. Namun ia baru tersadar, bahwa kaca jendela yang dipasang di apartment nya itu adalah kaca yang tak mudah untuk dihancurkan. Anti peluru, untuk penjagaan dirinya sendiri. Dan ia sendiri yang memasang itu.

"Aaakkhh! (NamaKamu)!" Iqbaal kembali menangis tersedu-sedu. Lalu perlahan tubuhnya jatuh tersender di dinding bawah jendela.

Iqbaal menidurkan dirinya sambil memeluk kedua kakinya sendiri di lantai. Kepalanya terasa sangat pusing, Ia tak tahan dengan semua ini. "Gue pasti jemput (NamaKamu).."

"Tolong.. Hiks.."

"Gue cuma mau jemput (NamaKamu).."

"Ya Tuhan.. Hiks.."

Iqbaal terus menangis. Bergumam bahwa ia ingin menjemput (NamaKamu).

"Baal.. dek lo gapapa kan? Ini gue Omen"

Iqbaal terbangun dari tidurannya dengan langkah gontai namun sedikit berlari mendekati asal suara di pintu. Ia hampir saja terjatuh jika saja ia tidak pandai menahan bobot tubuhnya.

"Bang! Bang Omen! Keluarin gue! Tolongin guee Bang!" Teriak Iqbaal sambil menggedor pintu lagi. Memberi tanda bahwa ia ada di balik pintu yang terkunci ini.

"Iya dek.. lo bentar lagi keluar.. Tunggu dulu ya" Ucap Bang Omen. Terdengar nada kasihan dari luar sana.

"Sekarang bang! Sekarang!! Gue mau keluar dari sini sekarang!!"

"Ma—af.. dek..."

"Aaarrrghhh!!!! Hiks.. Hiks.." Nafas Iqbaal benar-benar tak beraturan. Ia menyerah.

To be continue—

Untittled ✖️ IDRTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang