PROLOG

152 9 4
                                    

Pagi ini, mentari mengeluarkan sinar terbaiknya.

Diatas kapal KRI I Gusti Ngurah Rai bernomor lambung 170, tanggal 21 Mei 2010.



Aku sedang berada di anjungan utama kapal, saat itu hari masih menunjukkan pukul 07.00. Aku kemudian mengambil segelas kopi dan langsung menyeruputnya karena masih hangat. Kebetulan cuaca masih belum bersahabat belakangan ini. Di luar, tampak beberapa anak buah kapal sedang berbincang-bincang sambil sesekali tertawa. Setelah pertempuran di Laut Arafuru sebulan lalu, kapal ini baru saja di perbaiki di galangan kapal di Surabaya. Tugas kami di Laut Ambon sudah selesai dan akan kembali ke Jakarta untuk menghadiri acara Pemberian Medali Penghargaan kepada prajurit yang sudah bertempur di Laut Ambon bulan lalu.

Pagi itu hari masih mendung, menyisakan sisa-sisa badai yang bergemuruh tadi malam. Setelah selesai olahraga pagi, aku langsung pergi ke kamar mandi dan bersegera mandi dan bersiap sarapan. Salah satu awak kapal bertanya kepada Aku ketika sarapan, 

"Kapt, setelah ini kita mau ke Jakarta langsung kan? Apa sebaiknya kita ke Surabaya dulu untuk memastikan keadaan, Kapt?" 

Aku berpikir sejenak, lalu memutuskan, "Yasudah, arahkan kapal ke Surabaya dulu, lalu kita ke Jakarta." Setelah itu kapal berlayar ke Surabaya dan menepi untuk memastikan keadaan.

Kapal sudah sampai di Surabaya dan segera merapat. Aku langsung bergegas turun ke dek bawah dan langsung pergi menemui Panglima koarmada 2 untuk memastikan keadaan sudah aman. Tiba-tiba saja HP saya berbunyi, ternyata Lia yang menelepon.

"Halo? Ini Lia. Kamu dimana?" Terdengar suara dari seberang yang kukenal persis bagaimana raut wajahnya sekarang ini.

"Aku lagi di Surabaya, mau mastiin keadaan sudah aman apa belum. Kamu baik-baik aja kan disana?", Balasku.

"Aku kangen kamu Yan," Ucapnya lirih.

DEG! Sejenak timbul rasa bingung dan kemelut dihatiku. 

Tugasku sebenarnya sudah selesai, tinggal hanya melaporkan keadaan ke koarmada 2, Surabaya. Setelah itu aku bisa pulang kerumah, menemui Lia yang kangennya sudah diambang batas.

"Iya, aku juga. Tunggu sebentar ya, aku akan pulang menemuimu," Balasku.

Setelah itu kapal KRI I Gusti Ngurah Rai melanjutkan perjalanan ke Jakarta. Kemelut dihatiku masih bergejolak, menghantarkan rindu yang telah mendesak untuk dilepaskan.

Hari itu masih menjelang siang, sekitar jam 11.25 siang. Kami masih menikmati hari-hari di atas anjungan kapal, sejuk sekali rasanya. Hari ini kebetulan hari minggu, hari dimana semua kru sedang bersantai di kamar atau sekedar bercanda di anjungan sembari menunggu hari petang.

Jam dinding sudah menunjukkan pukul 15.37, cuaca masih menampakkan suasanya tidak bersahabat. Kurasa hari ini memang langit masih belum bersahabat dengan kami. Kapal KRI I Gusti Ngurah Rai masih melaju di atas Laut Jawa. Aku melihat para nelayan ikan berseliweran mengambil ikan, ada yang sedang menuju ke karambanya, ada juga yang sedang menunggu hari gelap sembari menyusun rencana untuk memancing nanti malam. Kapal masih berada di Laut Semarang, sedikit lagi sampai, pikirku.

Makin dekat kapal dengan Jakarta, makin kemelut juga pikiranku. Entah kenapa ini bisa terjadi. 

"Ah entahlah, mungkin hanya perasaanku saja."

Sekonyong-konyong, Asep, Seorang Sersan Dua memanggilku, "Kap, mohon izin bertanya. Sejak tadi pagi Saya lihat Kapten seperti murung, apa ada masalah, Kap?"

"Siap, nggak ada apa-apa, Sep. Cuma agak pusing aja tadi, mungkin masuk angin," Balasku.

"Izin, Saya punya obat masuk angin kalau Kapten mau," Pungkasnya.

Senja di Atas KapalWhere stories live. Discover now