[10] Sepasang Sapu Tangan

451 54 2
                                    


"Sepasang Sapu Tangan"

A fictional writing by ayspcy



•••

🐰🐰🐰

Sepasang Sapu Tangan

🐰🐰🐰



"Jangan biarkan orang lain mengambil sapu tanganmu, Doyoung-ah. Karena aemi membuatkannya dengan cinta."


Kalimat itulah yang selalu terngiang di benak Kim Doyoung; pemuda nan tampan yang sangat manis, juga memiliki tubuh yang tinggi.

Ia seorang mahasiswa semester lima di Universitas Yonsei, jurusan Psikologi. Berkat otaknya yang cerdas, Doyoung selalu mendapatkan beasiswa penuh untuk melanjutkan perkuliahannya.

Walaupun Doyoung berasal dari keluarga yang berada, tapi ia tak ingin bergantung pada siapa pun. Terlebih lagi dengan kedua orang tua angkatnya.

Ya, Doyoung sempat tinggal di Panti Asuhan Pheony selama sepuluh tahun. Hingga di usia sebelas tahun, ia diangkat menjadi anak oleh keluarga Lee -Lee Donghae dan Yoona Lee.

Berada di jurusan Psikologi, membuat Doyoung sedikit lebih peduli terhadap perasaan orang lain melalui instuisinya. Begitu juga dengan pemikirannya sendiri. Ia menjadi sangat peka saat berhadapan dengan orang lain.

Seperti saat ini. Doyoung tengah memerhatikan dengan seksama seorang gadis yang sedang menangis di hadapannya sambil berjongkok. Bila dilihat dari seragamnya, sepertinya gadis itu masih duduk di sekolah menengah pertama.

"Ini, pakai sapu tanganku," ujar Doyoung sambil menyodorkan sapu tangan berwarna hijau muda pada gadis itu.

Terlihat jelas bahwa Doyoung sedikit enggan untuk memberikan sapu tangan berharganya itu. Lipatan di dahinya, juga bibir bawah yang ia gigit, mendefinisikan bahwa pemuda itu ragu - ragu.

Sapu tangan dengan inisial nama Doyoung di ujungnya, adalah pemberian dari Ibu panti yang begitu ia sayangi -sebut saja Ibu Jung.

Ibu Jung sudah menganggap Doyoung sebagai anak kandungnya sendiri. Bahkan, mungkin (?) ia mengetahui asal - usul Doyoung yang selama ini pemuda itu risaukan.

Sebab, setiap Doyoung menanyakan perihal orang tua kandungnya, Ibu Jung selalu mengalihkan pembicaraan. Tapi terlepas dari itu, Doyoung selalu bersyukur memiliki Ibu Jung dan juga kakak serta adik di panti yang begitu menyayanginya. Hingga ia diadopsi oleh keluarga Lee.

Kembali lagi pada gadis yang bisa dibilang sudah remaja itu -di hadapan Doyoung. "Adik kecil, sudah jangan menangis. Di mana orang tuamu?" lanjutnya bertanya.

Tetap tak ada sahutan sama sekali dari gadis itu. Malah semakin membuatnya menangis kencang. Alhasil Doyoung sedikit panik tapi dengan cepat ia atasi -menepuk pelan pucuk kepalanyanya. "Cup... cup... jangan takut adik kecil. Aku tidak akan berbuat jahat padamu. Ayo, duduk di kursi."

Dan cukup berhasil, gadis manis itu telah berhenti menangis dan mengikuti ajakan Doyoung untuk duduk di sebuah kursi panjang yang tersedia di sana.

Doyoung menghela napas pelan. Beruntung di halte bus sedang sepi. Kalau tidak, ia akan dituduh ingin menculik gadis manis itu. Sungguh pemikiran sempit dari seorang Kim Doyoung.

DOYOUNG BIRTHDAY PROJECTTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang