Anak sulung dari 3 bersaudara yang bernama Ahmad Jeno Faris dan Jisung Rifqi Daffi.
Yang paling sering berantem sama Haris ya si nomor 2, Faris. Yang paling sering kena bentakan ya Daffi.
Diluar Haris keliatan tipe manusia yang tenang kaya airㅡah ga tenang-tenang banget juga tapi seengaknya keliatan lebih hening daripada deretan anak laki-laki dikelas yang rusuhnya luar biasa dan sudah diakui seluruh guru yang pernah mengajar kelas MIPA 1.
Didalam, Haris jauh lebih kompleks. Pertama pemikirannya dan yang kedua sifatnya.
Haris lebih simple dari siapapun. Haris lebih cuek dari siapapun. Haris lebih tertutup dari siapapun
Dan satu lagi,
Haris lebih egois dari siapapun.
Tidak perlu dipertanyakan, Haris sudah mengakui keanehan dirinya. Tapi usaha gimanapun mau ngerubah selalu gagal.
Mau ngebantuin orang tapi otaknya mikir,
Apa untungnya?
Mau ngomong sama orang lain tapi otaknya mikir,
Obrolan penting macam apa yang harus dibahas?
Haris menjadi orang yang paling mudah disalah pahami.
Tidak terkecuali Anna.
Sekarang Anna lagi kaget karena Haris bilang dia sudah suka Anna dari kelas 11, dan jauh sebelum Haris ngantar dia pulang pas selesai kerja kelompok fisika.
"Mana bisa?!"
"Bisa lah... gimana sih?"
Anna melongo, "ga mungkin"
"Mungkin"
"Kok bisa?"
"Ya bisa"
"Haris bener dikit dong jawabannya!"
"Ya ini udah bener Anna, emang iya"
"Maksudnya, kok bisa muka kamu datar datar aja kalo suka aku? Masa ga ada rasa gimana gitu kalo biasa aku recokin"
"Ada kok, tapi emang ga bisa nge- ekspresiin"
"Aku ingat ya dulu kelas 11 kerjaan ku kalo ke belakang sok sok ke meja Ara, padahal aku nungguin kamu datang. Kan kamu suka datang pas bel masuk"
"Males tau disekolah lama-lama. Ngapain juga? Mending tidur dirumah"
"Enak ya jadi cowo tidur lama-lama ga kena omel. Coba aku, bangun lewat dari jam 5 satu blok mungkin tau aku anak males"
Anna narik dua sudut bibirnya kemudian ngehela nafas.
"Ga enak jadi cowo, numpuk tanggung jawab. Gausah jadi cowok"
"Tapi kamu ga pernah kan udah nyapu, ngepel, nyuci piring, nyuci baju terus masih dibilangin 'anak mama ni malas banget sih, rumah berantakan dibiarkan aja' padahal udah dirapiin loh"
Anna ngaduk es teh nya kesal. Kejadiannya baru tadi pagi, Anna masih ingat dengan jelas gimana pelafalan suara dan ekspresi mamanya.
"Tapi serius loh, masa kamu suka aku dari kelas 11? Ga keliatan tau"
"Dulu aku nawarin berangkat bareng pas les kimia, kamu malah nyodorin Joy ke aku sambil bilang 'Ris, bisa tolong bawa Joy ga ke lesan? Aku sama Ara berangkatnya sekalian lanjut les Fisika' Joy deh yang duduk dibelakang ku satu semester"
Anna cuma bisa meringis, ya habis gimana? Emang beneran dia sama Ara, soalnya habis les kimia lanjut les fisika sama Ara karena satu tempat les. Kan aneh kalo berangkat les kimia sama Haris berangkat les fisika sama Ara?
"Ga mau, aku udah risih di ceng-cengin sama Arif 'ihiy bundo pulang sama yayang Zen ya' padahal rumah nenek Zen kan satu komplek sama rumah ku jadi nebeng sekalian, habis itu aku sama Zen sempet canggung. Di organisasi canggung, di kelas lintas minat canggung. Ga enak pokoknya. Padahal Zen itu teman diskusi paling enak, kalo ngasih saran objektif. Kalo salah ya salah kalo betul ya betul"
"Besok-besok kalau ga ada yang jemput aku aja yang ngantar"
"Sembarangan! Rumah kita beda arah, mana jauh"
"Ya gapapa"
"Nih ya dari sekolahan, rumah kamu belok kiri dari simpangan lampu merah terus ngikutin jalan udah, sampai. Kalo rumah ku naik ojol sekitar 23 ribu. Itu aja syukur kalo ada yang mau pick up"
"Mending di ceng-cengin sama Zen apa sama aku?"
Anna diam, rasanya aneh Haris begini. "O-ok"
"Btw kenapa ga makan?"
"Masih kenyang, tadi siang makan dulu sebelum nonton"
Anna ber-oh ria. Dalam hatinya merutuki perutnya. Padahal sebelum berangkat tadi dia juga sudah makan sop ayam, tapi habis nonton perutnya meronta lagi.
"Ris"
"Ya?"
"Kenapa suka aku?"
Haris diam, dia tau Anna pasti nanya hal begini. Tapi menurutnya ga penting, ga ada alasan untuk suka seseorang.
"Ga tau, suka aja"
"Kamu ga tanya aku kenapa aku suka kamu?"
"Kenapa?"
"Kamu pintar, terus ga bacot kaya anak kelas"
Haris mencerna pengakuan Anna, entah dia harus senang atau sedih tau alasan kenapa Anna suka dengan dia.
"Ku pikir ga ada alasan buat suka orang na"
Anna diam. Rasanya kaya skakmat. "Aku mikirnya perlu alasan ris. Gimana ya emm kamu percaya cinta pandangan pertama?"
"Ga tau, aku sendiri belum pernah ngerasain jadi belum percaya"
"Nah sama, aku ngerasa cinta pandangan pertama tu kaya ga beralasan. Jadi rasanya aneh kaya konyol aja gitu"
"Ah aku tau kenapa aku suka kamu"
"Apa?"
"Karena itu kamu"
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.