Pedekate

143 10 0
                                    

Meldina menghela nafas gusar. Ia tidak menyangka efek dari seorang Abenta yang notabennya baru ia temui siang tadi membuat dunianya hampir jungkir balik. Wajahnya, senyumnya tidak sedikitpun mau beranjak dari angannya. Meskipun didepan teman - temannya ia seolah tidak peduli dengan kehadiran sosok Abenta, nyatanya lamunannya tak pernah lepas dari sosok rupawan tersebut.

Apalagi ketika tatapan mereka tak sengaja bertemu dan saat diam - diam mata mereka saling melirik, semua itu menimbulkan gelenyar aneh dalam dirinya. Belum pernah ia merasakan perasaan asing ini sekalipun dengan Dion dulu.

"Arrghhh..." Meldina mengerang, berusaha mengenyahkan pemikiran tentang Abenta. Namun justru bayangan Abenta semakin lekat. Frustasi.

Beep beep
Terdengar notifikasi pesan masuk di ponsel Meldina. Sambil menonton drama korea kesayangannya, Meldina meraih ponsel di depannya.

Sebuah nomor tanpa nama mengirimkannya sebuah pesan.

"Hai, boleh kenalan ga?"

"Siapa ya?"

"Masa ga tau sih?"

"Ya iyalah, lo kan belum ngasih tau nama lo. Ga usah muter-muter ga jelas deh. To the point aja."

"Oke, gue Abenta."

Mata Meldina membulat sempurna, memastikan tulisan pesan tersebut nyata. Berulang kali ia mengeja, namun kalimatnya tetap sama. Oke. gue. Abenta.

Lantas ia menjerit tertahan, tidak bisa menggambarkan perasaannya saat ini. Sosok yang baru saja ia pikirkan mengiriminya sebuah pesan. Sepertinya keberuntungan sedang berpihak padanya. Ia lalu berpikir dari mana Abenta mendapatkan nomor ponselnya. Ah iya, mungkin dari Lea atau Fita. Secara mereka kan tetangga dekat.

Terdengar kembali notifikasinya pesan masuk.

"Hei, kok ga di bales sih?"

"Oh sorry. Gue cuman lagi mikir,lo dapet nomor gue darimana?"

"Itu dari Fita. Kenapa? Lo ga suka gue nyimpen nomor lo?"

"Ah enggak kok. Gue suka - suka aja."

"Kalo sama orangnya gimana? suka ga?"

Kembali mata Meldina membulat hampir melotot keluar dari tempatnya. Ini orang ngomong apa sih? Baru kenal ngomongnya to the point banget, pikirnya.
Namun itu tak membuatnya tidak tersenyum. Senyumnya mengembang sempurna. Seluruh perhatiannya terfokus penuh pada layar ponsel. Bahkan drama korea dengan oppa tampan di televisi tidak membuatnya teralihkan perhatiannya.

"Apaan sih lo?" Wajahnya sudah merah semerah tomat dikulkasnya. Ga nyambung, pikirnya.

"Kan aku tanya kok malah balik nanya, Dinda."

"Dinda? Siapa tuh?" Meldina penasaran. Apa jangan-jangan Abenta salah kirim?

"Nama panggilan untuk kamu."

"Tapi namaku kan bukan Dinda."

"Iya tau. Nama kamu Meldina Ramaya kan? Maka dari itu kamu aku panggil Adinda. Adinda Meldi. Sejenis panggilan sayang gitulah."

Jantung Meldina berpacu dengan sangat kencang. Apa kata Abenta tadi? Panggilan sayang? Orang ini tidak waras kali, masa baru ketemu siang tadi terus baru beberapa menit yang lalu mereka bertukar pesan, sekarang sudah pakai panggilan sayang. Gila, pikir Meldina. Dan sejak kapan panggilan mereka dari lo-gue jadi aku-kamu?

"Kamu ga nolak, berarti mulai sekarang kamu aku panggil Dinda."

"Geli ih."

"Geli tapi suka kan?"

PUPUS (End)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang