Pukul 17.00 WIS, suasana asrama putri sudah sepi, hanya terlihat beberapa santri ndalem dan pengurus seksi pendidikan yang masih berlalu lalang. Dari dalam area asrama terdengar gengungan santri membaca do'a awaluddarsi.
Nadia yang baru saja keluar dari kamar berjalan dengan santainya menuju gerbang madrasah tanpa ada rasa bersalah sedikit pun. Sedang dua orang petugas jaga dari kejauhan menatap Nadia tajam, seperti halnya elang kala menatap mangsanya. Bukan kali pertamanya Nadia berangkat terlambat, bahkan hal ini sudah menjadi hobinya. Kalau tidak berangkat terlambat ya dia malah asyik di loteng tanpa mengikuti pelajaran.
"Nariyahan dulu, Mbak! Sudah kali keenam sampean terlambat. Jika ketujuh kalinya siap-siap saja menghadap Bu Nyai Mawardah," ucap tegas salah seorang yang memakai rompi warna hijau yang terdapat tulisan "petugas" di dada sebelah kiri.
Sesuai peraturan pondok yang terlambat harus berdiri dan harus membaca Sholawat Nariyah sebanyak 33x di depan gerbang.Ketika Nadia tengah menjalankan hukuman Fahmi dan Yusuf tengah berjalan melewatinya menuju kelas tempat mereka mangajar. Yusuf dan Fahmi memang bertugas mengajar di kelas yg berdekatan, sehingga mereka berangkat bareng .
Ketika Nadia menyadari bahwa akan ada beberapa santri putra yang mau lewat di depannya, ia pun membuang muka kearah lain. Nadia memang terkenal sebagai santri putri yang paling bandel tapi jika dengan santri putra ia lebih menjaga muru'ahnya sebagai perempuan. Terlihat cuek dan tak menganggap keberadaannya kala sedang berdekatan seperti yang sekarang terjadi.
Selain itu tak ada satu pun santri putra yang ia kenal. Padahal banyak kang-kang yang mengenalnya dan sering pula Nadia dapat surat dari mereka. Tapi tetap saja ia enggan untuk mengenal mereka. Bahkan ia tidak mau tahu soal mereka, sering teman-temannya menggosipkan tentang kang mana yang mereka suka, tapi Nadia lagi-lagi tak mau ikut andil dalam acara rutinan kaum hawa itu.
*Di beberapa pesantren seperti pesantren yang Nadia tempati melarang santrinya membawa hp, sehingga mereka hanya bisa mengungkapkan cintanya lewat surat.
***
Sesampainya di depan kelas, kang Yusuf ragu ketika akan masuk. Jatungnya berdegup sangat kencang serasa mau copot. Tak hanya itu, tubuhnya pun bergetar karena saking geroginya. Tapi ia berusaha menepisnya karena ingat ini adalah tugasnya. Ia pun menarik nafas pelan dan membuangnya juga dengan perlahan, kini degup jantungnya sudah kembali normal dan dengan percaya diri akhirnya ia memasuki kelas.
"Assalamu'alaikum, kelas 2 Aliyah nggeh? " tanya kang Yusuf memastikan karena dia tak ingin salah masuk kelas yang berakibat memalukan dirinya sendiri.
"Wa'alaikumussalam ... nggeh kang" jawab serentak santri putri.
Akhirnya kang Yusuf masuk dengan menundukkan kepalanya untuk menjaga pandangannya, selain itu ada juga rasa malu menyelimuti hatinya.
Pria dengan kemeja putih serta sarung hitam itu pun akhirnya membuka pelajaran dengan do'a awaluddarsi.
بسم الله الرحمن الرحيم
قال الشيخ المصنف رحمه الله تعالى و آدام النفع به و بعلومه في الدارين .. آمين... قالوا سبحانك لا علم لنا الا ما علمتنا إنك انت العليم الحكيم."Sampe pundi niki pelajarane?" tanya kang Yusuf mengawali pelajaran.
"Sampe halaman 24, Kang, fasal ****"
"Bismillahirrahmanirrahim Qala ...." Kang Yusuf pun mulai membacakan kitab.
Sampai di baris ke-2 tiba-tiba ada yang mengetuk pintu.
"Assalamu'alaikum"
"Wa'alaikumussalam" sontak Yusuf menoleh ke arah pintu sekilas melihat siapa yang datang.

KAMU SEDANG MEMBACA
MAHLIGAI CINTA SANTRI NDALEM
RomanceYusuf Mahfudz santri abdi dalem yang populer diharuskan mengajar santri putri yang terdapat seorang gadis yang terkenal dengan banyaknya catatan kasus pelanggaran, Nadia Hasna. Sabarkah Yusuf menghadapi murid yang nyentrik itu? Padahal ia terkenal k...