"Taukah kamu, Ning, ingin rasanya aku menghampirimu, mengungkapkan semua rasa yang selama ini aku pendam. Mengungkapkan betapa hati ini tersiksa karena kerinduan.Ning, aku ingin memohon keikhlasanmu karena namamu sering aku curi dalam untaian do'aku. Kusandingkan dengan nama-nama yang selama ini berarti dalam hidupku.
Ning, sanggupkah engkau menungguku setahun saja? Kujanji akan segera meminangmu dihadapan orangtuamu. Ingin kujadikan engkau khumaira'ku, kekasih dunia akhiratku."
Sebait kata-kata nan indah yang hanya bisa diucap Fahmi dalam benaknya tanpa berani untuk mengungkapkan. Hal senada juga terbatin oleh Nisa, ketika mereka sedang beradu pandangan.
"Kang, Allah menakdirkan kita bertemu disini tanpa kita rencanakan. Aku percaya suatu saat nanti kita akan bersama selamanya".
Yusuf dan Fahmi diperintah Bu Nyai untuk mengganti lampu-lampu ndalem dengan lampu yang lebih terang.
***
Kamar Gus Zaen terletak dipojok sebelah kanan lantai atas, sedang sebelah kirinya adalah kamar Ning Zahra. Kamar mereka terpisah oleh ruangan yang didesain hampir mirip dengan ruang tamu dilantai bawah, bedanya diruangan itu dilengkapi dengan meja kursi. Terlihat mewah namun klasik karena prabotannya terbuat dari kayu jati dengan dilengkapi ukiran-ukiran yang indah.
Fitria sempat berdiri mematung tepat didepan pintu kamar Gus Zaen. Ada rasa canggung dibenak Fitria saat akan memasuki kamar tersebut. Hatinya berdebar begitu hebat, seakan dirinya akan berhadapan langsung dengan pemilik kamar itu.
Kamar Gus Zaen masih terjaga kerapiannya meskipun telah ditinggalkan pemiliknya. Kamarnya cukup luas, dilengkapi dengan lemari dan rak buku yang juga terbuat dari kayu jati. Di rak buku terpajang sederetan buku-buku juga kitab-kitab ulama' salaf yang tersusun sangat rapi.
Anehnya, tak ada ranjang tidur disana, hanya karpet hijau yang membentang memenuhi seluruh lantai kamar.Diatas nakas terdapat foto Gus Zaen yang terbalut vigura nan cantik, sejenak Fitria memandangi foto gusnya itu.
"Seandainya engkau memintaku bersanding menemanimu, dengan suka rela aku bersedia, Gus" batin Fitria.
*******
Untukmu yang terkasih,
Engkau bagai jelmaan bidadari firdaus yang mungkin saja sedang tersesat di alam dunia. Wajahmu begitu rupawan dalam balutan hijab yang menjadi ciri khasmu sebagai seorang muslimah sejati.
Melihatmu serasa engkaulah penampakan Sayyidah Fatimah putri sang Baginda. Kecantikanmu yang berbalut sederhanaan, membuatmu semakin menawan.
Bibirmu yang selalu terbasahi oleh lantunan ayat nan suci,
Menambah pancaran indah yang menyeruak menghiasi wajahmu.Kasih, taukah engkau?
Aku memendam rasa sejak pertama kali netra ini beradu pandang denganmu tanpa kesengajaan.Goresan kalam di lauhul mahfudzlah yang menjadi saksi atas pertemuan kita.
Pertemuan yang menjadi cikal bakal rasa ini mengusik jiwa.apakah rasa yang bersemayam dalam hati ini juga takdirkah Yaa Rabb?
Atau hanya sebagai ujian untuk diriku?
Aku janji akan kujaga rasa ini dalam ketaatan.Kasih, kau pun hafal
Aku sering menyebutmu Mawarku,
Karena engkaulah jelmaan bunga Mawar yang keindahannya mampu menarik hati.
Tak hanya indah,
Namun semerbak harum yang menyeruak mampu memberi kedamaian.
Begitupun kamu, Kasihku.
Setiap orang yang ada didekatmu selalu kembali dengan kedamaian hingga hilang duka laranya.Kutulis secarik sajak yang tak kan pernah kusampaikan kepada sekuntum mawarku yang kurindu.
Ku tunggu sampai saatmu engkau menjadi halal untukku.Aku sendiri tak tau apa sebenarnya yang aku tulis.
Ungkapan cinta kah atau hanya sebuah coretan unfaedah yang harus berakhir di tempat hina.Mawarku, tetaplah dalam ketaatanmu sampaiku menjemputmu dihadapan orangtuamu.
Ahmad Zaeni Abdullah
29 Oktober 2014
============================
Setelah membaca secarik kertas yang tak sengaja Fitria temukan, hatinya langsung hancur. Pupus sudah harapannya menjadi pendamping gus yang ia puja.
Kertas itu sebagai saksi bahwa gusnya menyimpan rasa kepada seorang wanita yang sangat istimewa.
Hatinya yang begitu hancur langsung disambut dengan tetesan-tetesan bening yang membasahi pipinya. Mungkin hanya dengan menangislah dapat meringankan beban yang ada dalam hatinya. Dinding kamar Gus Zaen hanya mampu terdiam membisu memandang Fitria yang sedang tersungkur dalam kesedihan.*****
Gus Robeth belari menghampiri uminya sambil menentang gawai ditangannya.
"Mik, Mas Zaen" kata Gus Robeth sambil menyerahkan gawai yang ada ditanganya.
"Kaleh Mas Yusuf mawon ya dek?" jawab Bu Nyai disela-sela kesibukannya mengarahkan tugas yang akan dilaksanakan oleh Yusuf dan Fahmi.
Mendengar titah bu nyainya, Yusuf pun langsung faham apa yang harus dilakukannya.
"Mriku, Gus, kaleh Mas Usup mawon nggeh?" sela Yusuf.
Gus Robeth yang mendengar ajakan Yusuf, akhirnya dengan senang hati langsung menyambut ajakannya. Tertinggalah Fahmi dengan bu nyai serta Nisa yang sedang menyapu. 2 insan yang saling merindu tapi tak mampu mengungkapkan perasaannya.Yusuf dan Gus Robeth pun akhirnya menuju kelantai atas. Kesebuah ruangan tamu yang ada disebelah kamar Gus Zaen. Yusuf pun tak menyadari bahwa Fitria juga sedang ada dikamar Gus Zaen.
Sedang Fitria yang ada dalam kamar Gus Zaen langsung mengusap air matanya begitu mendengar suara langkah kaki yang sedang mendekat.
Lantai atas memang jarang dipakai, jadi jika ada sedikit saja suara, suaranya langsung menggema memenuhi semua ruangan. Makanya ketika Yusuf dan Gus Robeth menuju ke lantai atas suaranya otomatis terdengar dari kamar Gus Zaen.Setelah memarkirkan pantatnya kekursi jati yang ada di ruangan tersebut, dengan sangat hati-hati Yusuf mulai sibuk mencari nomor kontak milik Gus Zaen yang ada dalam gawai milik bunyainya itu. Begitu nama Gus Zaen ditemukan, langsumg saja tombol yang menunjukkan pilihan telfon vidio Yusuf pilih. Tak seberapa lama, nomor yang dituju segera menjawab panggilan itu.
"Assalamu'alaikum" sapa Gus Zaen.
"Wa'alaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh" jawab Yusuf.
"Pripun kabare, Kang Yusuf, kok tumben damel nomere Ibuk leh telfon?" tanya Gus Zaen yang baru sadar setelah terlihat jelas gambar penelfon di ponselnya. Ternyata yang menelfon adalah sahabat karibnya di Indonesia.
"Alhamdulillah sae, Gus, jenengan pripun kabare? Niki tumben mawon Gus Robeth nyuwun ditelfonaken jenengan" jawab Yusuf
"Alhandulillah sae ugi, Kang. La nggeh kok tumben dek Robeth pengen telfon, mesti enten maune niki?" selidik Gus Zaen. Kang Gus Robeth yang sejak tadi terdiam akhirnya angkat bicara.
"Dikengken Mbak Asna kok" jawab Gus Robeth.
Mendengar jawaban Gus Robeth, sontak Yusuf dan Gus Zaen langsung mengernyitkan dahinya dan dengan bibir seperti mengucap nama "Asna?" namun dengan nada yang sangat lirih hingga tak mengeluarkan suara.
Fitria yang semula larut dalam kekecewaannya, kini melanjutkan pekerjaan yang ditugaskan kepadanya. Semangatnya kembali bangkit begitu samar-samar terdengar suara Gus Zaen via telfon. Kini rindunya kepada gusnya terobati sudah.

KAMU SEDANG MEMBACA
MAHLIGAI CINTA SANTRI NDALEM
RomantizmYusuf Mahfudz santri abdi dalem yang populer diharuskan mengajar santri putri yang terdapat seorang gadis yang terkenal dengan banyaknya catatan kasus pelanggaran, Nadia Hasna. Sabarkah Yusuf menghadapi murid yang nyentrik itu? Padahal ia terkenal k...