Sudah hampir 2 bulan Fahmi pindah ke pesantren yang diasuh oleh KH. Husain Affandi, yang tak lain adalah adik iparnya KH. Abdullah Mansur. Letak pesantrennya berada di pinggiran kota dengan penduduknya yang sangat padat. Hal ini sangat berbanding terbalik dengan suasana di pesantrennya yang dulu. Pesantren Fahmi yang dulu lokasinya berada di daerah pedesaan, di lereng pegunungan, sehingga selain suasana yang sepi juga udaranya sangat sejuk.
Fahmi harus berusaha menyesuaikan diri ditempat yang baru, sebagai bukti baktinya kepada kyainya. Dengan menjalankan amanah kyainya semaksimal mungkin.
Selain penyesuaian suasana alam, Fahmi juga harus menyesuaikan diri dengan penduduk sekitar, yang sangat jauh berbeda dari pondoknya dulu. Jika dulu dia terbiasa dengan penduduk sekitar yang juga dari kalangan santri dan mayoritas petani desa. Kini Fahmi dihadapkan pada situasi dimana penduduk sekitar yang mempunyai bermacam-macam faham agama dan profesi.
Kyai Husain atau biasa dipanggil Ustadz Husain, memang sengaja membangun pondok di lingkungan yang minoritas muslim. Dakwahnya ditunjukkan kepada mereka-mereka yang masih minim sekali tentang pengenalan islam.
Pondoknya Ustadz Husain didirikan tepat di depan sebuah gereja yang sangat megah. Menjadi tantangan tersendiri bagi beliau, bagaimana seharusnya menyampaikan dakwah dengan mengenalkan islam rahmatal lil 'alamin, bukan hanya islam yang rohmatal lil muslimin. Dengan tetap terjalinnya suatu persatuan tanpa adanya pertentangan di tengah keberagaman perbedaan.
"Ngapunten, Ustadz, niki mengke rencana ingkang diundang teng acara haflah sinten mawon? Kan biasane teng pondoke Abah Abdullah penduduk sekitar nggeh diundang (Maaf, Ustadz, ini nanti rencananya yang diundang di acara haflah siapa saja? Kan biasanya di pondoknya Abah Abdullah penduduk sekitar juga diundang)." tanya Fahmi.
Fahmi dan Ustadz Husain sedang mengatur rencana untuk acara haflah pondok yang akan dilaksanakan 3 bulan lagi. Haflah atau haflah akhirussanah adalah sebuah acara tahunan di pesantren yang dilaksanakan setiap akhir tahun pelajaran, atau tepatnya di bulan Rojab.
"Ya, penduduk sekitar juga harus diundang, Kang. Meskipun beda keyakinan, mereka juga tetangga kita. Setidaknya kita menghargai keberadaan mereka. Soal hadir tidaknya itu urusan belakangan." jawab Ustadz Husain
"Nggeh, Ustadz"
"Rasulullah kan selalu mengajarkan kepada kita untuk selalu menjaga hubungan baik kepada semua makhluk. Pernah suatu ketika Rasulullah diminta sahabat untuk melaknat kaum musyrikan. Namun apa tanggapan beliau? Beliau langsung menolaknya, "Aku diutus di dunia ini untuk menyampaikan rahmat". Jadi seharusnya kita juga berdakwah seperti anjuran beliau. Seperti hal sesederhana ini, ketika pondok ada acara apapun, kita juga harus mengundang mereka. Siapa tau salah satu dari mereka ada yang mau hadir, dan pada akhirnya tertarik dengan Islam. Kalau sampai masuk islam kan bisa jadi ladang pahala buat kita, Kang. Kita di sini cuma berusaha melanjutkan dakwahnya Rasulullah. Soal diterima atau tidaknya tergantung hidayah dari Allah." jelas Ustadz Husain.
Ustadz Husain menghela napas sejenak. Beliau membenahi posisi duduknya senyaman mungkin dengan menyandarkan pungunggnya ke sandaran sofa.
"Dulu, untuk mendapatkan izin mendirikan pesantren di sini pun kita harus berjuang mati-matian. Karena langsung mendapat penolakan dari tokoh agama sekitar."
Tok ... tok ... tok ....
Belum usai Ustadz Husain bercerita, terdengar seseorang mengetuk pintu ruangan tersebut.
"Tolong sampean buka, Kang. Mungkin itu Mbak Rahma." perintah Ustadz Husain.
Fahmi pun segera menuju ke arah pintu itu, dan segera membukanya.

KAMU SEDANG MEMBACA
MAHLIGAI CINTA SANTRI NDALEM
RomansaYusuf Mahfudz santri abdi dalem yang populer diharuskan mengajar santri putri yang terdapat seorang gadis yang terkenal dengan banyaknya catatan kasus pelanggaran, Nadia Hasna. Sabarkah Yusuf menghadapi murid yang nyentrik itu? Padahal ia terkenal k...