[34] I 🖤 U too, Baal

1.7K 182 2
                                    

(NamaKamu) duduk di kursi penumpang ditemani Zizi disampingnya. Ia menolak untuk duduk di depan membiarkan Hanif jadi duduk sendiri di kursi kemudi. Hanif memaklumi hubungannya dengan gadis itu yang memang tak sebaik dulu.

Gadis berambut panjang sebahu ini terus menatap keluar jendela, menatap kearah laju mobil yang berlawanan arah. Ia mengamati tiap mobil yang lewat di sebrang, mencoba mencari kalau-kalau ada mobil yang ia kenali betul terselip diantara banyaknya mobil yang lewat, mobil Iqbaal. Hanif menatap gadis itu lewat kaca spion yang ada di tengah.

"Ini hujan, Iqbaal udah sampai mana, ya? Coba aja Zizi mau nunggu sebentar, jangan-jangan 'kan Iqbaal udah dijalan dan malah jadi sia-sia gue nya udah pulang" Cicit (NamaKamu) pada dirinya sendiri hampir tak terdengar. Namun lelaki yang duduk dibalik kemudi yang berada tepat di depannya itu masih dapat sedikit mendengarnya tanpa Ia tahu. Hanif berusaha menghirup oksigen banyak-banyak setelah tak sengaja mendengar cicitan mantan kekasihnya itu. Hatinya masih terasa diremukan ternyata, mendengar gadis itu memang nyatanya sangat menyayangi seorang Iqbaal.

Tak sadar sudah berapa lama ia meneliti mobil di jalanan berharap terselip mobil yang ia harapkan, ternyata mobil Hanif sudah terparkir rapih di pekarangan rumah sakit. Hanif membuka seat belt nya, diikuti Zizi. (NamaKamu) sepertinya masih belum tersadar, terlihat dari posisi nya yang belum bergerak sama sekali. Hanif melihat keadaan di jok belakang, disambut Zizi yang mengkodenya untuk melihat (NamaKamu).

"(Nam).." Zizi menepuk pundak gadis itu hati-hati.

Si empunya pun langsung menengok dengan bekas air mata di pipi nya yang entah disadari atau tidak.

"Yuk" Lanjut Zizi mengajak.

(NamaKamu) hanya dapat mengangguk. Dalam dirinya ada rasa tak sabar untuk kembali melihat Ibunya, namun kerinduan pada sosok Iqbaal juga memenuhi dirinya. Bagaimana dan dimana lelaki itu sekarang? Apa ia masih mengingat gadis yang terus menunggunya ini?

💫

"Mamaaahh!"

"Hiks.. hiks.. Mahhh.."

"Mamah banguunn"

"Yaallah Mamaahh (NamaKamu) sama siapa lagii"

Puk.. Puk..

"Udah (Nam), Udah" Ucap Zizi sambil menepuk pundak (NamaKamu) berkali-kali sambil menghisap ingusnya sendiri.

"KENAPA LO GAK KASIH TAU GUE DARI KEMARIN SI, ZI?!"

"Iya (NamaKamu).. Maaf.."

"KALO TAU GINI GUE GAK BAKAL PERGI SAMA IQBAAL ZIII!!"

"(NamaKamu)! Cukup!" Kali ini suara yang keluar dari satu-satunya lelaki diantara mereka bertiga.

"Harusnya lo mikir! Tanpa tau nyokap lo bakal udah gak ada disaat lo pergi juga harusnya lo mikir sebelum mau diajak pergi sama Dia!" Hanif mengatur nafasnya. Emosi nya sejak kemarin sudah tak dapat dipendam lagi. Ia tak peduli dengan (NamaKamu) adalah gadis yang ia sayangi ataupun keadaan (NamaKamu) yang seharusnya tak boleh diperlakukan seperti ini disaat situasi yang begini.

"Harusnya lo mikir (Nam).." Oktaf suara Hanif menurun. "Disaat nyokap lo kayak gini, gak semudah itu ninggalin dia dengan segala kemungkinan yang terjadi disaat lo pergi.."

"Bahkan gue ataupun Zee baru tau lo ditahan sementara itu hari ini. Dan kita langsung jemput lo. Kita pikir lo belom sampe Jakarta. Kalo kita tau juga kita udah jemput lo dari kemarin! Apa cara terimakasih lo ke kita kayak gini?"

(NamaKamu) terdiam. Yang dikatakan Hanif sepenuhnya benar. Ini salahnya. Dan sekarang hanya penyesalam yang ia dapati disaat kembali melihat tubuh Ibunya yang sudah pucat dan kaku.

Baal..

Bahkan disaat seperti ini lagi pun, (NamaKamu) masih dapat menyerukan namanya dalam hati.

💫

(NamaKamu) dengan pakaian serba hitamnya dilengkapi dengan kacamata hitam berjongkok disamping gundukan tanah dengan kayu yang ditancapkan. Nama Ibunya terpampang jelas pada kayu yang tertancap diatas gundukan tanah tersebut. Air matanya belum juga kering sejak sore kemarin.

Di sebelahnya, ada Zizi yang selalu mengelus-elus pundaknya menenangkan. Dan di sebelahnya lagi ada lelaki yang pernah mewarnai hidup (NamaKamu) berdiri dengan tegak memandang gadis yang masih menangis tersedu itu, Hanif. Terbilang lumayan banyak kerumunan orang berpakaian senada hitam yang mengantarkan Ibu (NamaKamu) pada peristirahatan terakhirnya.

Inilah kenyataannya, ternyata Ibu (NamaKamu) telah menghembuskan nafas terakhirnya tanpa kehadiran anak gadis semata wayang disampingnya. Dan itulah hal yang paling ia sesali hingga saat ini. Saat datang untuk kembali, ia malah hanya mendapat jasad Ibunya yang telah pucat dan kaku. Alasan mengapa (NamaKamu) dapat bebas dengan mudah dari tahanan sementara itu juga berkat koneksi keluarga Hanif dan tentunya kematian Ibunya.

Kerumunan orang berbaju hitam mulai meninggalkan tempat itu sedikit demi sedikit. Meninggalkan (NamaKamu), Zizi, dan Hanif disana. Seorang lelaki gempal yang tadinya berada di kerumunan belakang perlahan maju mendekati gadis yang masih memeluk kayu putih itu.

"(Nam).. Gue turut berduka cita, yang amat dalam" Hanya itu yang dapat ia katakan.

(NamaKamu) tak menjawab apapun. Mulutnya terlalu sulit untuk mengeluarkan kata demi kata sejak kemarin. Yang ia dapat keluarkan hanya erangan dan lirihan tangis atas kepergian Ibunya yang terbilang mendadak itu.

Lelaki bertubuh gempal itu ikut berjongkok tepat dibelakang (NamaKamu). Memperhatikan punggung gadis itu yang masih turun-naik sejak tadi. "Tunggu Iqbaal ya, (Nam)"

Mendengar satu nama itu, (NamaKamu) mengencangkan cengkramannya pada kayu putih bertuliskan nama Ibunya. Matanya ikut terpejam seiring cengkramannya yang semakin kuat. Ia menahan mati-matian segala yang ada di dalam dadanya tentang satu nama itu.

Baal, gue kangen. Kangeeennn banget.

Gue sempet kecewa, tapi ada rasa lain yang lebih besar dari rasa kecewa ini.

Apa yang lo kasih ke gue sih, sampe gue bisa jadi kayak gini ke lo?!

Tangan lelaki bertubuh gempal itu menangkap bahu (NamaKamu) saat mengatakan satu kalimat terakhir tadi. Berusaha mengirim semangat, kekuatan, serta dukungan lewat tangannya itu. Hanif yang melihat sontak dengan perlahan dan sopan menjauhkan tangan itu dari pundak gadis yang masih ia sayangi. Untuk sekarang, apapun yang berhubungan dengan Iqbaal akan menyulutkan emosinya.

"Yaudah, gue balik dulu" Ucap lelaki itu menghela nafas.

"Makasih, Bang Omen"

Suara serak dari mulut (NamaKamu) akhirnya terdengar. Membuat Hanif maupun Zizi sempat melebarkan matanya. Ini adalah kalimat pertama yang terlontar dari mulut gadis itu sejak kemarin sore.

Bang Omen tersenyum seraya mengangguk meski tak terlihat oleh (NamaKamu), karna gadis itu memunggunginya.

Gue tunggu lo, Baal.

To be continue—

JADIII

ada yg berniat bikinin untittled cover baru gaaa?:((

aku g pinter ngedit.

apalagi bikin cover.

bisaku cuma mencintaimu

EHE *cute girl adeknya si nopal*

:)

Untittled ✖️ IDRTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang