(4)

43 4 0
                                    

****
Bruuukkk....

Angkasa melempar tasnya sembarang tempat lalu membanting tubuhnya di kasur. Ia termenung sambil memandangi langit-langit kamarnya. Dia memikirkan apakah langkah yamg selama ini dia ambil sudah benar, tidak merugikan dirinya sendiri dan juga orang lain, entahlah sampai saat ini dia belum bisa berfikir jernih.

Dari pada terus-trusan larut dalam fikikirannya yang sedang kacau, dia memutuskan mengambil ponsel nya yang tergeletak di nakas. Lantas ia membukan aplikasi chatting berwarna hijau itu. Seperti biasa, begitu dibuka akan banyak sekali pesan masuk, mulai dari berbagai grub yang entah bagaimana dia menjadi anggotanya, dari teman-teman nya, sampai dari penggemar-penggemarnya yang tidak pernah lelah mengganggunya.

Ya, bagi Angkasa itu sangat mengganggunya. Dia berfikir apa mereka tidak punya pekerjaan lain selain mengirimnya spam chat. Meskipun ia sudah membatasi ruang lingkup pergaulannya dan juga hidupnya, tetapi tetap saja tidak ada yang bisa menolak pesona seorang Kalingga Angkasa Putra Galileo. Mereka tidak pernah berhenti mengejar Angkasa meski tidak mendapat respon, semakin hari pengganggunya itu bukannya berkurang justru malah bertambah. Sebenarnya ingin Angkasa memblok semua kontak pengganggu itu, tetapi mamanya pernah mengatakan untuk jangan pernah mencari musuh. Dan mem blok kontak-kontak itu berpotensi tentunya.

Angkasa menscrool chat yang masuk, sampai ada sebuah pesan dari nomor tak dikenal menarik perhatiannya. Foto profilnya, ya Angkasa mengenalnya! Saat ia akan membuka room chat nya...

Tok tok tok....

"Ngga, mama boleh masuk!"

Belum sempat Angkasa menjawab, mamanya sudah membuka pintu dan masuk terlebih dulu.
Angkasa beranjak duduk begitu mamanya duduk di pinggir kasur.

"Gimana sekolah kamu Ngga?"
Ya, mamanya termasuk keluarganya memang memanggilnya dengan nama Lingga.

"Baik kok mah, papa masih belum pulang ya?"

Nadin mengusap puncak kepala putra kesayangannya itu.
"Kamu kan tau sendiri kesibukan papa kamu ngga, maklumin aja"

"Oh iya, sebenarnya mama kesini mau ngomongin sesuatu sama kamu tapi kamu jangan marah, fikirkan baik-baik dulu"

"Udahlah ma, aku nggak mau kalo mama lagi-lagi ngomongin hal itu. Aku pingin menjalani kehidupan dengan kemauanku mah, bukan kemauan papa"

"Mama bukan mau ngomongin itu sayang. Yaudah biar nanti papa kamu aja yang ngomong. Mama mau ke luar dulu"

"Iya mah" Jawab Angkasa menghela nafasnya.

Akhirnya Angkasa memutuskan untuk memejamkan matanya, dari pada pusing memikirkan semua itu.

****

Angakasa mengeringkan rambutnya dengan handuk, dia baru saja membasuh tubuhnya selepas bangun tadi. Ia melihat mama yang begitu dia cintai sedang menata berbagai macam makanan di meja ruang makan dibantu bi Mirna.

"Mama kok masak banyak banget sih ma"

"Papa kamu nanti pulang ngga, terus temen papa juga mau kesini nanti. Kamu ganti baju gih, nanti ikut makan malam"

Angkasa mengangguk mengerti lalu pergi meninggalkan ruang makan menuju kamarnya.

****

"Oh jadi anak kamu ini sekolah disana juga jeng, duh cantik banget sih"

"Iya, dia baru kelas 2 ini. Rencananya sih mau ngikut abangnya di UI"

"Wah sama dong jeng Lingga juga kelas 2 ini. Tapi sama papahnya diarahin untuk kuliah di luar"

Tap.. tap...tap...

Angkasa turun dari kamarnya dengan menggunakan setelan kemeja hitam dan celana jeans.

"Angkasa, salim dulu gih sama tante Airin!"

Mata Angkasa bertemu dengan gadis di hadapannya. Dan.. deg!

"Lingga kok diem aja sih, itu salim sama tante Airin sama anaknya"

Lalu Angkasa pun menyalimi dua orang wanita di hadapannya dengan jantung yang bedetak begitu kencang.

Gadis di hadapannya ini rupanya juga memasang tatapan yang sama. Dia akhirnya bersuara.
"Emm tante, ini bukannya Angkasa ya?"

"Loh, Rara udah kenal sama Lingga. Namanya memang Angkasa, tapi kalau di rumah di panggilnya Lingga".

"Iya mah, kami satu kelas" Jawab Angkasa

"Wah bagus dong kalau gitu" Saut mama Kejora.

Kejora tidak mendengarkan percakapan mereka, namun tatapannya masih tertuju pada lelaki di hadapannya yang juga tengah menatapnya.

Papa Angkasa baru saja datang bersama Faril dan ayahnya dari ruang tamu, ia mengerti akan situasi yang sedang terjadi. "Ehmm.."

Angkasa dan Kejora langsung memutuskan kontak mata mereka begitu sadar sedang diperhatikan.

"Nah, ini para bapak udah dateng" Ucap mama Angkasa sambil terkekeh.

"Ya sudah langsung saja makan malamnya" Ucap Afandi papa Angkasa.

Akhirnya mereka pun makan malam bersama diselingi dengan obrolan-obrolan para orang tua.

Setelah makan malam bersama mereka beranjak ke ruang keluarga untuk sekedar mengobrol dan menonton televisi.

"Jadi sebenarnya niat kita berkumpul malam ini untuk merencanakan perjodohkan Kejora dan kamu Angkasa"

Deg!!

"Ukhuuk..ukhuuk..." Angkasa yang sedang minum jus alpukat buatan mamanya langsung tersedak. Ia benar-benar kaget bukan main.

"Dijodohin!?"

*****

Antara Kejora dan AngkasaTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang