Keliru? sela Handaka terkejut.
Ya, kau keliru. Manahan menjelaskan, Sayang bahwa pamanmu sama sekali tidak berbuat demikian. Meskipun apa
yang dikatakan kepada semua warga Banyubiru, pamanmu telah berusaha menyelamatkan ibumu serta daerah
perdikan itu, namun nyatanya tidaklah demikian. Sebab pamanmulah sebenarnya sumber keributan itu.
Handaka menjadi semakin tidak mengerti. Ia melihat sendiri ketika itu pamannya telah membantu ayahnya menghalau
gerombolan yang menyerang Banyubiru. Bahkan kemudian ibunya telah memerintahkan Sawungrana untuk meminta
bantuan pamannya pula ketika kemudian timbul hura-hara.
Bagus Handaka... sambung Manahan, Ketahuilah, pamanmulah yang berusaha untuk menyingkirkan ayahmu. Karena
pamanmu ingin menguasai seluruh daerah perdikan Pangrantunan Lama. Karena itu ia telah berusaha untuk
menyingkirkan kau pula, yang pasti akan menjadi penghalang usahanya itu.
Mendengar kata-kata terakhir itu, menggigillah tubuh Bagus Handaka karena kemarahan yang mencengkam
perasaannya. Ia sama sekali tidak mengira, bahwa apa yang terjadi adalah kebalikan dari dugaannya.
Benarkah apa yang Bapak katakan...? Handaka bertanya untuk mendapat suatu kepastian.
Aku telah berkata sebenarnya, jawab Manahan.
Tetapi kenapa Bapak baru mengatakan itu kepadaku sekarang?
Aku menganggap bahwa sebelum ini, kau belum cukup dewasa, Handaka, jawab Manahan pula.
Tetapi agaknya Handaka tidak puas mendengar keterangan itu, maka ia mendesak, Dan kenapa pada saat itu Bapak
tidak berbuat sesuatu untuk mencegah perbuatan itu?
Manahan membenarkan letak duduknya. Ia dapat mengerti sepenuhnya pergolakan perasaan muridnya.
Dengan sabar Manahan menjelaskan, Handaka....., waktu itu aku tidak dapat berbuat apa-apa. Aku tidak dapat
menunjukkan bukti-bukti kejahatan yang telah dilakukan oleh pamanmu. Juga karena kelicinan pamanmu, di hadapan
ayahmu aku pernah hampir-hampir dibinasakan oleh Laskar Banyubiru sendiri, karena mereka curiga kepadaku
tentang hilangnya kedua keris itu. Untunglah bahwa ayahmu sempat mencegahnya. Kemudian aku tidak yakin bahwa
kecurigaan para pimpinan Laskar Banyubiru itu kepadaku telah lenyap dari hati mereka seluruhnya atau baru
sebagian saja dari antara mereka.
Mendengar penjelasan gurunya, Bagus Handaka semakin terbakar hatinya. Matanya kemudian menjadi merah
menyalakan kemarahannya. Giginya terdengar gemeretak serta denyut jantungnya bertambah cepat. Dan tiba-tiba saja
lenyaplah segala perasaan sakit dan nyeri. Meskipun masih agak tertatih-tatih ia bangkit berdiri serta dengan suara
lantang ia berkata, Bapak..., apapun yang terjadi atasku, aku tidak ambil pusing. Besok pada saat matahari terbit aku
minta ijin Bapak untuk kembali ke Banyubiru. Aku atau Paman Lembu Sora yang akan binasa tidaklah menjadi soal.
Tetapi aku harus menuntut balas.
Handaka... kata Manahan masih setenang tadi, Duduklah.
Handaka dengan tidak sabar memandangi Manahan yang masih saja duduk di pasir pantai.