03. Di Antara Dua Pilihan

241 80 6
                                    

Karina merasa seperti terjebak di antara dua dunia yang saling tarik-menarik

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Karina merasa seperti terjebak di antara dua dunia yang saling tarik-menarik. Hari-hari yang berlalu setelah pertemuannya dengan Jeno terasa lebih berat daripada biasanya. Meski dia berusaha keras untuk melupakan apa yang terjadi, bayangan Jeno yang ceria dan mudah diajak ngobrol terus saja menghantui pikirannya. Setiap kali dia membuka ponselnya, dia melihat pesan dari Hesa yang seringkali hanya berisi alasan dan janji kosong. Sementara itu, Jeno, meskipun baru ia kenal, seakan memberinya angin segar yang berbeda.

Pagi itu, di kantin kampus, Karina duduk bersama Winona. Teman baiknya itu sudah bisa menebak suasana hati Karina hanya dari ekspresi wajahnya yang tampak cemas. Tanpa basa-basi, Winona langsung bertanya, "Rin, ada apa lagi? Kok muka kamu ngenes gitu? Seminggu ini kamu nggak pernah kelihatan senyum."

Karina hanya menghela napas, merasa ragu untuk menceritakan semuanya. Tapi akhirnya, setelah beberapa detik hening, dia mulai membuka suara. "Kemarin aku ngomong sama Hesa soal latihan band-nya, Win. Aku capek banget nungguin dia, tapi dia malah milih latihan. Aku sampai pesen Grab, terus... yang datang tuh Jeno. Tau gak Win? Ternyata dia anak kampus kita! Tapi beda fakultas, dia jadi driver karna gabut doang, lucu banget gak sih?" Nada suara Karina terdengar semangat saat menjelaskan Jeno.

Winona menyeringai, penasaran. "Jeno siapa? Maksud kamu si driver itu?"

"Iya, si driver yang kemarin, dan ngobrol sama dia rasanya nyaman aja." Karina menjawab sambil menunduk, sedikit malu mengingat betapa dalam percakapan mereka yang cuma sebentar itu bisa membuatnya merasa nyaman.

Winona mengangkat alis, seolah ingin memastikan apa yang Karina katakan. "Gila, loh! Cuma ketemu Dua kali udah bisa nyaman? Kayaknya kamu makin sering mikirin dia deh."

Karina menggaruk tengkuknya dengan canggung. "Iya, sih. Tapi, nggak gitu juga. Dia tuh... beda. Lain aja kalau dibandingin sama Hesa. Jeno tuh kayak... nggak punya beban. Santai, dan dia bener-bener bisa bikin aku senyum. Tapi, bukan berarti aku ada niat buruk ke Hesa ya!"

Winona tertawa kecil, menyandarkan punggungnya di kursi. "Rin, aku ngerti sih kalau kamu butuh perhatian, dan kamu juga butuh yang bisa bikin kamu ngerasa lebih dihargain. Tapi kalau kamu terus-terusan bertahan sama Hesa yang kayak gitu, kamu nggak bakal maju. Kadang kamu butuh nanya sama diri kamu sendiri, 'Apa yang lebih penting, sih?'"

Kata-kata Winona langsung memukul hati Karina. Apakah selama ini dia terus-terusan bertahan karena terbiasa, bukan karena dia merasa dihargai? Di satu sisi, Hesa adalah pacarnya, orang yang sudah lama ia kenal dan cintai. Tapi di sisi lain, perasaan yang muncul ketika bersama Jeno terasa seperti sebuah jawaban yang dia belum siap dengar.

Di luar percakapan itu, Karina merasa semakin bingung. Ia ingin percaya pada hubungan yang sudah dijalani bersama Hesa, tetapi rasa kecewa yang terus datang membuatnya meragukan segalanya. Jeno datang seperti jawaban yang tak pernah dia duga, membawa kebahagiaan sederhana yang tak pernah ia temukan dalam beberapa waktu terakhir. Namun, apakah itu cukup untuk mengubah perasaannya terhadap Hesa?

[✓] Grab dan Rute Cinta • Jeno & KarinaTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang