15. Kita tidak lebih dari itu

217 1 2
                                    

Ah, seharusnya kamu tak perlu kirim apapun itu ska. Yakinkanlah itu buatku semakin mengingat tentangmu walau maksudmu baik. Sehingga kabarmu yang baik itu seolah menjadi ejekkan untukku sekarang. Terimakasih, aku turut bahagia walau tidak dengan cara yang tak sama.

Aku mengepal surat darimu. Aku rasa tak penting untuk membukanya lagi. Entah, aku butuh bio sekarang.

Tak mungkin aku hubunginya lagi. Ia memilih ce, untuk apa aku? Hanya teman berbagi saja, lagi. Iya, lagi dan lagi.

*dering dari line*

"qil? dimana? kok dikampus gaada?"

Seharusnya aku tak perlu membalas. Iya, perlahan harus menjauhinya bukan? Daripada harus jatuh melihat harapan yang salah.

"martabak"

Seketika ingin bio menghampiriku untuk mengucapkan selamat tinggal tlah membuat aku mengenal selain ska. Dan tlah memberi tempat untukku menjadi orang yang mendengarkan keluh kesah tentangmu.

"mas, satu ya biasa" pesan bio yang baru saja datang
"itu apa qil?" mungkin bio melihat gumpalan kertas digenggamanku
"bukan apa apa"
"gimana? udah dikasih ce?"
"gue tunggu waktu ulang tahunnya aja, qil"
"sekalian mau nembak ya?" pertanyaan apa itu aqila, bodoh, menyakiti diri sendiri namanya!
"ko ketawa sih, bi?"
"iya soalnya pertanyaan lo gaperlu dijawab"

Iya, benar. Aku sudah tau jawabannya bukan?

🌯

Hari ini perjalananku menuju Netherland atau sekarang Belanda. Aku tak ingin Amerika, New York, Los Angeles atau California dan tepatnya Malibu.

Kucukupkan semua hal kelabu, melihat semua orang tengah bahagia.
Ku tarik koperku dengan cepat, keberangkatanku pastinya sebentar lagi dan ini kecerobohanku lagi.

"aduh" aku menepuk kepala, seolah buku bersampul warna hitam yang aku lukis dengan mawar yang biasa aku bawa, namun sekarang melupa.

"gapenting sih, yaudah deh" tangkasku pada diriku

Bio takkan hampiriku. Tak usah banyak bermimpi kalau ia akan berlari mengatakan aqila jangan pergi.

Air mataku tengah deras, seolah semua kenangan aku mencarimu kala itu setengah mati aku coba mengunjungi dunia demi melihat wajahmu dan kata maaf telah mengacuhkanmu.

Hari ini keberangkatanku bukan untuk menemui siapapun, harapanku tlah fana. Raga ku tlah pergi jauh. Aku seorang diri tanpa tujuan ingin apa.

Ku hirup lega udara segar disini. Aku memakai baju hangat atau mantel karena cuaca sedang salju.

Ceritaku ini sangat menyedihkan bukan? Semua tak ada harapan dan tak terlihat angin bahagia didepannya.

Semesta, kirim aku insan baik yang akan menghabiskan waktunya untukku.

Aku jalan yang cukup ramai dengan pejalan kaki disini. Memasukan kedua tanganku di saku mantel. Menatap lurus jalan. Aku tak tau kemana tujuanku selanjutnya.

Sampai kutemui awan menuju gelap. Rupanya bio sama sekali tak mencariku. Dasar, aqila ngarep!

"kenapa masih diem? udah malem, yuk pulang"

Dimana ini? Aku sedang di Netherland bukan? Kenapa ada bio? Bio menghampiriku?

"ngelamun aja sih"
"kok lo bisa disini sih, bi?"
"iya emang lo kan lagi nungguin gue ngerjain tugas kan?"
"kita gak lagi di Netherland?"
"kita di Jakarta, skyva"

Itu hanya lamunan yang tak indah, berjalan sendiri tanpa siapapun.

Bio langsung mengajakku pulang. Jamnya menunjukan pukul 11 malam.

sekiranya, hampir.  [completed]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang