KOS PEREMPUAN

34 1 0
                                    


Aku menatap rumah tingkat dua di depanku dengan pikiran bercampur aduk. Aku tidak percaya, aku benar-benar akan tinggal sebagai penjaga kos perempuan. Aku yang seorang laki-laki, akan tinggal di sarang perempuan, aku masih tidak memercayai kenyataan tersebut.

Reaksi Bintang, Radit dan Danang saat mendengar berita aku akan tinggal di kos perempuan masih teringat jelas di kepalaku. Mereka bertiga langsung berseru, "Enaknya!" Yep, mereka iri padaku, padahal aku iri sama mereka yang tidak perlu tinggal di kos perempuan. Belum, ditambah, aku harus mengurus kakakku. Lengkap sudah penderitaanku.

Kuangkat tas travel biru milikku dan melangkah masuk ke dalam kos. Hari ini, aku terpaksa pergi ke kos sendirian, karena ke dua orang tuaku mendadak ada acara di kantor mereka. Kalau kakakku, sudah berangkat dua hari sebelumnya, karena dia harus bekerja.

Kubuka pintu utama Kos yang besar, yang ternyata tidak terkunci.

"Permisiii!" seruku dengan suara keras. Hening. Tidak ada respon sama sekali.

"Permisiii!" ulangku, masih dengan suara keras dan hasilnya nihil. Tiba-tiba HPku berbunyi, tanda ada pesan masuk. Ternyata pesan dari kakakku, yang isinya menyuruhku untuk masuk kos seperti biasa dan anggap seperti rumah sendiri. Dia sudah memberitahu penghuni kos, tentang kedatanganku. Aku pun menurut. Kututup kembali, pintu utama kos tersebut, kemudian berjalan menuju kamarku yang terletak paling pojok kanan di lantai bawah. Kalau kamar kakakku, berada di paling pojok sebelah kiri di lantai bawah.

Kubuka pintu kamarku dan bau lembab langsung menyambutku. Aku menghela napas panjang sebelum memasuki kamar baruku. Kubuka jendela kamar yang susah dibuka. Setelah itu, aku mulai membersihkan ruangan yang akan menjadi kamarku. Sebelumnya, aku mencari dulu sapu dan peralatan kebersihan lainnya. Setelah menemukannya, baru aku mulai sibuk menyapu dan mengelap semua perabot seperti kursi, meja, lemari dan lain-lain, yang ada di ruangan tersebut. Setelah itu, mengepel lantainya. Kemudian, mulai menata barang-barang yang kubawa. Mengganti seprai lama dengan yang baru. Dan tadaaa! Kamar baruku sudah jadi.

Keringat berhasil membasahi kaos dan seluruh badanku. Kubawa ember berisi seprai lama dan peralatan kebersihan lainnya, ke luar dari kamarku. Baru berjalan sepuluh langkah, terdengar suara jeritan seorang perempuan. Aku tentu saja berlari ke arah sumber suara. Saat berlari ke arah sumber suara, tiba-tiba ada seorang perempuan yang memelukku. Aku langsung merasakan sesuatu yang empuk yang tidak pernah kurasakan ketika kak Ade memelukku.

"To—tolong..." pinta perempuan tersebut dengan air mata mengalir.

"Ada apa?"

Dengan gemetar perempuan tersebut menunjuk ke belakangnya. Dua ekor kecoa berjalan dengan riangnya di belakangnya. Aku langsung berlari mengambil obat serangga yang ada di kamarku, lalu kembali ke tempat tersebut. Kemudian, kusemprot dua ekor kecoa tersebut dengan obat serangga sampai nyawa mereka melayang.

Kubersihkan ke dua tanganku yang kemungkinan terkena obat serangga. Lalu, kuambil ke dua mayat kecoa tersebut menggunakan sapu dan pengki, kemudian membuangnya ke tempat sampah.

"A—anu..." kata perempuan yang tadi menjerit sambil menangis. Ternyata dari tadi berdiri di belakangku.

"Terima kasih," lanjutnya. Perempuan itu memiliki rambut panjang gelombang yang dikuncir satu di sebelah kanan. Badannya sedikit berisi dengan dada yang besar sekali. Jujur saja, aku tidak pernah melihat dada sebesar itu kecuali di video ehem. Dia memakai daster selutut berlengan pendek berwarna biru muda dengan gambar hello kitty.

"Sama-sama," jawabku.

"Maaf, bapak siapa ya?" tanya perempuan tersebut.

Aku baru sadar, kalau aku belum memperkenalkan diri. "Aku pen—"

Kehidupan Sehari-hari Adik Laki-lakiTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang