Apa yang sejatinya menjadi definisi kebahagiaan?
Kaya? Jabatan tinggi? Bisa berfoya-foya?
Jika memang hanya sedangkal itu pemikiran akan 'kebahagiaan', maka mungkin kini Alina sudah hidup bahagia sentosa.Namun nyatanya, Alina merasa bahwa semua yang ada padanya bukan miliknya secara hakiki. Ia sadar bahwa semua ini hanya harta orang tuanya dan ia masih dikatakan menumpang di kehidupan orang tuanya.
Semakin dewasa, Alina semakin memantapkan hati untuk berhenti bergantung dan memulai kehidupannya sendiri. Meski belum sepenuhnya bisa berbakti untuk kedua orang tuanya namun Alina rasa, dengan hidup mandiri ia bisa mengurangi beban kedua orang tuanya.
Bukan, orang tua Alina bukan dari kalangan menengah kebawah. Hidupnya bahkan bisa lebih glamour , jika ia ingin. Namun dilimpahi kekayaan tiada henti membuat Alina merasa muak. Semuanya hanya berdasarkan pura-pura.
Temannya, mantan pacarnya, dan semua kenalannya
Sejatinya mereka hanya ingin berteman dengan uang Alina.Alina cukup tau diri untuk tidak memperpanjang masalah. Hanya perlu mundur secara perlahan dan berangsur menutup diri. Alina yakin, dengan cara ia hidup mandiri dan jauh dari harta kedua orang tuanya, ia bisa menemukan kebahagiaan sesungguhnya.
Dengan hasil keringatnya sendiri.
Dengan semua jerih payahnya sendiri.Alina yakin itu.
Sebenarnya Bu Risa -Mama Alina- khawatir akan keputusan anak semata wayangnya. Mungkin karena Alina adalah anak tunggal ia tak rela berpisah dengan anak kesayangannya. Selama ini Bu Risa memang tak pernah memanjakan Alina, namun sikap Alina yang semakin hari semakin dewasa tak ayal membuat Bu Risa takut berpisah dengan Alina.
"Apa harus banget kamu beres-beres sekarang?". Bu Rina mencoba bernegosiasi ulang dengan Alina, ia masih tak rela.
"Iya Ma, Alina udah diterima kerja di Cafe langganan Alina, Labelle Caffe". Alina berkata dengan menggebu-gebu, binar dimatanya menandakan bahwa ia sangat menantikan hal ini.
"Cafe?". Nada tak percaya mengalun dari bibir Bu Risa. "Iya ma Cafe, Alina kan cinta banget sama kopi. Dan kebetulan kemarin Alina ngeliat kalo Cafe inceran Alina buka lowongan kerja". Tak mengindahkan tatapan heran dari Sang Mama, Alina tetap melanjutkan memasukan barang barangnya ke koper.
"Terus jam kerjanya gimana? Kamu gak bakal keteteran kan? Kamu makan apa nantinya? Jangan keterusan makan Junk Food loh Alina".
Alina memandang Mamanya sekilas dan menghela nafas lelah.
"Ma kita udah bahas ini berkali-kali. Kerja di Cafe gak akan buat aku mati ke capek an, lagipula ada sistem shift yang artinya aku gak bakal kerja 24jam nonstop. Dan untuk masalah makan, kan Alina udah bisa masak,Ma. Semuanya udah aku atur kok. Mama tenang aja".
Benar-benar keras kepala.
Bu Risa harus kembali angkat tangan dengan sikap anaknya yang satu ini. Meski rasa tidak rela masih hinggap di hati, Bu Risa mencoba melepas Alina pergi karena tak ingin mengecewakan Sang Anak.
"Oke Mama percaya sama kamu, tapi janji harus jaga diri baik-baik ya. Mama gak mau kamu kenapa-napa. Denger Alina?".
Mata Alina berkaca kaca mendengar perkataan tulus Mamanya, ia tau bahwa Mamanya Mengkhawatirkannya, namun ia harus benar-benar hidup mandiri saat ini. Alina beranjak memeluk erat tubuh Mamanya
"Iya Ma Alina denger. Alina sayaaaang banget sama Mama". Suaranya bergetar menahan tangis. Ini bukan perpisahan yang sesungguhnya, ia bisa kapan saja menginjakkan kakinya di rumah ini. Tapi berpisah dengan Mamanya bukanlah perkara yang mudah bagi Alina

KAMU SEDANG MEMBACA
Jodoh Ditangan Mama [ON GOING]
Fiksi Remaja[Slow Update] Raihan Syahreza. Lelaki berusia matang yang belum juga mendapat jodoh. Bukan karna tak laku, Ia hanya tak ingin. Hingga membuat Sang Mama harus turun tangan untuk mencari pendamping hidup yang pas bagi Raihan. Apa yang harus Raihan la...