Pegawai Kasir Itu...

1.3K 72 4
                                    


Pagi itu Raihan dikejutkan dengan kehadiran Bu Winda yang sudah duduk cantik di sofa ruang kerjanya. Dengan santai sedang mengikir kukunya sambil bersenandung kecil.

Kunjungan rutin. Pasti ujung-ujungnya bahas nikah. Tebak Raihan jengah.

"Sudah lama Ma?", Raihan membuka percakapan setelah dirasa sang Mama menyadari keberadaannya. "Enggak, baru juga nyampe beberapa menit yang lalu, kamu udah sarapan?".

Menghampiri sang Anak dan membuka kotak makanan yang secara ajaib tidak Raihan sadari keberadaannya di atas meja kerjanya. Memang sih hanya roti panggang dengan selai coklat kesukaannya. Namun entah mengapa jika yang membuat orang lain, ia sangat bernafsu untuk memakannya. Bukannya ia kelaparan seperti belum makan satu abad, Raihan hanya merasa begitu diperhatikan.

"Pelan-pelan makannya, cuma roti aja makan sampe segitunya. Nih minum dulu", Bu Winda menyodorkan sebotol susu yang sudah ia buka ke Raihan. Tanpa banyak kata Raihan mengambil dan meminum susu dengan ekspresi hikmat.

"Makanya cepet-cepet cari istri. Biar ada yang masakin tiap hari, manjain kamu. Biar gak kayak Tarzan gini setiap Mama bawain makanan buat kamu".

UHUK-

Terlalu cepat dari ekspektasi Raihan ketika Mamanya kembali mengangkat tema "Mantu" untuk jadi topik hangat pagi ini.

Bu Winda reflek menepuk penuh perhatian punggung Raihan. Bu Winda sebenarnya adalah sosok ibu yang hangat dan penyayang di keluarga nya.Namun keinginannya untuk bisa segera menggendong cucu membuat Bu Winda harus mendesak Raihan agar menikah secepatnya.

"Mama cuma khawatir sama kamu Rey, kamu udah lama tinggal sendiri tanpa pengawasan Mama. Mama percaya aja kamu bisa jaga diri baik-baik, tapi Mama pengen ada yang bisa ngerawat kamu", Rey adalah panggilan kesayangan Bu Winda untuk Raihan. Bu Winda mengelus punggung anaknya penuh sayang.

Raihan tertegun mendengar ucapan Bu Winda, ia tau betul tujuan Mamanya adalah untuk kebahagiannya sendiri. Namun hingga kini hasrat untuk menikah belum juga ada. Raihan juga sadar, jika ia tetap egois bukan hanya dirinya yang makin susah, Mamanya juga akan ikut menderita karena tak lekas menimang cucu.

"Raihan denger Mama nak, sebenernya mau kamu gimana? Cari sendiri gak mau, dicariin Mama juga gak mau. Sampe kapan kamu kayak gini?"

"Raihan belum ada niatan Ma"

"Terus sampek kapan??"

Sungguh, pembicaraan ini benar benar sensitif bagi keduanya. Sikap keras kepala Anak dan Ibu tersebut telah mendarah daging dan tak akan ada yang mengalah.

"Mama gak mau tau. Kali ini Mama bener bener turun tangan sendiri buat nyari. Mama udah gak peduli kamu mau nerima apa enggak. Mama pulang", Bu Winda meninggalkan ruang kerja Raihan dengan rahang mengeras. Emosi benar melihat anak semata wayangnya yang mempunyai sifat sama sepertinya.

Bu Winda rasa ia harus segera mencari calon mantu untuk anaknya. Ya, secepatnya.

Sepeninggalan Bu Winda, Raihan mengurut pelipisnya frustasi. Apa ia harus menyerah sekarang? Menuruti permintaan Sang Mama dan menjalani pernikahan?

Jujur ia belum sanggup. Tapi untuk yang kali ini Mamanya benar-benar serius dan Raihan tak mempunyai kesempatan lagi untuk berkelit.

Berdoa saja semoga pilihan Sang Mama adalah yang terbaik untuknya. Pastinya.

.

- Jodoh Ditangan Mama -

.

Bu Winda melangkahkan kakinya sedikit tergesa. Masih ada gurat kemarahan di wajah cantik wanita paruh baya tersebut. Memasuki mobil dan memerintah dengan cepat kepada sang supir untuk segera pergi meninggalkan tempatnya berpijak kini.

Jodoh Ditangan Mama [ON GOING]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang