Hari berganti dengan cepat. Semua persiapan pernikahan sudah mencapai angka sembilan puluh lima persen terselesaikan. Semua orang nampak sibuk, ada yang melakukannya dengan senang hati, pun juga ada yang melakukannya dengan setengah hati.
Gedung telah dihias dan siap dipakai untuk esok hari. Rumah Alina pun kian banyak orang berlalu lalang demi kesuksesan acara Akad yang akan diselenggarakan esok pagi.
Segala macam prosesi adat sebelum menikah telah Raihan dan Alina lakukan, dan kini mereka berdua tengah dipingit untuk dipertemukan kembali esok harinya.
Namun, sepertinya tanpa dipingit pun mereka tak akan pernah mau bertemu.
Alina sendiri tengah sibuk menjalani beberapa perawatan pada tubuhnya guna mempercantik diri dihadapan Sang Suami nantinya, tentu ia melakukannya bukan dari hati. Ancaman Sang Mama berperan penting didalamnya.
-Alina POV-
"Alina jangan cemberut terus, nanti maskernya retak. Udah diem aja sana sambil nonton drakor ", Mama sudah mengulang kata itu berkali-kali dalam kurun waktu kurang dari satu jam.
Melarang semua kegiatan yang inginku kerjakan, aku gak boleh gini, gak boleh gitu. Harus diem dan nafas aja. Kedip gak papa, asal jangan terlalu sering. Ya gimana gak mati kebosanan?
Apa sih gunanya aku harus susah-susah perawatan gini? Toh nantinya si Bapak Bapak itu gak akan nyentuh aku. Dan aku juga gak bakal mau disentuh sama dia.
Jika dipikir-pikir memang tak ada yang salah dengan Raihan, dia ya –ekhem– lumayan tampan, dan garis wajahnya juga tak terlalu tua. Ditambah dengan perawakannya yang tinggi dan berbadan tegap menjadikannya tak nampak seperti pria berusia 28 tahun. Namun sifat menyebalkannya yang membuatku ingin sekali menumbuk ubun-ubunnya tiap kali bertemu.
Gak kebayang, bakal jadi seperti apa rumah tangga kita nanti.
Sebenarnya, kenapa sih si Bapak belum juga menikah? Padahal sudah mapan kerjanya dan matang usianya. Gak paham lagi deh sama jalan pikirannya orang kaya. Apa aku bisa betah nantinya tinggal berdua sama dia?
Hah aku bosen!!
Semua saran Mama sudahku laksanakan. Mulai dari membaca novel, meningkatkan mood dengan musik, dan yang terakhir, marathon drakor terbaru. Namun tetap saja rasa jenuh belum juga mereda.Cling!
Bunyi Smartphone tanda notif langsung membuatku terburu-buru mengeceknya. Mungkin Chat dari bos Cafe tempatku bekerja atau ada pesan penting lainnya.
Eh, nomer tidak diketahui? Tapi kok foto profilnya tidak asing?
+6281234517668 : Save nomer saya.
Dan jangan namain yang aneh-aneh.
Raihan.
09.00 AM ReadOh si Bapak rupanya.
Alina Rani : Males.
09.00 AMHingga beberapa menit kemudian Chat terakhirku belum juga terbalas. Bahkan di Read pun saja tidak.
Ngambek? Biar saja.Nahkan, gabutnya dateng lagi. Sebenarnya, dari kemarin iklan Pizza di Televisi sudah membuatku frustasi setengah mati. Ingin rasanya memesan berkotak kotak Pizza dan beberapa kaleng soda untuk ku nikmati sendiri, namun fakta bahwa saat ini aku berada di rumah Mama menjadi faktor pengingat bahwa semua pergerakanku kini diawasi dengan ketat. Apalagi dengan adanya treatment sebelum menikah seperti ini. Kesempatan untuk memakan Junk Food semakin menipis.
It's the love shot
Naa ~~ nana nanananana~~
Naa ~~ na na nanananaa ~~

KAMU SEDANG MEMBACA
Jodoh Ditangan Mama [ON GOING]
Ficção Adolescente[Slow Update] Raihan Syahreza. Lelaki berusia matang yang belum juga mendapat jodoh. Bukan karna tak laku, Ia hanya tak ingin. Hingga membuat Sang Mama harus turun tangan untuk mencari pendamping hidup yang pas bagi Raihan. Apa yang harus Raihan la...