episode 2

44 0 0
                                    


Dalam hal ini muncul kesadaran dari pendidikan Islam ulama-ulama yang pada waktu itu juga menyadari bahwa sistem pendidikan tradisional dan langgar tidak lagi sesuai dengan iklim pada masa itu. Maka dirasakanlah akan pentingnya memberikan pendidikan secara teratur di madrasah atau sekolah secara teratur. Muhammad Abduh dan Rasid Ridha dengan pembaruan di bidang sosial dan kebudayaan berdasarkan tradisi Islam Al Qur’an dan Hadis yang dibangkitkan kembali dengan menggunakan ilmu-ilmu Barat.

Hal ini merupakan jalan untuk maju dan berpartisipasi di madrasah madrasah Islam dengan terus mengadakan pembaruan, dengan memasukkan ilmu-ilmu pengetahuan Barat ke dalam kurikulum, maka muncullah tokoh-tokoh pembaruan di Indonesia yang mendiikan sekolah Islam di man-mana.

Dengan demikian dapat ditegaskan bahwa disamping kedua corak pendidikan sebelumnya, juga terdapat corak yang ketiga yang merupakan sintera dari corak lama dan corak baru. Corak pendiikan yang ketiga muncul sintesis, muncul bersamaan dengan lahirnya madrasah-madrasah yang berkelas yang muncul sejak tahun 1909, yang dipelopori oleh pembaruan Islam. Seperti Madrasah Diniyyah School yang didirikan oleh Zainuddin Labia El Yunisa 1890-1924, pada tahun 1915 sebagai sekolah agam petama yang dilaksanakan menurut sistem pendidikan modern yakni menggunakan alat tulis, dan menggunakan alat peraga.[2]

Pesantren dan Madrasah sebagai Lembaga Pendidikan Islam di Indonesia
Menurut asal katanya, pesantren berasal dari kata santri yang mendapat imbuhan awalan pe dan akhiran an yang menunjukkan tempat. Dengan demikian, pesantren artinya tempat para santri. Sedangkan menurut Sudjoko Prasodyo, “ pesantren adalah lembaga pendidikan dan pengajaran agama, umumnya dengan cara non klasikal, dimana seorang kiai mengajarkan ilmu agama Islam kepada santri-santri berdasarkan kitab-kitab yang ditulis dalam bahasa Arab oleh ulama abad pertengahan, dan para santri biasanya tinggal di asrama dalam pesantren tersebut. Dengan demikian dalam lembaga pendidikan Islam yang disebut pesantren tersebut, sekurang-kurangnya memiliki unsur-unsur seperti: kiai, santri, masjid, sebagai tempat penyelenggaraan pendidikan dan pondok atau asrama sebagai tempat tinggal para santri serta kitab-kitab klasik sebagai sumber atau bahan pelajaran.

Dari perspektif kependidikan, pesantren merupakan satu-satunya lembaga kependidikan yang tahan terhadap berbagai gelombang modernisasi. Dengan kondisi demikian itu, kata Azyumardi Azra

pola dan kebijakan pendidikan "islam"Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang