3. Cangkang Yang Retak | FMS 1

21 5 0
                                    

Oke sebelum membaca, vote-nya dulu dong hehe..

Kalo udah cuss langsung aja.

Happy Reading!!

***

Hari ke-7

Pisau yang tumpul nggak akan bisa dipakai untuk apapun. Sama kayak kemampuan. Semakin tumpul kemampuan kita, semakin kita nggak bisa apa-apa.

Dulu, prinsip Rena seperti itu. Sekarang, Rena banyak malasnya. Dulu, Rena latihan hampir setiap hari. Sekarang, Rena latihan kalo ada kompetisi aja.

Yahh.. manusia memang berubah. Entah itu sifat atau kebiasaannya. Itu yang ada di pikiran Rena sebelum ia memutuskan untuk ikut kompetisi ini.

Tapi, setelah latihan beberapa kali ia sadar. Nggak ada yang instan. Semua butuh proses. Walaupun ia memang jenius. Tapi kalo dari awal memang belum ada pemanasan, belum ada persiapan. Apapun akan hancur berantakan.

Begitupun permainan pianonya. Nggak seatraktif dulu. Teman-temannya menyadari hal itu. Rena pun begitu.

Jadi, ia memutuskan untuk memakai lagu yang sudah biasa ia dengar dan mainkan.

Chopin - Fantaisie-Impromptu, Op. 66 in C Sharp Major.

Lagu klasik yang kesannya liar jika dimainkan. Lagu yang diciptakan oleh Chopin ini menjadi salah satu lagu favorit Rena saat sedang latihan piano untuk menemani hari-harinya yang terkadang free dari yang namanya kegiatan berat.

Rena butuh waktu lagi untuk mendalami kesan yang ingin disampaikan pada permainan pianonya. Jadi yang ia pelajari bukan hanya not-not piano yang sekarang ada di depannya, tetapi juga bagaimana mengekspresikan maksud lagu tersebut kepada orang lain.

"Kalo capek mending istirahat dulu, Ren." kata Nanda tiba-tiba.

Rena berhenti menekan tuts pianonya dan menolehkan kepalanya pada Nanda.

"Ci, lo yakin tadi yang ngomong si Nanda?" tanya Rena pada Cita tapi tetap menghadap Nanda.

"Sialan lo kalo dibaikin dikit malah ngelunjak ya anjir! Mumpung gue baik ini makanya gue ngomong gitu." jawab Nanda kesal.

Cia hanya tersenyum simpul memperhatikan interaksi kedua temannya.

"Kalo gue perhatiin sih lumayan bagus dari kemaren-kemaren, Ren. Lebih berasa real aja permainan lo hari ini. Bener kata si Nanda, istirahat dulu yuk." kata Cia kepada Rena.

"Kuy lah." jawab Rena sembari melangkah menuju teman-temannya yang asyik mencomot beberapa snack yang Rena sediakan.

"Jadi gimana hubungan lo sama si ganteng itu?" tanya Nanda sambil melirik Rena.

Rena yang merasa diajak bicara pun memilih diam karena ia malas menceritakan perihal hubungannya pada Nanda yang memang mulutnya ember.

"Kalo gue ngasih tau lo, yang ada seisi sekolah bakal tau gue lagi deket sama siapa. 'Ntar penggemar gue pada ilang lagi." jawab Rena dengan pede-nya.

Rena melihat Cia yang sibuk dengan hapenya. Ia pun berniat mengintip untuk melihat apa yang membuat temannya yang cuek itu menjadi sangat serius.

Tapi saat kepalanya mendekat pada Cia, tiba-tiba Blacky menghampirinya dan ekornya pun mengenai wajah Cia.

Cia yang kaget pun menurunkan hapenya dan melihat ke arah Blacky dengan kesal lalu menoleh pada Rena disampingnya.

Posisi Rena masih sama, kepalanya sedikit ia condongkan kearah Cia. Cia pun mengernyitkan dahinya lalu bertanya, "Lo liat hape gue ya tadi?" pada Rena.

Sayap Yang Patah | Fm SeriesTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang