13. Keputusan yang Tertunda

82 38 16
                                    

Pagi itu, Karina berjalan memasuki kampus dengan pikiran yang masih sedikit kacau

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Pagi itu, Karina berjalan memasuki kampus dengan pikiran yang masih sedikit kacau. Meskipun sudah beberapa kali bertemu dengan Jeno, dan meskipun dia merasa lebih nyaman setiap kali berada di dekatnya, hatinya masih belum sepenuhnya lega. Setiap kali dia mencoba untuk berpikir tentang masa depannya tanpa Hesa, masih ada banyak kebingungannya. Keputusan yang harus dia buat terasa semakin mendesak, tetapi sepertinya dia belum siap untuk benar-benar menghadapinya.

Hari itu, dia sudah berjanji pada dirinya sendiri untuk fokus pada kuliah dan tidak terlalu terbawa oleh perasaan yang mengganggu. Namun, saat dia sampai di kelas, ada satu hal yang langsung menarik perhatian—Hesa. Karina sempat melihat sosok Hesa sedang tertawa bersama Yuna di luar ruang kelas, membuat hatinya sedikit tergetar. Meskipun sudah berusaha untuk tidak peduli, perasaan itu muncul lagi, entah kenapa.

Karina duduk di kursinya, menatap layar laptopnya, mencoba menenangkan diri. Tapi bayangan Hesa dan Yuna terus mengganggu pikirannya. "Kenapa sih dia nggak bisa sekalian aja jujur sama gue?" batinnya. Itu adalah pertanyaan yang terus berputar di kepalanya, dan semakin hari semakin membuatnya merasa terjebak dalam kebingungannya.

Tiba-tiba, pesan masuk dari Jeno.

“Kar, lo ada waktu nggak nanti sore? Gue cuma mau ajak lo jalan bentar.”

Karina melihat pesan itu dan tersenyum tipis. Kehadiran Jeno selalu membawa keceriaan, dan meskipun dia merasa tidak sepenuhnya siap untuk melepaskan perasaannya terhadap Hesa, dia tahu bahwa bersama Jeno, dia bisa merasa lebih bebas dan lebih dihargai.

“Boleh banget, Jen. Gue butuh refreshing juga, kok.”

Setelah membalas pesan, Karina memikirkan apa yang baru saja terjadi. Mungkin dia terlalu lama terjebak dalam masa lalu, terlalu lama mencari jawaban dari seseorang yang mungkin sudah tidak pantas lagi mendapat perhatian penuh darinya. Mungkin inilah saatnya untuk memberi diri sendiri kesempatan untuk bahagia.

Sore itu, Karina bertemu dengan Jeno di tempat yang sama seperti sebelumnya—kafe kecil yang sudah menjadi tempat mereka untuk berbincang. Karina sudah menunggu, dan ketika Jeno datang, senyumnya langsung membuat suasana terasa lebih hangat.

"Lo udah lama nunggu, Rin?" tanya Jeno sambil duduk di hadapannya.

"Enggak kok, baru juga datang. Lo gimana? Lagi sibuk ya?" tanya Karina.

Jeno hanya tersenyum. "Sibuk, tapi nggak masalah. Gue suka banget bisa nongkrong sama lo. Kadang, lo itu bikin gue lupa sama kerjaan yang numpuk."

Karina tertawa kecil, merasakan kenyamanan dalam setiap kata yang keluar dari mulut Jeno. Ada kehangatan di setiap percakapan mereka, tanpa ada ekspektasi atau tuntutan. "Gue juga seneng bisa nongkrong sama lo, Jen. Kadang gue butuh temen yang bisa bikin gue ngerasa santai."

Mereka berbicara banyak hal, mulai dari kuliah hingga hal-hal ringan lainnya

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Mereka berbicara banyak hal, mulai dari kuliah hingga hal-hal ringan lainnya. Karina mulai merasa bahwa dia bisa membuka diri lebih banyak tanpa khawatir disakiti atau dikecewakan. Ada sesuatu yang menyenangkan dalam menghabiskan waktu bersama Jeno, sesuatu yang tidak bisa dia dapatkan dari orang lain, termasuk Hesa.

Tiba-tiba, Jeno memandang Karina dengan tatapan yang agak serius, meskipun senyum masih tak lepas dari wajahnya. "Rin, gue tahu lo lagi bingung soal banyak hal. Tapi... lo harus tahu satu hal. Gue nggak akan paksa lo buat jadi sesuatu yang lo nggak siap."

Karina menatapnya sejenak, merasa hangat mendengar kata-kata itu. "Makasih, Jen. Gue juga lagi berusaha milih keputusan yang terbaik."

Jeno mengangguk, masih dengan senyum yang sama. "Gue ngerti kok"

Setelah beberapa saat, Karina merasa lebih ringan. Percakapan mereka kali ini membuatnya menyadari bahwa dia pantas untuk mendapatkan kebahagiaan, pantas untuk dicintai, dan pantas untuk diperjuangkan.

Saat mereka selesai nongkrong, Karina berjalan keluar bersama Jeno. Langit sore itu cukup cerah, dan udara yang sejuk membuat suasana semakin nyaman. Jeno berjalan di sampingnya, tidak terlalu dekat, namun cukup dekat untuk memberi rasa nyaman.

"Ada yang lo pikirin lagi?" tanya Jeno pelan, menyadari ekspresi wajah Karina yang sedikit melankolis.

Karina mengangguk perlahan. "Iya, gue mulai mikirin apa yang terbaik buat diri gue."

Jeno tersenyum, menepuk pundaknya dengan lembut. "Lo udah mulai jalan di arah yang bener, Rin. Jangan takut untuk ambil keputusan yang lo rasa tepat buat lo. Gue yakin lo bisa."

Karina tersenyum kecil, merasa sedikit lebih percaya diri. Mungkin, memang sudah waktunya untuk berhenti terjebak dalam masa lalu dan mulai melihat masa depan yang lebih cerah. Walaupun masih ada rasa bimbang, Karina tahu, langkah kecil seperti ini adalah awal dari sesuatu yang lebih besar—sesuatu yang bisa membantunya menemukan jalan untuk dirinya sendiri.

Dan, mungkin, Jeno akan menjadi bagian dari perjalanan itu, meskipun dia masih belum bisa memastikan ke mana semua ini akan berujung.

Dan, mungkin, Jeno akan menjadi bagian dari perjalanan itu, meskipun dia masih belum bisa memastikan ke mana semua ini akan berujung

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
[✓] Grab dan Rute Cinta • Jeno & KarinaTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang