10. Him, him, and him

5.8K 699 10
                                    

"Pa!" Kata gue sambil merengek.

"Lah kenapa?" Papa menatap gue dengan heran.

Gue, mama, dan papa udah pulang dari rumahnya Doyoung. Setelah melihat-lihat rumahnya, kita ngobrol sebentar sebelum akhirnya pulang, karena besok Kak Gongmyung udah harus balik lagi ke London. Jadi kita memberi mereka sedikit waktu untuk kangen-kangenan sebelum Kak Gongmyung kembali ke London.

"Papa bikin aku malu tau tadi, maksudnya apaan coba papa setuju sama aku sama Doyoung?" Gue masih merengek kayak anak kecil, gue emang malu banget tadi tapi harus gue tahan.

"Kamu gak mau sama cowok kayak Doyoung? Dia keliatannya baik loh..."

"Ya mana kutau dia baik atau nggak." Sambil menaikan kedua bahu gue.

"Mama bisa ngeliat loh, Sie. Kamu kayaknya ngeceng Doyoung ya?" Ucap mama sambil tersenyum jahil. Ini gue salah apa yang tolong, kenapa gue diginiin :')

Karena udah ketauan ya akhirnya gue jujur aja,
"Iya, keliatannya berwibawa gitu soalnya, hehe." Sambil nyengir.

"Udah nanti papa jodohin deh kalian berdua." Allahuakbar, enak banget ngomongnya.

"Ih males di jodoh-jodohin. Kayak orangtua jaman dulu mainnya ngejodohin anaknya." Protes gue.

"Jadi kamu gak mau sama Doyoung? Kalau nggak ya gak apa-apa, kamu jadinya usaha sendiri biar bisa deket sama dia. Ini mau papa sama mama bantuin loh."

Ya gue sih seneng-seneng aja dibantuin, tapi kesannya gimana gitu kalau dibantuin mama sama papa untuk hal kayak gini. Jadi gue memilih untuk berusaha sendiri aja deh.

"Aku mau coba usaha dulu sendiri."

"Yakin?" Tanya papa.

"Jangan underestimate aku dong. Siena can do anything."

"Haha yaudah good luck, Sienaaaa~"

"Kok nadanya kayak nggak percaya aku bisa sih ma?"

"Ih kamu sensi deh, mama kan cuma ngasih semangat."

"Tapi kalau nggak bisa, kayaknya bukan jodoh aku deh Doyoung. Dia terlalu sempurnaAAAAAAA." Gue sedikit berteriak di akhir kata, teriak karena frustasi. Mana mau Doyoung sama manusia kayak gue? Dia terlalu sempurna untuk berada di dunia ini, terlalu sempurna untuk gue.

"Ah lebay kamu. Sana tidur." Mama menyuruh gue tidur dan langsung gue turuti, karena gue ngantuk banget habis makan banyak tadi. Kan habis makan enaknya tidur yang nyenyak.

Akhirnya gue pamit ke mama dan papa lalu berjalan ke arah kamar gue. Setelah ganti baju dan melakukan rutinitas malam– yaitu skincare-an, gue langsung tidur. Hihi sampai jumpa di mimpi Kim Doyoung. Eh????

———————

"Dahyun! Dahyun!" Sapa gue ke Dahyun sambil sedikit berteriak, ada perasaan girang dari nada suara gue.

Dahyun yang tadinya lagi main handphone langsung menoleh begitu mendengar namanya dipanggil,
"Kenapa?" Jawabnya masih santai. Belum tau aja informasi yang ingin gue bilang akan bikin dia menjerit-jerit... gak deng terlalu lebay.

"Tau gak?!" Gue menaruh tas gue dilantai dan mengambil duduk di kursi kosong yang ada disebelah Dahyun.

"Gak tau?" Masih santai jawabnya.

"Hari Jumat malem kan ada yang pindahan, eh lo tau rumah kosong yang ada disebelah rumah gue kan?"

"Hm, tau." Sambil mengangguk pelan.

Adoring Doyoung | Kim DoyoungTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang