Namanya, Nusanggara Aditya Wijayatama, yang akrab dipanggil Sanggar.
Laki-laki yang lahir pada 23 Maret, 2000 di Minang.
Laki-laki yang terlalu lama patah hati, dan patah hatinya begitu menyakitkan di tahun 2015 yang lalu. Hingga di tahun 2016, ia memilih untuk mengikuti arus waktu dan perubahan.
"Eh, Nggar. Lo nggak bosen apa tiap hari kesini mulu? Gue aja yang kesini seminggu sekali aja bosen." Ucap teman se-kampus nya dulu di Surakarta, Ale.
"Kapan sih ya gue bosen? Kayak nya nggak pernah. Lo tau surga dunia nggak, Le? Ini tempat surga dunia gue 3 tahun terakhir." Balas Sanggar meneguk botol berisi alkohol.
"Sumpah ya Nggar. Dulu, lo, waktu pertama kali nggak kuat sama alkohol, itu gue yang bantuin lo. Ke Rumah Sakit, pulang pergi tau gak? Bayangin kalo keluarga lo tau soal ini, bisa ilang nama lo dari kartu keluarga," ucap Ale.
"Gini, ya? Lo, minggu depan, ikut gue pulang ke Makassar. Disana ada tempat bagus terus besoknya ada acara. Lo pasti seneng." Lanjutnya
"Ha? Ngapain? Keluarga lo kan pada di Sukabumi. Ngapain lo ke Makassar." Cengir Sanggar
"Gue kan kangen rumah. Nggak kayak lo. Rumah kangen nggak, keluarga kangen nggak." Ujar Ale jadi ikutan nyengir.
"Sewot, lo. Urusan gue juga itu. Omong-omong, kerja lo gimana? Ambil cuti?" Tanya Sanggar
"Nggak, biasa aja. Ntar gaji lo kepotong malah, nggak baik buat gue. " Ujar Sanggar lalu melihat kearah arloji nya yang menunjukkan pukul tiga pagi.
"Baru soal uang lo gampang, serba minta gue. Mendingan lo cari kerja, apa gitu." Balas Ale.
"Udah deh. Pulang yok, ngantuk nih gue." Ujar Sanggar berdiri. Sedangkan Ale cuman melongo melihat temannya itu.
"Sakau apa bosan anak ini. Sakau ah kali." Monolog Ale lalu mengikuti Sanggar yang sudah berjalan menutup pintu
Magelang, 28 April, 2019. Angin berhembus di pagi buta, mengayun-ayunkan rambut kedua Mahasiswa yang meliburkan satu semester, di semester lima mereka.
Sanggar menguap sambil memeluk tubuhnya, dingin. Bagaimana lagi, mereka saja baru pulang menjelang Shubuh.
"Besok. Lo ikut gua, ke barber shop. Natain tuh rambut lo kayak orang gila tau nggak. Malu, nggak gentle." Ujar Ale menepuk pundak Sanggar yang sejak tadi diam saja
Ale jadi bingung. Temannya ini ada apa, kok jadi pendiam.
"Heh. Nggar. Lo kok diem doang sih. Ngapa dah.." Ucap Ale yang mendadak cemas terhadap Sanggar.
Sanggar hanya menggelengkan kepalanya. Lalu bergumam. "Kak Ellin. Rindu.."
"Nggar, buang jauh-jauh deh Kak Ellin. Lo udah nggak bisa berharap dia mulu. Karena dia, lo jadi kayak gini." Ale mengelus pundak Sanggar
"Lo nggak ngerti. Dari dulu cinta gue banyak di tolak. Ketika ada satu orang, dia suka sama gue, mau nerima gue. Dalam kurung waktu 12 jam dia malah ninggalin gue. Lo nggak tau rasanya, Le." ucap Sanggar, air matanya sedikit demi sedikit keluar. Membuat Ale ingin menarik kata-katanya tadi.
"Tapi kan setidaknya ada yang mau sama Lo. Seumur hidup lo cari pacar apa cuman dia yang berhasil jatuh cinta sama lo. Nggar, Lo tuh cakep ya orangnya, cewek di dunia ini banyak. Tuhan udah tau kok siapa yang bakal lo dapetin." Ujar Ale.
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
"Ya ampun, Din. Ngenest banget sih kamu. Tidak ada teman, jadilah buku temani hari" ucap salah satu anak se-kosannya ketika ia berada di serambi.
"Ya tak apa lah. Buku asik kok. Kamu nggak mau kenalan?" balas Adin manis lalu menyodorkan buku yang ada di meja.
"ih gilo." Pikir mereka lalu masuk ke bilik mereka masing-masing.
Adin berdiri dari serambi dan keluar. "Ah. Kenapa Makassar lebih menyenangkan dari Surabaya. Iya, tidak ada yang menggangguku ketika membaca." Monolog Adin
Angin behembus kencang, dan sekumpulan laki-laki datang dan berbincang dengan suara yang keras.
"Besok jadi ke Losari, nggak? Malam minggu kosong gitu." "Haha. Sok lah ayo besok. Jam berapa?" "Jam 4 lah. Bagus, Rame pula."
Mendengarkan dialog mereka terbesit di kepalanya.
"Ah. Besok aku ke Losari. Aku mau jalan-jalan. Bosan kalau cuman ke kampus atau disini."
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.