16. Discussions

4.9K 624 7
                                    

Makan malam berhasil di lalui dengan suasana yang gak canggung. Untungnya ada Kane yang menjadi pengalih topik kala itu. Doyoung juga kelihatannya gak menanggapi ucapan bibi gue dengan serius. Buktinya sekarang dia masih duduk nyantai di sofa kosong sebelah gue. Matanya mengarah pada buku bacaan yang dia dapatkan dari rak buku sebelah TV.

Doyoung kalau lagi baca bikin gemes sendiri, mukanya serius banget– saking seriusnya, dahinya mengkerut dan bibirnya manyun kedepan.

"Serius banget lo, baca apa sih?" Tanya gue setelah melihat muka dia yang serius lalu mengalihkan pandangan gue ke layar laptop yang ada di depan gue sekarang.

Setelah makan malam gue memutuskan untuk mencari data-daya yang sekiranya gue butuhkan untuk di paper diplomasi. Tadinya gue males banget untuk nyari datanya, tapi berhubung gue sadar diri dengan diri gue yang pemalas ini, gue berniat untuk mencari data-data yang gue perlukan lebih lanjut. Karena kalau udah gue tunda pekerjaannya sampai nanti, gue akan terus menunda-nunda sampai akhirnya kepepet. Sampai akhirnya gue mengerjakan H-1 sebelum hari pengumpulannya. Kalau udah gitu, gue gak akan bisa fokus dan mencari datanya lebih dalam. Jadi, mumpung gue ada niat untuk melanjutkan mencari data-data, ya gue gunakan lah kesempatan itu.

Ya emang sih besok bakal kerja kelompok lagi, tapi kenapa harus nanti kalau bisa sekarang?

"The Intelligent Investor karyanya Benjamin Graham." Jawabnya dengan mata yang masih melekat pada buku tebal di pegang di tangannya sekarang.

"Lo mau mulai investasi?" Asumsi gue kalau orang baca-bacaan dengan materi yang berhubung dengan suatu aktivitas, mereka pasti akan mencoba aktivitas itu. Mana ada orang baca buku tentang investasi hanya untuk selingan doang? Kecuali kalau emang orangnya kelewat rajin.

"Gue udah investasi."

Oh. Menjawab. Oke.

"Oooh." Gue hanya bisa ber-oh ria.
"Emang lo investasi dimana?"

"Di perusahaan."

"Perusahaan apa?"

"Ada deh pokoknya."

"Misterius banget lo."

"Emang."

Doyoung masih terus melanjutkan bacaannya. Dengan mengetahui informasi baru yang gue dapatkan dari Doyoung– yaitu dia udah mulai berinvestasi sejak dini, memunculkan beberapa pemikiran baru di kepala gue.

Sebenarnya gue agak bingung dan bertanya-tanya darimana Doyoung mendapatkan uang yang banyak untuk membeli rumah kosong sebelah gue. Apakah dia mendapatkan warisan dari ayah ibunya? Gak tau. Tapi begitu mendengar Doyoung mengatakan kalau dia berinvestasi pada suatu perusahaan, ya mungkin dia mendapatkan uangnya dari hasil investasi dia itu.

Gue bisa melihat dari ujung mata kalau Doyoung menutup buku yang dia baca lalu meletakannya kembali pada tempatnya dimana tadi dia mengambil.

"Lo masih nyari data untuk paper lo?" Tanyanya sambil duduk kembali dan menyilangkan kakinya keatas sofa.

"Iya, masih ada yang harus gue cari."

"Tapi main datanya udah ketemu?"

"Udah sih, gue masih cari bahan tambahan sama pendukung aja. Biar paper gue lengkap. Walaupun seandainya data ini gak dibutuhkan, yang penting gue punya dulu aja data-data pendukungnya."

"Emang tentang apa topik paper lo?"

"Bagaimana Pemerintah Korea Selatan menggunakan K-Pop Sebagai Alat Untuk Berdiplomasi di Era Digital." Mata gue belum melihat ke arah Doyoung. Sementara gue bisa sadar kalau Doyoung sedari tadi memerhatikan gue dari duduknya.

Adoring Doyoung | Kim DoyoungTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang