Belum Bisa Membuktikan

25 0 0
                                    

Aku masih ingat dengan dialog di film Cek Toko Sebelah. "Orang baik cepat matinya", hal itu aku rasakan saat aku ditinggal oleh Bapak untuk selamanya. Banyak temen dan saudaranya yang bilang kepadaku bahwa Bapakku orang yang sangat baik, dengan polosnya anak kelas 5 SD mempercayai hal itu.

Kejadian terburuk yang pernahku alami pada hidup ini, ditinggal oleh orang tercinta dan orang yang benar-benar jadi saksi hidupku sampai usiaku menginjak kelas 5 SD. Hal yang tak mungkin terjadi pada anak SD patah semangat yang berlarut-larut hingga aku menjadi anak yang nakal wajarnya anak SD, usil serta frontal dengan temen. Namun aku memiliki potensi baru lagi, yakni membuat orang tertawa. Mungkin itu sebagai obatku untuk menghilangkan rasa sedihku membuat orang bahagia walaupun akupun tidak bahagia-bahagia amat. Tapi mayanlah bahagia dikit ya.

Mungkin dari situ jalan pikirku mulai berubah. Apa yang harus aku lakukan sekarang, tak mempunyai Bapak. Apakah aku harus bekerja untuk membantu Mama, namun itu sangat mustahil. Aku berpikir, dengan cara tidak ngambek dan bersikap seperti yang diharapkan oleh almarhum Bapakku. Bisa menjadikanku pribadi yang tidak menyusahkan terpenting bagi Mamaku, akupun menjalani hari-hariku dengan pikiran yang kritis dan bersikap bodo amat dengan style yang temen-temenku sembahkan.

Akupun merasa cocok-cocokan dengan temen, dengan keadaan yang seperti ini dan memiliki jalan pikir yang mungkin berbeda dengan anak-anak lain pada umumnya. Akupun berhasil lolos dari belenggu style yang dulu aku idam-idamkan, temen-temenku mungkin bingung pada saat itu. Kenapa aku mengerti dengan trend pada saat itu tapi aku tidak sama sekali berupaya untuk mengikuti arus tersebut.

Aku makin yakin ini pasti bekal yang sudah disiapkan terencana oleh Almarhum Bapakku sebelum Ia meninggal agar aku menjadi diriku sendiri tanpa memalsukan jati diriku. Namun disaat Ia sudah pergi tuk selamanya, aku baru menyadari dari semua itu. Akupun merasa kecewa dengan diri sendiri, kenapa Ia tidak bisa melihatku secara langsung dengan idealisme yang sudah terbentuk olehnya. Tapi dengan idealisme yang tinggi yang kumiliki tak memperkuat status dan posisi tawarku di pertemanan, aku tidak mempermasalahkan dan tidak memperdulikan hal itu.

Next tunggu ya!

Wahai TersepelekanTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang