24. Supermarket

3.7K 525 16
                                    

"Siena, kamu ke supermarket gih tolong beliin bahan-bahan masakan untuk nanti malem. Mama lagi nyuciin piring-piring."

Begitu kita sampai di Jeju, kita langsung menuju cottage dan gak mampir dulu kemana-mana. Di cottage ini ada hanya ada 2 kamar. Satu, kamar tidur yang biasa mama dan papa pake. Yang kedua ya kamar tidur yang biasa gue pakai kalau sedang berkunjung.

Jadi Doyoung sama Jeno harus tidur di sofa yang bisa diubah menjadi kasur alias sofa bed. Kita gak bikin kamar tamu karena cottage ini emang awalnya tempat untuk beristirahat dan menjauhkan diri dari segala macam bentuk kesibukan. Bukannya ngundang tamu terus pesta dan berakhir pada nginep disini. Tapi kan Doyoung, Jeno, sama Kane beda ya. Mereka bahkan udah menganggap keluarga gue kayak keluarganya, padahal kita ketemu juga baru sekitar satu bulan setengah tapi udah deket gini.

"Aku aja deh yang nyuci piring... mama beli bahan-bahan makanan. Nanti aku salah lagi." Sebenernya gue males ke supermarket hehe. Bilang ke mama takut salah beli bahan makanan itu hanya sebatas alasan aja.

"Mama pulangin kamu ke Seoul sekarang juga." Gue tau kok mama lagi bercanda. Masa mau membiarkan anaknya yang cantik ini dipulangin?

"Iya iya aku beli deh."

"Ini udah mama list apa aja yang harus kamu beli." Sambil memberikan secarik kertas putih yang udah tertera bahan-bahan apa aja yang harus gue beli. Kemudian mama kembali berjalan ke dapur untuk mencuci piring-piring yang udah lama gak terpakai.

"Uangnya?"

"Ambil kartu kredit di dompet mama."

"Pin?"

"Masih sama."

"Oke!" Gue langsung merogoh tas mama dan mencari dompet untuk mengambil kartu kredit yang mama maksud. Tapi kebetulan kartunya gak cuma satu. Ada tiga, gue ambil yang mana ya?
"Yang mana kartunya?"

"Warna item."

"Oke!" Gue langsung mengambil kartu kredit mama yang berwarna hitam dan bergegas mencari papa yang sedang di halaman belakang bersama Doyoung, Jeno, dan Kane. Papa lagi membersihkan pemanggang yang kini juga udah penuh sama jaring laba-laba saking lamanya kita gak kesini. Sementara Doyoung, Jeno, dan Kane lagi menikmati pemandangan danau dari halaman belakang. Jadi halaman belakangnya nyambung ke danau, gak ada tangga ataupun pagar yang menghalanginya.

"Pa." Gue menghampiri papa.

"Kenapa?" Masih fokus membersihkan alat pemanggang.

"Kunci mobil." Sambil mengadahkan tangan gue untuk meminta kunci mobil.

"Buat?"

"Disuruh mama ke supermarket."

"Ooh." Tapi masih membersihkan alat pemanggangnya tanpa memberikan gue kunci mobilnya. Lumayan jauh kalau jalan kaki, bisa 3 kilometer soalnya. Balik-balik pincang gue. Maaf, gak biasa jalan hehe.

"Pa, kuncinya?"

Lalu papa melepas sarung tangannya yang lagi dipakai untuk meraih kunci mobil di saku celananya.
"Nih, hati-hati jangan ngebut." Lalu menaruh kunci mobilnya diatas tangan gue.

"Oke!"

Sebelum gue bergegas untuk masuk lagi, Doyoung memanggil gue dari duduknya.
"Mau kemana Sie?" Tanyanya.

"Supermarket."

"Ngapain?"

"Ngebantuin ngepel nih."

"Oh semangat ya! Hahaha."

"Makasih!"
"Eh lo pada mau nitip apa? Biar sekalian dibeliin."

"Gue sih nggak."

Adoring Doyoung | Kim DoyoungTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang