Bab Pertama (A Shocking News)

65 1 0
                                    

Kehidupanku... mungkin bisa dikatakan bukanlah kehidupan yang cukup membahagiakan. Aku kehilangan orang tuaku disaat aku berumur 6 tahun. Orang tuaku mengalami kecelakaan yang merengut nyawa mereka. Mobil mereka terjatuh ke jurang yang sangat dalam. Dan sampai sekarang, aku masih belum mengetahui alasan jatuhnya mobil orang tua kami itu.

Saat kecelakaan itu terjadi aku dan kakakku yang saat itu baru berumur 7 tahun, sedang berada di rumah tertidur lelap, layaknya anak-anak sebagaimana mestinya. Berita kematian orang tuaku baru terungkap 3 hari setelah kecelakaannya.

Awalnya aku tidak kaget mengapa orang tuaku tidak pulang ke rumah selama 3 hari. Karena mereka memang mengatakan akan keluar kota selama 3 hari.

Aku masih ingat sebelum kepergiannya, orang Tuaku berpesan kepadaku.

“Fuyuki, jaga kakakmu ya! entah apa yang akan terjadi jika kau tidak memperhatikannya.”

“Baik, yah! aku pasti akan menjaga kak Mizuka apapun yang terjadi.”

“Oh iya, ibu sudah meninggalkan makanan di kulkas. Jika kalian ingin makan tinggal panaskan saja makanannya. Kau sudah tahu cara memanaskan makanan kan, Fuyuki?”

“Iya bu, aku sudah tahu.”

Melihat orang tuaku yang lebih mempercayakanku dalam mengurus makanan dan dirinya daripada ke dirinya, kak Mizuka sedikit ngambek dan marah kepada ayah dan ibuku.

“Moo... Ibu jahat! padahal kan aku yang lebih tua daripada Fuyuki ! Kenapa Fuyuki yang lebih dipercayai untuk mengurus makanan daripada aku!? Ayah juga! padahal kan aku kakaknya! Tapi kenapa malah Fuyuki yang disuruh menjagaku!? Dan apa maksudnya, jika Fuyuki tidak menjagaku, sesuatu akan terjadi pada rumah ini!?

“Ya ampun! anak ayah ini masih belum menyadari bahwa dirinya sangatlah ceroboh. Sehingga terkadang hampir selalu menjatuhkan barang yang ada dirumah ini.”

“Moo... ayah jahat! Kan hanya hampir!”

“Itupun karena kebetulan selalu ada Fuyuki di dekatmu. Jika tidak, kau akan benar-benar menjatuhkannya.”

“Ih... ayah! aku kan melakukannya bukan karena sengaja!”

“Iya-iya ayah ngerti.”

“Lagipula Mizuka, ibu menyuruh Fuyuki yang mengurus makanan kalian karena kau tidak pernah benar dalam memanaskan makanan.”

“Iya-iya, aku memang ceroboh!”

Melihat kak Mizuka marah-marah kepada ayah dan ibu, aku jadi tertawa. Aku pun mendekatinya dan memberitahukan sesuatu kepadanya.

“Iya deh, kak Mizuka! nanti kita saling menjaga dan saat memanaskan makanan nanti kita sama-sama. Jadi kita bisa melakukannya bersama-sama.”

“Ahh... ini baru adikku yang paling baik! Aku sayang Fuyuki!”

Karena terlalu senang, kak Mizuka lalu memelukku dan mencium pipiku. Karena kaget, aku pun sedikit berteriak.

“Uwaaa! Kak Mizuka kebiasaan deh! Kalau lagi senang banget pasti selalu memelukku.”

“Karena aku sayang Fuyuki!”

“Iya-iya, aku tahu. Aku juga sayang kok sama kak Mizuka. Tapi tolong berhenti memelukku. Aku merasa sesak”

Melihat sikapku, orang tua kami pun tertawa. Melihat aku ditertawakan dalam posisi seperti ini aku jadi malu.

“Nah, kami pergi dulu ya! Oh iya, ayah lupa! Kalian mau dibelikan oleh-oleh apa?”

Mendengar ayahku ingin membelikan kami oleh-oleh, kak Mizuka langsung senang dan menjawab. Tapi masih tetap dalam posisi memelukku.

“Kalau begitu, aku mau dibelikan oleh-oleh boneka beruang yang besar!”

Live for LifeTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang