[TAHAP REVISI]
"This is not my real face!" - Kim Namjoon.
Dari sisi gelap seorang IDOL terkenal. Yang memikirkan bagaimana agar semua orang tak kehilangan harapan disaat ia tak menemukan harapan dalam hidupnya.
Bukannya menemukan harapan itu. Bagai...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Pagi ini tidak ada setetes embun pun yang memberi senyuman pada manusia, tidak ada kejernihan yang bergerak perlahan melintasi daun hingga ujungnya, dan tidak ada kesejukan yang menjatuhkan diri kepelukan bumi. Bunyi gemerisik sesekali terdengar saat angin bertiup. Sedangkan sinar matahari kali ini seakan enggan memberikan kehangatannya.
Beberapa pria dengan jas hitamnya, berdiri menatap gundukan tanah didepannya. Pandangannya kosong tak berarti. Sedangkan aroma bunga melimpah disekitar mereka.
Salah satu dari mereka masih setia dengan lutut sebagai tumpuhannya, dengan satu tangan yang ia letakkan disekitaran bunga bunga yang telah disebar. Tiba tiba hujan mulai turun. Tetesan air hujan langsung mengguyurnya, bagaikan sungai mengalir turun dari langit.
"Hyung, ayo kita pergi" ajak seseorang yang telah siap memegang payung hitamnya.
Pria itu tak berkutik ataupun bergeser dari posisinya. Semua orang yang menatapnya sendu, lalu mencoba mengerti dengan meninggalkan pria itu sendirian diatas guyuran hujan.
"Apa sekarang aku benar benar tak bisa melihatmu lagi?" ia mulai berdialog sendiri.
"Padahal aku tidak mengerjarmu kemarin" sambungnya.
Alam sedang berusaha mewakili perasaan seorang Kim Namjoon sekarang. Dengan tetesan air hujan yang semakin deras mengguyurnya, pria itu masih berusaha tersenyum samar.
"Kau begitu kejam Hyerin-ah, kau pergi juga membawa anak kita bersamamu. Apa aku tak sepantas itu mendapatkan kalian berdua?" bulir bening itu ikut tersapu oleh air hujan.
Namjoon masih erat memeluk bingkai foto besar ditangannya, seorang gadis baik hati telah terkubur bersama tanah ini. Membawa serta kenangannya bersama pria yang dulu ia cintai itu. Namjoon kembali terbayang saat terakhir kali ia melihat wajah cantik itu. Peti mati Hyerin berwarna putih. Ia memilihkan gaunnya- biru periwinkle tua, karna Namjoon pikir warna itu serasi dengan matanya. Ia juga memberikan pita rambut, selimut dan cangkang laut untuk ditaruh bersama Hyerin dipetinya. Agar Hyerin punya semua yang ia butuhkan didalam tanah bersamanya.
"Mianhae... Hiks!"
"MIANHAE HYERIN-AH!" Namjoon mulai berteriak frutasi.
Keenam temannya melihatnya dari dalam mobil, mereka juga terpukul atas kepergian Hyerin dan anak yang berusaha ia jaga juga ikut bersamanya. Mereka ingin menguatkan Namjoon tapi juga tak bisa karna mereka pun sama terpukul dengan yang terjadi.
Namjoon berusaha kuat dengan terus mengusap air mata yang padahal ikut mengalir dengar air hujan. Ia berusaha tegar walau nyatanya ia sangat kehilangan sosok yang teramat ia cintai ini, dimana ia harus menemukannya lagi?
"Terima kasih gadis penyabarku" ia kembali tersenyum kecut. "Terima kasih atas cinta luar biasanya, untuk kenyamananya, untuk setiap waktumu, untuk semua kesetiaanmu. Terima kasih Hyerin-ah. Dan maaf, untuk emosiku yang berlebihan dan kadang tak beralasan, atas semua sikap manjaku!" ucap Namjoon.