Somi menegak susu yang di belikan Yohan dengan terpaksa hingga tandas, lalu menaruh gelasnya di meja. Perempuan keturunan bule itu kembali mendudukan diri di sofa dan memainkan ponselnya. Yohan saja sampai kesal, apa perempuan ini tidak punya kesibukan lain selain memijat ponselnya dan asik tertawa melihat benda pipih itu. Yohan hampir berpikir untuk menyeret perempuan itu ke dokter jiwa. Setidaknya dia memikirkan janinnya, melakukan kegiatan yang lebih bermanfaat dan membawa pengaruh baik untuk kesehatan janinnya.
Surai hitam milik pemuda itu agak berantakan tersapu semilir angin musim dingin di pagi hari. Sepertinya Yohan akan berangkat terlambat hari ini
Dering ponsel di meja membuat si pemilik tersadar dari lamunannya sedari tadi. Si surai hitam itu dari tadi hanya melamun, membiarkan rokoknya habis di asbak bahkan sojunya masih tersisa setengah tidak diminum lagi sebab Yohan sadar akan sesuatu.
"hei! Lama sekali mengangkat telfon ku! Lupa caranya mengangkat telfon atau bagaimana, heh? "oceh seseorang di seberang telfon sana. Sedangkan Yohan mendengus kesal.
"punya sopan santun atau tidak? Beri salam dulu sebelum mengoceh!" omel Yohan.
Orang di sebrang itu mendengus. "maaf. Aku khawatir. Kamu tidak minum kan? Tidak merokok juga-"
"tidak. Aku tidak melakukan keduanya, Gyul." ucap Yohan berbohong. Ya lihat saja kelakuannya beberapa menit yang lalu sebelum melamun. Bahkan saat ini masih ada asap rokok yang mengepul dari asbak.
"awas kalau sampai minum atau merokok. Pikirkan juga tentang dia." Hangyul melirihkan suaranya di kalimat terakhir.
Yohan menghela napas, menundukan kepalanya. "hmm, aku tahu.."
"berangkat kerja kan hari ini? Mau ku jemput?" tawarnya.
"tapi aku belum mandi, belum sarapan juga. Nanti kamu bisa terlambat kalau menunggu ku"
"tak apa. Sekali sekali jadi pegawai nakal." Hangyul di sebrang sana terkekeh. Yohan mendecak, tapi setelah itu ikut terkekeh.
"cepat mandi. Sepuluh menit lagi aku sampai, Yo."
"hei, bahkan aku belum sempat sarapan. Kamu mau membuat kita kelaparan?"
"kita sarapan di luar. Memang perempuan gila itu memasakan apa untuk mu, ha? Masak air saja pancinya sampai bolong. Mau di masakkan wajan gosong dan makanan beracun kamu, olehnya?"
"kamu tahu, Gyul. Aku tutup ya telfonnya. Kalau mengobrol terus kapan aku mandinya?"
Hangyul terkekeh lagi, lalu memerintah Yohan untuk segera mandi dan bersiap - siap. Hangyul sayang pada Yohan hanya sebatas sahabat, tidak lebih. Makanya dia rela melakukan apapun untuk Yohan. Ya termasuk telat berangkat ke kantor, dan memutar untuk menjeput si manis bersurai hitam itu. Padahal kalau saja Hangyul mau, rumahnya itu dekat dengan tempat kerja mereka -Hangyul, Yohan- tidak ada dua puluh menit sudah sampai, sedangkan dari rumah Yohan bisa memakan waktu tigapulih lima menit.
Sedangkan si surai hitam segera menuju kamar mandi membersihkan tubuhnya. Tidak perlu memakan waktu lama, Yohan mandi hanya tujuh menit dan tiga menitnya ia gunakan untuk rapih - rapih. Tidak lupa juga Yohan memakan permen mint untuk menghilangkan bau alkohol dan rokok di mulutnya.
"kalau ketahuan Hangyul bisa habis aku di ocehi seharian." monolognya lalu bergegas ke dapur mengambil minum.
Ada beberapa pesan yang dikirimkan sahabatnya itu bahwa dirinya sudah sampai dan sekarang menunggu di lobby apartemen.
Yohan terkejut saat keluar dari kamar mendengar suara perempuan itu tertawa lepas. Ingin sekali Yohan menyumpalnya dengan sepatu.
Saking asik dengan ponselnya Somi bahkan tidak menyadari ada seseorang yang menatapnya tajam

KAMU SEDANG MEMBACA
𝗦𝘁𝗿𝗮𝗻𝗴𝗲𝗿「 Yuvin x Yohan 」
FanfictionBagi Yuvin, Yohan sekarang hanyalah orang asing. 〔 🖇 MPREG 〕 © 2019 , ddabloews.