46. Blushing

3.7K 485 7
                                    

"Gimana Doyoung, jadi kamu serius nih sama Siena?"

Ajakan makan malem papa langsung Doyoung terima begitu gue bilang ke dia kalau papa mau makan malem berempat dengan mama, papa, gue, dan dia. Hanya aja Doyoung awal-awalnya bilang deg-degan. Soalnya kan setiap papa ngajak makan malem, Doyoung, Jeno, dan Kane itu sepaket. Gak pernah kita makan malem berempat aja. Jeno sama Kane pasti selalu ikut. Hal itulah yang membuat Doyoung deg-degan. Takut ditanya yang macem-macem, padahal kan Doyoung udah kenal papa lumayan lama.

"Serius om." Ucapnya berusaha terlihat santai seperti biasanya. Tapi sayangnya, Doyoung gak bisa akting kayak gitu. Dari tampangnya aja keliatan jelas kalau dia lagi deg-degan. Apalagi pertanyaan papa barusan adalah pertanyaan yang serius dan gak bisa dijawab dengan asal-asalan.

"Doyoung, kamu tuh deg-degan ya? Santai aja kali." Ucap mama sambil tertawa kecil melihat ekspresi Doyoung yang deg-degan sekarang.

"Hehe, soalnya sekarang Doyoung makan malem kan statusnya sebagai pacarnya Siena tante. Bukan tetangga atau temennya, jadi Doyoung deg-degan." Tangannya meraih daerah dimana jantungnya berdegup.

"Santai aja, Doy. Om sih, selama kamu gak macem-macem sama Siena santai."

"Nggak kok om! Doyoung bakal jagain Siena, 24 jam kalau perlu."

"Hahah, kamu pacarnya apa CCTV? Sampe ngejagain 24 jam gitu. Jagainnya dalam batas wajar aja ya, Doy. Gak usah berlebihan. Siena can take care of herself too." Kata papa lagi sambil menyeruput es teh lemon yang dibuat tadi sama bibi.

"Hehe siap om! Laksanakan!"

Setelah beberapa pertanyaan yang papa ajukan ke Doyoung, kita lanjut menikmati makan malem kita, huhu kasian Jeno sama Kane cuma bertiga dirumahnya sama bibi. Paling nanti habis makan malem selesai, Jeno sama Kane mama suruh kesini.

"Sini biar aku bantu." Ucap Doyoung sambil mengambil piring kotor di meja makan.

"Gak usah, kamu duduk aja sana." Kata gue.

"Udah yang baru jadian sana keluar dari sini. Mama, papa, sama bibi aja yang beresin."

Lah, mau bantuin malah diusir.

"Hehe oke deh!" Dengan girang gue meletakan piring kotor gue diatas meja di dapur, biar dimasukin ke dalem dishwasher-nya sama bibi. Begitupun dengan Doyoung yang mengikuti pergerakan gue.

Gue berjalan menuju halaman belakang untuk nyantai disana, diikuti dengan Doyoung dong pastinya.

"Siena..." ucapnya setelah kita mendapatkan posisi duduk yang nyaman.

"Kenapa?"

"Aku tau kamu baru sekarang pacaran."

"Oke, terus?"

"Kamu mau aku jadi pacar yang gimana?"

Mungkin kalau perempuan lain bakal meminta Doyoung menjadi ini itu kalau seandainya Doyoung mengajukan pertanyaan kayak barusan. Tapi gue gak mau dia jadi ini itu hanya untuk memenuhi keinginan gue. Dia manusia, bukan robot yang gue miliki.

"Aku mau kamu jadi diri kamu sendiri aja Doyoung. Aku gak mau kamu berubah hanya karena aku. Jangan pernah berubah jadi diri kamu sendiri hanya untuk memenuhi kepuasan dan keinginan orang. Aku suka kamu yang sekarang. Yang perhatian, yang jago masak, yang kalau jutek masih perhatian." Gue mengucapkannya dengan tulus dan penuh perasaan.

Meraih tangan kanan gue, Doyoung mengelus-elusnya, "yaudah, aku gak akan berubah."

"Makasih."

Gue dan Doyoung sama-sama tersenyum dibawah sinar bulan malam itu. Ditemani dengan musik yang samar-samar yang berasal dari dalam rumah– pasti papa yang nyetel musik.

Adoring Doyoung | Kim DoyoungTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang