Bagian 9

38 14 8
                                    

           Haiii             
Selamat membaca:)

🌻

Setelah menghindari lelaki yang tadi ditabraknya, Eyri berjalan cepat menuju kelas ingin menceritakan teror itu ke para sahabatnya.

Emang sih kelihatannya sepele, tapi apa salahnya untuk selalu waspada dan jangan gegabah.

Di dalam kelas, kepalanya langsung berdenyut pening karena pertanyaan para sahabatnya. Yura paling heboh!

"Astaga, Chani! Dari mana aja sih, ke toilet kok lama banget. Disusulin juga gak ada!" Amuknya murka sedari tadi tidak berhenti khawatir.

Yang lain hanya mengangguk diam tanda mendengarkan tapi bermaksud minta penjelasan.

Baru saja Eyri ingin menjawab, Anta lebih dulu menyempil di antara para gadis itu, membuat Lingga mengamuk tertahan diikuti decakan tak suka dari yang lain.

"Lo dari mana sih? Bikin panik tau gak! Gue cari dari tadi udah mutar keliling juga tapi nggak ketemu!" Anta mengomel panjang kali lebar dengan menggebu-gebu.

Eyri hanya diam memaku, tak bergerak dan juga tak berniat menjawab, Lingga menjitak kepalanya agak keras membuatnya meringis kesakitan.
"Ada mulut dipake buat ngomong! Percuma punya mulut kalo nggak keguna!"

Eyri tersentak kaget. Masyaallah, tajam sekali mulut Lingga! Untung sayang.

Perdebatan terpaksa terhenti saat seorang guru memasuki kelas membuat mereka bubar jalan kembali ke bangku masing-masing.

🌻

Di lain tempat, Vino, lelaki yang Eyri tabrak mengerutkan kening binggung ingin mangembalikan surat teror itu atau dibuang saja.

Lama bergelut dengan isi pikiran, akhirnya ia memutuskan untuk mengembalikan surat itu kepada Eyri.
Istirahat nanti, tenang saja, ia akan mengantarkan surat itu bersama para sahabatnya. Jika mereka tidak mau, akan Vino paksa. Bisa diatur!


Setelahnya, Vino kembali ke kelas dengan tangan kosong tak jadi membeli apa yang ia butuhkan.

🌻

Pelajaran kedua telah berlangsung sedari tadi, tetapi fokus Eyri sudah melang-lang buana tak tentu arah.

Anta sebagai teman sebangku merasakan keganjalan, seperti ada sesuatu yang sedang Eyri sembunyikan.

Bukannya Anta bermaksud sok tau, tetapi terlihat dari muka murung Eyri yang kelihatan sangat kentara.

Saat Eyri sedang melamun, dengan sengaja Anta menyenggol lengannya agak kuat, tak lagi fokus memperhatikan Bu Farida yang tengah mencatat soal fisika di depan sana.

Eyri nyaris terpekik andai saja telapak tangan Anta tidak segera membekap mulutnya. Eyri menatap Anta dengan sengit, jika tadi ketahuan, maka itu salah Anta!

Anta memberikan cengiran lebar.

Yang dibalas Eyri pedas, "gak jelas!"

Anta bersungut-sungut sebal, mencoba bertanya sekali lagi siapa tau kali ini Eyri dengan senang hati menjawab kekhawatiran nya.
"Kenapa sih? Ada masalah? Ayo sini cerita sama gue,"

Prince? And Princess. -> Slow Update.Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang