48. Love, Doyoung

7.4K 585 218
                                    

Haai! Di chapter 46, aku bilang kalau aku bakal update Adoring Doyoung beberapa chapter lagi. Tapi aku ubah, cuma ada 2 chapter lagi, chapter ini dan sebelumnya. So this is the LAST chapter.

Selamat membaca 🌱

🌸🌸🌸🌸🌸

Udah mau dua bulan semenjak gue dan Doyoung resmi jadian. Doyoung bisa jadi orang yang maniiis banget, bahkan lebih baik, baik, dan perhatian dibandingkan sebelum kita pacaran.

Udah beberapa minggu berlalu juga setelah kejadian dimana gue secara gak sengaja menguping pembicaraan dia. Besoknya dia udah bersikap biasa lagi, dan membuat gue juga bersikap biasa lagi. Rasa kecurigaan gue terhadap Doyoung hari itu gue buang jauh-jauh.

Kalau gue udah selesai kuliah, Doyoung biasanya menawarkan diri untuk menjemput gue. Kadang dia nunggu di tempat makan yang ada disekitar kampus untuk makan bareng sebelum akhirnya balik. Temen-temen gue awalnya kaget banget begitu tau kabar gue jadian sama Doyoung, soalnya, soalnya ya mereka gak nyangka. Doyoung ini bedanya 3 tahun sama gue dan 5 tahun sama temen-temen gue. Mungkin bagi mereka jarak 5 tahun itu banyak banget, tapi bagi gue, jarak umur gak menjadi masalah.

Tapi beberapa hari ini, gue bisa merasakan perubahan sikap yang ada di Doyoung. Dia bisa jadi orang yang perhatian banget, dan kalau ada hal yang ngeganggu pikiran dia, dia bisa berubah jadi orang yang jutek. Akhir-akhir ini gak kayak biasanya, Doyoung jadi sedikit lebih dingin ke gue. Kayaknya dia lagi ada masalah, oke bisa gue mengerti itu. Gue gak mau maksa dia tentang hal apa yang menganggu pikirannya.

Jadi, gue cuma bisa nunggu sampe akhirnya dia sendiri yang mau bilang ke gue.

"Siena, aku mau bilang sesuatu." Kata Doyoung yang lagi nyetir. Dia baru aja ngejemput gue dari kampus. Sebenernya suka gue tolak kalau Doyoung nawarin mau dia jemput atau gak. Doyoung kan pacar gue, bukan supir. Jadi bukan kewajiban dia untuk anter-jemput gue.

"Kenapa emangnya?"

"Tapi jangan marah ya." Dari nada suaranya dia kayak menyembunyikan sesuatu.

"Emangnya apa?" Jantung gue mulai berdegup dengan kencang. Gue takut kalau kata-kata yang keluar dari mulut Doyoung, gak siap untuk gue dengar.

"Besok aku, Jeno, sama Kane mau ke London. Mau ketemu sama Kak Gongmyung. Ada yang harus diurusin." Ucapnya dengan nada yang pelan.

"Oooh..." sebenernya gue agak kecewa soalnya dia baru bilang ke gue. London itu jauh banget dari Seoul, sedangkan dia baru bilang ke gue kalau dia mau ke London satu hari sebelum keberangkatannya? "Berapa lama?" Tanya gue beberapa saat kemudian.

"Bentar aja."

"Kasih tau waktunya, aku gak tau sebentarnya kamu itu berapa lama."

"Aku juga belum tau berapa lamanya, Sie." Emang hal apa sih yang mau dia urus sampe dia harus pergi ke London tapi dia sendiri gak tau berapa lama dia akan menetap di London.

"Yaudah..."

"Yaudah apa?"

"Ya pergi aja."

"Kamu gak marah?"

"Gak marah sih, cuma... kenapa kamu baru bilang sekarang? Gak dari jauh-jauh hari?"

"Aku baru beli tiketnya tadi malem."

Berarti perjalanan ini sama sekali gak direncakan. Emang semendesak itu ya sampe dia baru beli tiketnya tadi malem?

Disisi lain gue hanya menganggukan kepala gue dengan pelan. Gak tau hal apa lagi yang harus gue tanyakan ke Doyoung. Selama kita pacaran dua bulan juga kita belum pernah berantem hebat. Paling berantemnya karena masalah gue kurang teliti terus di omelin dia. Tapi dia ngomelinnya suka berlebihan, guenya jadi sensi terus marah ke Doyoung. Habis kesannya gue salaaaah banget. Padahal kan bilangnya bisa baik-baik.

Adoring Doyoung | Kim DoyoungTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang