Meskipun aku tau aku akan kalah
Tak bolehkah jika terus berperang dan tak ingin mengalah
Dari cahaya pagi yang menyusup lewat sudut mata mu
Aku tau
Perang ini tak akan mudah
Aku ingin berujar pada embun yang tengah berkelakar
Ada rahasia yang tengah terhampar
Namun terlalu hambar untuk di bongkar
Kamu dimana?
Meteor berjatuhan
Menanti mulut - mulut berucap rapat
Tentang hati yang terlampau dekat untuk di dapat
Jika meletakkan rasa pada dirimu seutuhnya adalah dosa
Maka aku ingin menjadi pendosa paling pertama
Yang menjejak sepetak hati mu lalu menanam patok disana
Aku terus mendengar diam mu yang bicara
Kau terus menggambar ingin ku yang tak sanggup berkata
Hmmmhh,,
Akhirnya kau datang
Terhambur pada malam sejuta tutur yang teratur
Kata mu,kembali ke rumah adalah hadiah yang mewah
Sementara mata mu mengikat ku pada kedalaman makna
Kata mu menggantung ku pada tanya
Kau tau,
Kita adalah kesederhanaan yang rumit
Yang terhenti pada bait yang pahit
Sial ku
Terpenjara pada bahagia dan luka atas satu nama
Yang terlalu jingga untuk di tinggal pergi
Dan terlalu biru untuk terus di mengerti
Aku belum kalah
Aku belum menyerah
Aku hanya lelah
Nanti,aku akan berdiri lagi
Sekalipun nanti aku akan patah
Hingga kapan ? Bertanya sang hingar
Ku jawab
Hingga hari ku haru
Bersama sang fajar yang membawa mu kembali ke rumah yang adalah aku

KAMU SEDANG MEMBACA
Untuk sebuah rasa yang tak dapat di eja
PoetryYang tulis dengan tulus. Yang ada dan tak sanggup ter-eja